(5) Hakekat Kompetisi adalah Pengorbanan

Hanya tersisa sedikit nasi. “Ibu silakan makan nasinya,” kata Wawan yang sambil bersiap akan berangkat sekolah SMA.

“Nasi itu buat sarapan kamu, Wawan. Kamu sarapan dulu sebelum berangkat.”
“Buat Ibu saja. Ibu kan belum makan?”
“Ibu sudah sarapan. Tadi bareng Utami.”
“Oh begitu…? Baiklah.”

Lalu Wawan makan nasi sederhana itu sekedar untuk mengganjal perut. Wawan yang memang anak yatim sejak kecil harus berjuang agar bisa lulus SMA. Tingkat kecerdasan Wawan yang biasa-biasa saja harus dia atasi dengan rajin belajar sambil membantu Ibunya mengumpulkan penghidupan. Ibunya Wawan bekerja apa saja yang diharapkan bisa menopang kehidupan mereka di hari itu.

Setelah Wawan berangkat sekolah, Ibu menahan lapar. Ibu berbohong kepada anaknya. Dia belum makan tapi bilang sudah makan. Ia berkorban demi anaknya agar mau sarapan sehingga dapat belajar di sekolah dengan baik.

Pengorbanan seorang ibu sudah dimulai jauh hari sebelum seorang anak lahir. Ibu mengandung janin dalam kondisi lemah, pusing, dan sakit-sakitan lebih dari sembilan bulan. Ketika melahirkan, ibu mempertaruhkan nyawa. Melahirkan adalah fase hidup mati bagi seorang ibu. Setelah anaknya lahir, ibu senantiasa siaga 24 jam tiap hari merawat dan mengasihi bayinya. Begitu besar pengorbanan seorang ibu. Semua ajaran etika, agama, dan filsafat mewajibkan setiap orang untuk berbakti kepada ibu.Semua bakti seorang anak tidak pernah sebanding dengan pengorbanan seorang ibu.

foto2bpengorbanan2bibu-3

Kehidupan dibangun atas pengorbanan demi pengorbanan.

Kompetisi yang tampaknya saling berebut untuk menang hakekatnya adalah sebuah ladang pengorbanan. Untuk mendapatkan seorang juara sejati harus tersedia puluhan, ratusan, bahkan ribuan pesaing yang berkorban menanggung kalah. Seorang juara sejati harus berterima kasih kepada seluruh lawannya karena sudah berkorban menjadi kalah.

Persaingan ketat anak-anak untuk masuk ke universitas ternama terjadi tiap tahun. Ketika Putri lulus masuk universitas idaman maka ia sudah mengalahkan 3 ribu pesaing calon mahasiswa lainnya. Putri adalah pemenang. Tetapi ia sudah berhutang budi kepada 3 ribu pesaing yang sudah berkorban untuknya.

Sampai di sini sudah lengkap pembagian kompetisi menjadi tiga level.

  1. Kompetisi sebagai kompetisi
  2. Kompetisi sebagai kolaborasi
  3. Kompetisi sebagai kontribusi pengorbanan

Tetapi bukankah awal pembuahan sel sperma kepada sel telur adalah kompetisi murni seperti level 1?

Pandangan sekilas persaingan sel sperma seperti kompetisi murni tetapi kajian lebih dalam menunjukkan bahwa proses pembuahan merupakan 3 macam kompetisi, kolaborasi, dan kontribusi pengorbanan. Kali ini kita akan membahas dari sisi pengorbanan.

Berikut ini adalah penjelasan mengapa sejak awal kehidupan kita sudah saling berkorban dan berkontribusi.

Pertama, dari 400 juta sel sperma hanya 1 yang berhasil membuahi. Maka 1 sel sang juara ini sudah berhutang budi kepada hampir 400 juta sel lain yang sudah rela berkorban sampai mati.

Kedua, banyak orang mengira bahwa 1 sel juara itu adalah yang paling cepat mencapai sel telur tetapi salah. Kalian pemenang bukanlah yang paling cepat, bukan pula yang paling kuat. Kalian hanya beruntung menerima pengorbanan saudara-saudara kalian. Sel yang pertama berhasil mencapai sel telur akan menabrak cangkang sel telur dan berhasil menipiskan cangkang. Namun dirinya akan mati kehabisan energi setelah menabrak cangkang.

Sel kedua pun akan menabrak cangkang telur dan behasil menipiskan cangkang telur itu. Tapi dia rela berkorban mati untuk saudara berikutnya. Proses penipisan cangkang itu terjadi berulang-ulang sampai ribuan kali. Cangkang akan semakin tipis dan siap ditembus setelah terjadi penipisan lebih dari 10 ribu kali. Penelitian menunjukkan setelah sekitar 12 ribu penipisan cangkang maka sel yang ke 12 ribu ini baru berhasil membuahi sel telur.

Jadi, kalian adalah urutan ke 12 ribu. Sudah ada 12 ribu sel yang lebih cepat, lebih kuat, mereka berkorban untuk Anda. Awal kehidupan adalah kisah pengorbanan memberi kontribusi.

Ketiga, setelah terjadi pembuahan maka terbentuk janin kini giliran ibu Anda berkorban penuh cinta untuk merawat Anda sejak dalam kandungan hingga lahir bahkan sampai tua.

Sampai di sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kehidupan di alam semesta kita bangun dengan pengorbanan demi pengorbanan. Maka kompetisi yang tampaknya seperti persaingan ketat harus kita pandang juga sebagai sebuah medan saling menolong dan saling berkorban.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
angger | agus Nggermanto | Pendiri APIQ

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s