Dari Slilit Sang Kiai Sampai Cangkir Sang Kiai

Kira-kira 15 tahun yang lalu saya membaca cerita dari bukunya Emha Ainun Najib tentang “Slilit Sang Kiai”. Cerita tersebut inspiratif dan penuh pelajaran berharga. Silakan Anda membaca lagsung kisah tersebut.

Tetapi ringkasan ceritanya kira-kira seperti di bawah ini.

“Seorang Kiai yang alim dan soleh diundang untuk kenduri, selametan. Sudah menjadi tradisi setelah berdoa maka sang tuan rumah bersedekah dengan salah satunya menjamu para tamunya. Termasuk Sang Kiai ikut menikmati jamuan makan malam itu.

Setelah selesai jamuan, Sang Kiai pulang. Dalam perjalanan pulang Sang Kiai merasa ada slilit yang mengganjal di sela-sela giginya. (Slilit: sedikit sisa makanan biasanya daging). Kebetulan di pinggir jalan terdapat pagar kayu yang sudah rusak. Sang Kiai mengambil sedikit kayu dari pagar itu dan menjadikannya sebagai tusuk gigi. Selesai sudah masalah slilit Sang Kiai.

Beberapa tahun berlalu. Karena memang sudah tua dan tiba waktunya, Sang Kiai meninggal dunia. Salah seorang muridnya bermimpi bertemu Sang Kiai.

Tentu saja di alam sana Sang Kiai memperoleh banyak kebaikan. Tetapi ada satu hal yang mengganjal yang dapat menghalangi seluruh kebaikan Sang Kiai.

Sepotong kayu kecil yang dijadikan Sang Kiai untuk mengambil slilit itu bukanlah kayu miliknya. Sang Kiai minta kepada muridnya untuk menemui pemilik kayu pagar itu dan memohon keikhlasannya.”

Dalam perjalanan mudik kemarin, saya bercerita dengan keluarga besar saya hal yang mirip. Saya punya teman yang rumahnya dekat dengan tempat pembuangan sampah, gunung sampah.

Pertama kali bermain ke rumah teman yang dekat gunung sampah itu saya tidak kuat dengan bau sampah yang begitu menyengat. Saya heran mengapa teman saya dan keluarganya sama sekali tidak merasa terganggu dengan bau gunung sampah yang menyengat.

Setelah lebih dari sepuluh kali berkunjung ke gunung sampah itu ternyata saya juga sudah tidak merasakan bau menyengat dari gunung sampah. Bukan karena gunung sampah menjadi tidak bau tetapi karena indera penciuman saya sudah imun atau kebal terhadap bau gunung sampah.

Dan masih banyak kisah tentang imun atau kebalnya manusia terhadap suatu masalah.

Saya kenal dengan seorang Kiai. Sebagaimana layaknya seorang kiai, Sang Kiai ini adalah orang yang baik, alim, dan soleh. Tetapi tiba-tiba Sang Kiai ini jatuh sakit berat.

Pemeriksaan dokter menunjukkan Sang Kiai terserang penyakit bermacam-macam dan berganti-ganti. Operasi yang berkali-kali dan menelan biaya jutaan rupiah tampakya tidak memberikan hasil yang signifikan.

Sang Kiai mencoba pengobatan alternatif. Hasilnya pun tidak signifikan. Kondisi kesehatan Sang Kiai semakin memburuk.

Sampai akhirnya Sang Kiai bertemu dengan kiai lain yang ahli menyembuhkan. Sebut saja namanya Gus Marzuki. Sang Kiai berkunjung ke rumah Gus Marzuki menjalani terapi. Dan hasilnya memang Sang Kiai merasakan kemajuan.

Tetapi Gus Marzuki menyatakan tidak mampu berbuat banyak lagi. Kecuali Gus Marzuki menjalankan terapi di rumah Sang Kiai. Sang Kiai tentu saja tidak keberatan menjalani terapi di rumahnya sendiri.

Tibalah waktu yang dijanjikan Gus Marzuki berkunjung ke rumah Sang Kiai untuk memberikan terapi. Seperti biasa, sebelum melakukan apa-apa, Gus Marzuki mendapat hidangan sekedarnya dan secangkir kopi.

Tiba-tiba Gus Marzuki merasa diperintahkan untuk bertanya sesuatu,

“Ini cangkir milik siapa?”

Sang Kiai mengira bahwa cangkir itu adalah miliknya yang sudah dibeli oleh Bu Nyai. Tetapi tidak. Bu Nyai mengira bahwa itu cangkir pembelian dari anak-anak atau cucu-cucunya. Ternyata tidak. Anak-anak dan cucu-cucu mengira bahwa cangkir itu adalah pemberian dari murid-murid. Ternyata tidak.

Jadi, cangkir ini milik siapa?

Setelah dicari-cari tidak juga menemukan siapakah pemilik cangkir itu. Gus Marzuki menyarankan agar Sang Kiai bersedekah, beramal atas nama sang pemilik cangkir itu.

Dari langkah awal di atas terapi dimulai. Secara berangsur-angsur Sang Kiai mengalami kemajuan.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

One response to “Dari Slilit Sang Kiai Sampai Cangkir Sang Kiai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s