Soal Cerita: Langkah Penting Pemodelan Matematika

Sudah menjadi kisah klasik bahwa soal cerita adalah menjadi soal yang sulit bagi siswa-siswa kita. Tetapi bukankah setiap anak menyukai cerita? Bukankah setiap anak menyukai komik? Bukankah setiap anak menyukai film kartun?

Kita memerlukan beberapa jembatan khusus untuk menyatukan matematika dengan kehidupan sehari-hari. Meski pada kenyataannya matematika sudah menyatu dengan kehidupan sehari-hari kita.

Paman APIQ mengusulkan beberapa ide untuk mengembangkan jembatan soal cerita itu.

1. Terbuka dengan beberapa penafsiran yang berbeda.

Terdapat 5 ekor burung di pohon mangga. Seorang pemburu berhasil menembak 1 ekor burung tersebut. Tinggal berapa burung sekarang?

Pemahaman sekilas akan memberikan model matematika:

5 – 1 = 4.

Jawaban: Tinggal 4 ekor burung yang masih hidup.

Seorang guru perlu dengan kreatif mengapresiasi pemahaman siswa yang seperti itu. Tetapi siswa lain dapat memahaminya dengan berbeda.

Karena 1 tertembak maka yang 4 terbang. Jadi,

5 – 4 = 1.

Jawaban: Tinggal 1 burung yang berada dekat pohon mangga tersebut.

Sekali lagi, kita sebagai pendidik perlu mengapresiasi pemahaman siswa semacam ini. Siswa yang lain dapat juga memiliki pemahaman lain lagi.

Banyaknya burung sekarang tetap 5, yaitu 1 ekor telah tertembak dan 4 ekor terbang.

5 = 1 + 4.

Nah…masih banyak penafsiran yang lain lagikan? Kita perlu mengembangkan pemikiran terbuka untuk menyikapi ini.

2. Menggunakan istilah bahasa yang jelas secara eksplisit.

Terdapat 2 roti di meja. Kemudian ditambah 3 roti lagi di meja. Ada berapa roti di meja sekarang?

Soal cerita semacam ini mestinya cukup jelas. 2 + 3 = 5. Karena dalam soal juga digunakan istilah “ditambah”. Bagaimana pun kita juga harus terbuka dengan beberapa pemahaman yang berbeda.

3. Menggunakan bahasa baku dengan baik dan benar.

Bahasa Indonesia yang baik dan benar telah menyediakan cara untuk mengungkapkan maksud dengan jelas. Tetapi persoalan muncul karena anak-anak kita lebih sering menggunakan bahasa pergaulan dari pada bahasa baku. Sehingga anak-anak kita mengalami kesulitan ketika membaca soal cerita dengan bahasa baku.

Bagaimana pun kita perlu membuat jembatan antara dua bahasa ini. Di satu sisi kita perlu mengenalkan bahasa baku kepada anak-anak. Di sisi lain kita juga harus berbicara dalam “bahasa kaumnya”, bahasa pergaulan anak-anak.

Wolframalpha.com tampaknya juga masih kesulitan memahami bahasa manusia ini. Tetapi yang menarik dari wolframalpha.com adalah dia mengungkapkan berbagai macam asumsi yang digunakan. Dengan cara ini kita dapat menguji apakah asumsinya sesuai dengan harapan kita atau tidak.

Jika suatu saat wolframalpha.com berhasil memahami soal cerita dengan asumsi yang tepat maka itu akan menjadi penemuan terhebat dari teknologi komputer.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat….
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

One response to “Soal Cerita: Langkah Penting Pemodelan Matematika

  1. Slamet siang, berbicara pemodelan maka perlu kita tahu apa yang dimaksud dengan MODEL dalam Mat. yakni : suatu struktur atau bentuk hubungan yang merupakan perwujudan dari alam pikiran terhadap suatu masalah, dalam setiap model matematika terdapat himpunan unsur2 yang merupakan abstraksi dari kenyataan dalam suatu masalah dan hubungan antara hal/ unsur2 tersebut; terdapat variabel2 dan persamaan / pertidaksamaan; Semoga dapat dianggap sebagai saran, Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s