Langkah Praktis Melejitkan Prestasi Siswa

Setiap orang pasti ingin melejitkan prestasi siswa. Tetapi mengapa hanya sedikit siswa yang prestasinya melejit? Apakah memang hanya siswa tertentu saja yang prestasinya dapat melejit? Ataukah setiap siswa berpotensi untuk melejitkan prestasi?

Paman APIQ bercita-cita melejitkan prestasi setiap siswa melalui matematika kreatif. Paman APIQ telah berhasil melejitkan prestasi puluhan siswa, ratusan siswa, dan akan menembus ribuan siswa dengan bantuan keluarga besar APIQ serta dukungan orang tua siswa.

Dalam tulisan ini Paman APIQ berusaha menuliskan beberapa ide dan pengalaman agar bermanfaat bagi sesama. Sekaligus Paman APIQ mengharap masukan-masukan agar kita dapat lebih baik lagi dalam melejitkan prestasi siswa.

Apa saja langkah praktis untuk melejitkan prestasi siswa?

Berikut adalah langkah-langkah praktis yang diyakini oleh Paman APIQ.

1. Paradigma Mental Juara
2. Melejitkan Prestasi Sejati bukan Prestasi Semu
3. Pendekatan Multi Cerdas
4. Dari Dunia Masa Depan
5. Teknologi Digital Di Mana-mana
6. Bahasa, Gambar, dan Media
7. Keseimbangan Irama

Mari kita bahas lebih mendalam.

1. Paradigma Mental Juara

Setiap guru atau orang tua harus memiliki paradigma mental juara. Setiap guru harus meyakini bahwa setiap anak adalah juara. Keyakinan dalam hati kecil seorang guru menyatakan bahwa anak didiknya adalah juara. Bila ada anak didiknya yang tidak juara itu bukan karena siswa yang tidak juara. Tetapi karena guru atau kita belum menemukan cara membangunkan juara dalam diri siswa.

Paman APIQ pernah berjumpa dengan seorang anak yang sedang tidak memiliki pekerjaan. Paman APIQ menawari ke anak itu apakah ia mau belajar. Anak tersebut mengiyakan. Selanjutnya Paman APIQ membimbing anak itu.

Banyak orang meragukan bahwa Paman APIQ akan berhasil membimbing anak itu meraih sukses. Mengingat anak itu adalah anak biasa dari orang tua rakyat kecil. Tetapi Paman APIQ memiliki paradigma mental juara. Setiap orang adalah juara. Berhari-hari, berbulan-bulan Paman APIQ tidak berhasil membuktikan keyakinannya. Dengan pantang menyerah Paman APIQ, terus mencari sisi keunggulan dari anak itu.

Singkat cerita, anak itu akhirnya sukses berhasil menjadi juara. Anak itu mulai menemukan keunggulan dan keunikan dirinya. Bahkan ia telah menjadi trainer profesional yang diselenggarakan di hotel berbintang. Sampai saat itu pun banyak tetangga dan saudara anak tersebut yang tidak percaya bahwa ia menjadi trainer di hotel berbintang.

Dalam kesempatan yang lebih luas Paman APIQ menyebarkan paradigma mental juara melalui berbagai cara kreatif belajar matematika. Misalnya banyak anak yang sudah berkecil hati ketika berhadapan dengan teorema Pythagoras. Dengan cara kreatif Paman APIQ, anak-anak menjadi lebih mudah menangani teorema Pythagoras. Anak-anak menjadi yakin bahwa dirinya adalah juara.

2. Melejitkan Prestasi Sejati bukan Prestasi Semu

Banyak orang salah berpikir bahwa juara adalah berhasil memenangkan kompetisi. Mereka berpikir bila seorang anak berhasil ranking I maka anak itu adalah berprestasi.

Padahal ranking I adalah prestasi semu. Belum tentu prestasi sejati.

Apakah prestasi sejati itu?

Prestasi sejati adalah prestasi yang dapat diraih oleh setiap orang dan memberi kontribusi positif. Meraih nilai 100 dalam bidang matematika dan bahasa adalah prestasi sejati.

Karena setiap anak berpotensi untuk meraih nilai 100. Menjadi ranking I bukan prestasi sejati. Karena hanya 1 orang yang berpotensi menjadi ranking I dari puluhan atau ratusan siswa. Bahkan bila ada seorang anak hanya berhasil meraih nilai 60 mungkin saja ia menjadi ranking I karena siswa yang lain hanya memperoleh nilai 50. Jadi, ranking adalah prestasi semu.

Prestasi sejati tidak harus mengalahkan orang lain. Prestasi sejati hanya perlu menjadi hari ini lebih baik dari hari kemarin dan memberi kontribusi positif kepada semesta.

Prestasi sejati dapat kita raih dalam bidang matematika, teknologi, seni, olah raga, agama, sastra, sosial, dan lain sebagainya.

Apakah prestasi semu tidak penting? Penting. Prestasi semu tetap penting. Tetapi yang lebih penting adalah prestasi sejati. Prestasi semu adalah sekedar bumbu. Misal Paman APIQ membantu setiap anak berprestasi sejati memahami sepenuhnya persamaan aljabar. Di saat yang sama, Paman APIQ menciptakan game aljabar yang seru.

Kadang-kadang seorang anak menang dalam game aljabar. Di saat yang lain ia kalah bermain game aljabar. Menjadi juara game aljabar adalah prestasi semu. Tetapi penting untuk membuat aljabar menjadi seru. Anak-anak menjadi lebih senang belajar aljabar dengan game aljabar. Mereka akhirnya berhasil meraih prestasi sejati.

3. Pendekatan Multi Cerdas

Setiap anak terlahir cerdas bakan jenius. Sehingga Paman APIQ menyebut setiap anak memiliki otak multi cerdas. Hanya saja masing-masing anak menampilkan bentuk kecerdasan dengan cara yang beragam. Kecerdasan majemuk lebih baik dalam memandang kecerdasan dari hanya menggunakan kecerdasan tunggal yang terkenal dengan nama IQ.

Seperti kita telah paham peran EQ – kecerdasan emosi – sangat penting melebihi IQ. Berikutnya kecerdasan spiritual juga mendapat posisi yang sangat penting. Secara lebih luas, kecerdasan majemuk mengakui multi kecerdasan: logika matematika, bahasa, intrapersonal, interpersonal, visual, musik, kinestetik, natural, dan eksistensial.

Untuk melejitkan prestasi siswa kita perlu menjadikan kecerdasan majemuk sebagai landasan. Paman APIQ menciptaka suatu permainan yang melatih kecerdasan emosi anak sekaligus kecerdasan matematika. Permainan tersebut diberi nama super marble. Mainan seru yang terdiri dari berwarna-warni kelereng.

4. Dari Dunia Masa Depan

Orang tua yang sukses cenderung menjerumuskan anaknya. Mengapa? Orang tua yang sukses kadang terlalu yakin dengan sukses dirinya. Kemudian memaksa anaknya untuk mengikuti formula sukses orang tua itu. Tetapi formula itu sudah usang. Anak-anak kita memerlukan formula baru untuk melejitkan prestasi. Bukan mengulang cara-cara lama yang sudah usang.

Anak-anak kita adalah duta masa depan. Mereka bukan replika atau duplikat orang tua dari masa lalu. Pengalaman kita di masa lalu hanyalah bahan pelajaran bagi anak-anak kita di masa kini.

Untuk melejitkan prestasi siswa, kita harus berusaha melihat visi masa depan, kemudian menariknya ke masa kini. Teknologi digital, teknologi nano, bioteknologi, pemaknaan agama, kehidupan sosial baru, dan masih banyak tantangan-tantangan masa depan yang perlu menjadi perhatian. Tugas kita adalah membekali anak-anak dengan modal sebaik-baiknya agar mereka berhasil melejitkan diri di masanya sendiri.

Paman APIQ, misalnya, mengamati anak-anak semakin menyukai dunia animasi dan komik. Karena itu Paman APIQ dan keluarga besar APIQ mendesain tokoh-tokoh animasi dan komik untuk pembelajaran matematika. Terbukti anak-anak menyukai membaca komik dan pada saat yang sama belajar matematika.

5. Teknologi Digital Di Mana-mana

Anak mana yang tidak kenal internet? Mengapa anak-anak lebih cepat belajar komputer, internet, hp dari pada orang tua mereka?

Tampaknya teknologi digital adalah dunia anak-anak kita. Sehingga teman saya menyebut, bahwa anak-anak kita adalah generasi digital, native digital. Sedangkan kita adalah imigran digital. Anak kita sejak lahir sudah mengenal komputer. Masih usia kanak-kanak mereka sudah biasa bicara melalu hp. Sedangkan kita baru pada usia 20an mengenal komputer. Pada usia 30an atau 40an baru mengenal hp. Tentu anak-anak berbeda dengan kita.

Mengapa kita tidak memanfaatkan teknologi digital tersebut untuk melejitkan prestasi siswa?

Paman APIQ berkreasi melalui internet, menciptakan berbagai macam materi ajar melalui internet. Banyak anak dari seluruh penjuru Indonesia menceritakan bahwa mereka berhasil melejitkan prestasi dengan belajar melalui internet Paman APIQ. Bukan hanya siswa yang terbantu melalui program internet APIQ tetapi juga mahasiswa, guru, dan dosen dari berbagai belahan bumi Indonesia.

6. Bahasa, Gambar, dan Media

Gambar bermakna seribu gambar. Tetapi media bermakna sejuta gambar.

Jadi, untuk melejitkan prestasi kita tinggal menciptakan beragam media yang menarik bagi anak-anak kita. Misal Paman APIQ menciptakan game Kombi Milenium yang menjadi media belajar aritmetika berhitung cepat. Dengan kombi milenium anak-anak riang gembira bermain. Pada saat yang sama mereka berlatih berhitung cepat penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Paman APIQ tidak harus bersikeras menjelaskan konsep aritmetika. Tetapi anak-anak sendiri yang ingin menguasai konsep itu.

Kemudian Paman APIQ menciptakan game kombi aljabar. Permainan ini juga membuat anak-anak penasaran untuk terus main dan memenangkan game. Lagi-lagi, pada saat
yang sama anak-anak belajar memahami konsep aljabar. Dengan media yang tepat, anak-anak berusaha melejitkan prestasinya sendiri.

7. Keseimbangan Irama

Bagaimana pun kita membutuhkan keseimbangan. Tidak cukup hanya berprestasi di bidang pelajaran (atau karir) saja. Kita tetap perlu seimbang, memiliki sisi spiritual yang bermakna, hubungan sosial yang harmonis, kesehatan fisik yang bugar, rasa seni yang apresiatif, dan intelektual yang terus diasah.

Sudahkah Anda berolah raga hari ini?

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

2 responses to “Langkah Praktis Melejitkan Prestasi Siswa

  1. Salam hangat, Upaya Mas Angger ini perlu mempelajari Disertasi prof Ken Kawan Soetanto asli Sby tapi jadi jago di Jepang yang meraih 4 gelar DR di berbagai bidang yang berbeda antara lain tentang pendidikan, dia berhasil mendidik anak2 yang dianggap bodoh menjadi mumpuni bahkan jadi hebat dengan metode Soetanto yakni mendaur ulang manusia yang dianggap bodoh atau yang tak memiliki semangat belajar sama sekali supaya memiliki motivasi belajar dan bermanfaat bagi sesamanya. Semoga Mas Angger jadi pionirny metode beliau di Indonesia, Wass

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s