Tongkat Sakti Abu Nawas

Alkisah, Abu Nawas hendak menjual sapinya. Mungkin karena banyak yang harus disiapkan untuk menyambut bulan Ramadhan dan Idul Fitri jadi banyak kebutuhan.

“Hai Abu, mau kau bawa ke mana kambingmu?” tanya seseorang di jalan.
“Aku mau menjual sapiku ini seharga 7 juta rupiah,” jawab Abu Nawas.
“Ah…sini biar aku beli kambingmu seharga 700 ribu,” kata orang tersebut.

Abu Nawas melanjutkan perjalanan. Sambil heran, “Sapi kok dibilang kambing.”

Abu nawas berbapasan dengan orang lagi di jalan.

“Hai Abu, mau kau bawa ke mana kambingmu?” tanya orang itu.
“Ini sapi bukan kambing. Aku mau menjual sapiku ini,” jawab Abu.
“Sini biar aku beli kambingmu dengan harga 700 ratus ribu.”

Tentu saja Abu Nawas menolak dan berlalu. Abu mulai berpikir siapa yang salah? Bukankah ini memang sapi? Ia menggosok-gosok matanya ingin meyakinkan yang dilihat sapi atau kambing.

Tak lama berjalan Abu bertemu orang lagi.

“Abu mau ke mana? Wah bawa kambing segala?”
“Aku…mau jual… kambing…ku,” jawab Abu agak ragu.
“Berapa harga kambingmu?”
“700 ratus ribu,” jawab Abu masih dengan ragu.
“Sudah sini, biar aku beli kambingmu 650 ribu. Ini uangnya.”

Abu Nawas menerima tawarannya itu. Ia menerima uang 650 ribu dan piaraannya dilepas.

Setelah pulang sampai di rumah, istri Abu marah-marah. Mana ada seekor sapi dibeli dengan harga 650 ribu rupiah? Harga seekor sapi di pasaran adalah 7 juta rupiah.

Abu sadar bahwa ia sedang ditipu oleh komplotan 3 orang jahat. Abu menyusun strategi pembalasan.

Abu pergi ke hutan mencari kayu yang paling bagus untuk ia jadikan tongkat.

Menjelang waktu berbuka puasa, maghrib, Abu pergi ke restoran Padang yang mewah. Abu berbuka dengan makan sepuasnya masakan padang. Tiga orang yang telah mengelabui Abu juga tampak makan di situ.

Setelah makan, Abu mengacungkan tongkatnya. Pemilik restoran itu mengangguk dan membiarkan Abu pergi tanpa membayar sepeser pun.

Hari berikutnya Abu nawas juga mencari restoran mewah untuk makan berbuka. Setelah makan dengan puas, Abu mengacungkan tongkat kayunya. Pemilik restoran mengangguk dan membiarkan Abu pergi tanpa membayar.

Tiga orang komplotan berpikir bahwa tongkat Abu Nawas memang sakti.

Hari ketiga juga begitu lagi. Tongkat kayu Abu Nawas benar-benar sakti.

Setelah makan, tiga orang komplotan itu langsung menemui Abu Nawas.

“Abu, biar aku beli tongkatmu itu,” kata salah seorang dari mereka.
“Tongkat ini tidak dijual.”
“Harga berapa pun kami siap membelinya.”
“Memang tongkat ini tidak dijual. Tapi karena kamu memaksa, harganya 10 juta.”
“Ah… 6 juta saja,” mereka menawar.
“Kalau tidak mau…ya sudah,” jawab Abu ringan saja.

Mereka berpikir sejenak…

“Baik aku beli. Ini uangnya 10 juta rupiah.”

Esok harinya komplotan itu hendak menikmati kekuatan tongkat kayu. Mereka makan sepuasnya di restoran mewah. Setelah makan mereka berdiri sambil mengacungkan tongkat kayu.

“Hei…apa-apaan kalian ini. Bayar dulu makanannya,” kata pemilik restoran.
“Bukankah Tuan membiarkan Abu Nawas tidak bayar dengan mengacungkan tongkat kayu ini?” kata salah seorang dari mereka.
“Betul. Abu Nawas telah menitipkan uang 200 ribu sebelumnya ke saya. Ayo bayar makanannya atau saya laporkan ke polisi!”

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s