(4) Kompetisi Lebih Buruk dari Kolaborasi, Mengapa?

Sepertinya sudah tampak jelas bahwa kolaborasi lebih bagus dari kompetisi. Tapi apakah benar demikian? Tidak diragukan kompetisi memiliki dampak negatif meski ada dampak positif. Sedangkan kolaborasi hanya punya dampak positif sehingga terus-menerus dianjurkan.

Dengan kata lain kita dapat menyimpulkan bahwa kompetisi lebih buruk dari kolaborasi? Dalam kesempatan ini saya membahas kolaborasi adalah bentuk tingkat kedua dari kompetisi itu sendiri.Maka kolaborasi tetap memiliki sisi positif mau pun sisi negatif. Kita perlu mewaspadai berbagai macam hal dalam kolaborasi.

Contoh kolaborasi negatif adalah praktek KKN, korupsi kolusi nepotisme. Mereka berkolaborasi dalam kejahatan. KKN merugikan masyarakat. Bahkan makin terbentuk kolaborasi KKN maka makin negatif dampaknya bagi masyarakat dan terutama bagi pelaku.

Tetapi kolaborasi positif tentu lebih banyak kita perlukan lagi. Kolaborasi guru, siswa, dan orang tua dalam memajukan pendidikan sangat penting. Kolaborasi pemerintah dan swasta untuk mebangun negeri tercinta adalah cara paling efektif untuk pembangunan. Kolaborasi pihak keamanan dan tokoh masyarakat untuk mendidik generasi muda sangat penting. Dan masih banyak contoh-contoh kolaborasi positif lainnya.

azoospermia-penyebab-gejala-dan-pengobatan

Kolaborasi sebagai kompetisi tingkat kedua. Dalam tulisan sebelumnya saya membagi kompetisi menjadi tiga tingkatan yaitu kompetisi yang merupakan kompetisi tingkat satu, kolaborasi yang merupakan kompetisi tingkat kedua, dan berikutnya akan kita bahas di bagian selanjutnya adalah kompetisi tingkat ketiga.

Pembuahan sel telur oleh sel sperma adalah contoh kompetisi yang lengkap. Terdapat 400 juta sel sperma yang bersaing untuk membuahi satu sel telur. Pada akhir kompetisi itu hanya ada 1 sel yang berhasil dan semua yang lain mati kalah dalam kompetisi. Jadi, sejak awal pembentukan manusia memang sudah berkompetisi bukan berkolaborasi?

Tahukah Anda bahwa proses pembuahan sel telur adalah proses kolaborasi?

Pertama, untuk dapat terjadi pembuahan harus ada kerja sama kolaborasi antara ibu dan bapak. Tanpa kolaborasi mereka tidak akan terjadi pembuahan.

Kedua, banyak orang hanya melihat sisi kompetisi jutaan sel sperma saja tanpa memperhatikan peran sel telur. Pembuahan hanya bisa terjadi bila tersedia sel telur yang sehat yang bisa berkolaborasi dengan sel sperma.

Ketiga, di antara 400 juta sel sperma, mereka berkolaborasi untuk menyerap jumlah energi yang cukup untuk melakukan perjalanan agar sampai ke sel telur. Jika hanya ada satu sel sperma maka tidak akan mampu sampai ke sel telur. Meski ada daya dorong dari pihak ayah tetapi 1 sel sperma tidak memiliki energi yang cukup untuk sampai sel telur. Hanya menghadapi satu gesekan udara saja 1 sel sperma ini kehilangan daya gerak dan pasti mati di tengah jalan.

Harus tersedia jutaan sel sperma yang berkolaborasi agar mampu menyerap energi untuk bergerak dan mampu menembus halangan semacam gaya gesek udara. Saya berikan sedikit ilustrasi tentang perlunya kolaborasi dalam jumlah besar. Ambil selembar kertas koran. Lalu lipat-lipat dan bentuklah seperti bola. Dapatkah Anda melemparnya sejauh 2 meter atau 3 meter? Barangkali Anda berhasil.

Bandingkan dengan mengambil sesobek kertas. Sobeklah sekecil mungkin. Sobek lagi untuk mendapatkan sobekan yang lebih kecil. Lalu lemparkan sekuat tenaga. Apakah Anda akan berhasil melemparnya sejauh 3 meter? Tidak akan berhasil! Meski Anda melempar sekuat tenaga tetapi sesobek kertas ini tidak sanggup menyerap energi Anda dan kalah dengan gesekan udara.

Demikian juga 1 sel sperma tidak akan sanggup menyerap energi dan pasti gagal menghadapi rintangan. Jadi ratusan juta sel sperma harus berkolaborasi untuk sukses membuahi.

Keempat, berdasar hukum statistik memang diperlukan ratusan juta sel sperma yang berkolaborasi. Karena tingkat keberhasilan membuahi hanya di bawah seper sejuta persen maka diperlukan lebih dari seratus juta sel sperma agar berpeluang ada yang berhasil membuahi sel telur. Satu sel sperma dipastikan akan gagal. Jadi perlu kolaborasi ratusan juta sel sperma. Maka seorang ayah yang ingin punya anak kadang harus melakukan terapi agar mampu menghasilkan jumlah sel sperma yang banyak lebih dari seratus juta sel.

Kelima, saling dorong untuk maju di antara ratusan sel sperma. Kita bisa membayangkan ratusan juta sel sperma ini saling bertabrakan, saling memberi dan menerima energi, saling berkolaborasi sehingga berhasil mencapai sel telur. Bila hanya ada 1 sel saja tidak akan terjadi saling dorong dan pasti gagal membuahi. Butuh kolaborasi.

Jadi, proses pembuahan yang oleh sebagian besar orang dianggap sebagai kompetisi sejatinya merupakan kolaborasi awal kehidupan. Kajian lebih mendalam menunjukkan bahawa kompetisi dan kolaborasi memang bersatu padu. Sehingga kita perlu terus menjadi agar kolaborasi dan kompetisi selalu memberi nilai positif bagi sesama.

Masih ada kompetisi tingkat ketiga yang akan kita bahas pada tulisan lainnya.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
angger | agus Nggermanto | Pendiri APIQ

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s