Prioritas Strategi Mengentaskan Kemiskinan

“Laporan Bank Dunia menyatakan bahwa penurunan kemiskinan di Indonesia terus melambat yaitu 0.7 persen untuk tahun 2012-2013. Selain itu ketimpangan juga meningkat dalam beberapa tahun terakhir yang menyebabkan orang miskin lebih sulit lagi untuk keluar dari kemiskinan.”
Semua pemimpin harus perhatian terhadap pengentasan kemiskinan. Baik perhatian ini secara tulus atau pun hanya secara pencitraan. Namun demikian pihak yang peduli dengan pengentasan kemiskinan tetap harus memanfaatkan kesempatan yang ada. Pantang menyerah menyusun strategi dan melaksanakan strategi pengentasan kemiskinan.
Seperti saya kutip di atas, kondisi kemiskinan di Indonesia memang sangat sulit. Di satu sisi orang miskin memang sulit dibantu untuk maju. Di sisi lain ekonomi kuat makin senjang meninggalkan ekonomi lemah. Dan apakah ekonomi kuat serta merta mau berbagi kekuatan ekonominya? Tapi solusi praktis akan saya tuliskan di bagian akhir.
APIQ Beasiswa
Pendidikan yang merata tetap menjadi prioritas utama untuk mengentaskan kemiskinan. Fokus dunia pendidikan ternyata tak semudah yang diharapkan. Memberikan pendidikan yang baik tidak selalu diterima oleh anak-anak miskin sebagai pendidikan yang baik. Anak-anak miskin memiliki dunianya sendiri. Dunia yang cenderung mempertahankan kondisi dalam kemiskinan.
Di sisi lain, ketika anak-anak miskin dapat pendidikan yang baik, anak-anak kaya dapat pendidikan yang lebih baik dengan biaya mahal. Dari sisi kompetisi anak orang kaya tetap yang akan menang. Bila pemerintah, seandainya komitmen, meningkatkan pendidikan menjadi lebih baik maka dipastikan pemerintah tidak akan punya anggaran yang cukup. Hanya mencapai pendidikan yang baik saja anggaran sulit apa lagi mencapai pendidikan yang lebih baik?
Strategi yang lebih cerdik adalah fokus pada pendidikan matematika. Pendidikan matematika, saya lebih yakin, akan berhasil mengentaskan kemiskinan.
A. Bagi pemerintah fokus hanya pada peningkatan pendidikan matematika akan memungkinan menghemat anggaran. Pendidikan bidang lain tetap ditingkatkan seperti biasa. Hanya saja matematika menjad lebih fokus lagi.
B. Pendidikan matematika sudah diakui di dunia merupakan faktor utama suksesnya seseorang. Maka siswa miskin yang berpendidikan matematika baik akan sukses di sekolah dan akhirnya berhasil terentaskan dari kemiskinan.
C. Bagi siswa miskin, fokus kepada matematika lebih memudahkan mereka meraih prestasi.Bidang yang lain tetap dipelajari sewajarnya.
D. Bakat anak-anak miskin di bidang matematika relatif sama dengan bakat anak-anak orang kaya di bidang matematika. Bahkan, barangkali anak miskin berbakat matematika sebenarnya lebih banyak dari pada orang kaya. Kita bisa menduga karena populasi anak miskin memang lebih banyak dari anak orang kaya. Maka secara kompetisi anak miskin dapat memenangkan persaingan.
E. Bagi anak-anak miskin yang berbakat biasa maka mereka akan menguasai matematika pada tingkat yang baik, cukup baginya untuk memasuki dunia pendidikan yang baik dan berpeluang untuk mendapatkan bea siswa.
Dengan beragam pertimbangan di atas, saya mengusulkan agar kita fokus mengentaskan kemiskinan dengan meningkatkan pendidikan matematika bagi masyarakat luas. Saya sendiri sudah merintis program pendidikan matematika yang terbukti dapat diterima masyarakat luas serta menyediaka program beasiswa APIQ untuk kalangan ekonomi lemah.
Bagaimana menurut Anda?
Salam hangat…
angger | agus Nggermanto | Pendiri APiQ

2 responses to “Prioritas Strategi Mengentaskan Kemiskinan

  1. Pak angger.. saya tertarik dengan statement ” Pendidikan matematika sudah diakui di dunia merupakan faktor utama suksesnya seseorang. Maka siswa miskin yang berpendidikan matematika baik akan sukses di sekolah dan akhirnya berhasil terentaskan dari kemiskinan.”

    Apakah ini ada risetnya? Terbukti secara ilmiah? Karena menurut saya ini sangat menarik.
    Mohon penjelasannya. Terimakasih pak.

    • Terima kasih Bu Difiya…
      Ada risetnya dan tentu terbukti secara ilmiah bahwa pendidikan matematika yang baik mendorong seseorang menjadi sukses.
      Hanya saja penelitian ini tersebar di beragam media, buku, artikel, laporan, dll. Barangkali akan menjadi lebih baik lagi bila ada mahasiswa yang menjadikan tema ini sebagai skripsi atau tesis.
      Salam hangat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s