Budaya Antri Mulai Dilarang!

Budaya antri yang dinilai banyak kalangan sebagai ciri orang yang berbudaya tinggi kini mulai dilarang. Bukan hanya dilarang, mereka yang memaksa diri untuk tetap mengantri bahkan akan mendapat denda uang. Mengapa bisa begitu? Terjadi perubahan apa pada budaya manusia?

Jepang adalah negara yang paling terkenal dengan budaya antri paling disiplin. Di saat yang sama Jepang juga negara pertama yang menerapkan denda kepada mereka yang antri. Bahkan denda kepada mereka yang antri mulai menyebar ke negara lain termasuk Indonesia.

Antri Dilarang

Jurnalis: Apakah benar di Jepang mulai dilarang antri?
Pakar Jepang: Benar.
Jurnalis: Bukankah Jepang dapat menjadi negara maju karena menjunjung tinggi budaya antri? Mengapa budaya yang bagus itu kemudian ditinggalkan?
Pakar Jepang: Awalnya budaya antri memang penting dan itu membuat Jepang jadi negara maju. Tetapi saat ini budaya antri justru merugikan masyarakat dan negara. Jadi budaya antri harus dihilangkan atau setidaknya dikurangi sampai taraf minimal.
Jurnalis: Bisa memberikan contoh yang lebih spesifik?

Pakar Jepang: Misalkan Anda akan membayar di sebuah toko. Apakah lebih baik mengantri di kasir dengan antrian panjang? Atau lebih baik bila tanpa antri dapat langsung bayar? Atau misalnya Anda melewati gerbang jalan tol apakah lebih baik mengantri 1 jam atau lebih baik langsung bayar?
Jurnalis: Tentu lebih baik bila bisa langsung bayar.
Pakar Jepang: Antri di jalan tol, di kasir, atau antri di tempat lain membuat Anda rugi, masyarakat rugi, dan negara jadi rugi.
Jurnalis: Tapi bagaimana Anda dapat mengenakan denda kepada mereka yang antri?
Pakar Jepang: Dengan cara bertahap. Kami dapat menerapkan pertama ke lembaga-lembaga percontohan lalu meluas ke berbagai bidang.
Jurnalis: Mohon contoh yang lebih jelas!

Pakar Jepang: Baik. Apakah di Indonesia ada orang yang memakai mobil Jepang?
Jurnalis: Banyak.
Pakar Jepang: Ketika Anda akan servis ke bengkel maka sering harus antri. Tapi bila Anda servis ke bengkel resmi maka Anda bisa memilih antri atau tidak. Bila antri Anda akan mendapat denda 100.000 rupiah (10% biaya servis). Bila Anda memilih tidak antri, begitu datang tepat waktu maka Anda langsung dilayani, Anda mendapat diskon keringanan 100.000 rupiah. Sedangkan bila antri Anda harus menunggu lama untuk dilayani.
Jurnalis: Oh…jadi ini sudah terjadi di Indonesia juga?
Pakar Jepang: Benar. Sudah diterapkan di Indonesia.

Jurnalis: Tapi bagaimana Anda yakin bahwa budaya antri tidak penting?
Pakar Jepang: Anda yang belajar matematika atau engineering di perguruan tinggi bisa belajar teori antrian. Menangani antrian bukan soal mudah secara matematika mau pun secara praktis. Bila Anda dapat mencegah terjadinya antrian itu lebih bagus.
Jurnalis: Jadi, matematika itu lebih penting dari budaya antri?
Pakar Jepang: Itu kesimpulan Anda! Yang penting bukan budaya antri tetapi budaya mendahulukan kepentingan bersama.
Jurnalis: Maksud Anda?
Pakar Jepang: Ketika kita melihat budaya antri harus dihilangkan demi kebaikan bersama maka budaya antri memang harus dihilangkan.
Jurnalis: Terima kasih atas penjelasan Anda.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
angger | agus Nggermanto | Pendiri APiQ


 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s