Matematika Politik dan Kekuasaan

Meski matematika ilmu pasti sedangkan politik dan kekuasaan penuh ketidakpastian tetapi ada beberapa titik temu antara keduanya.

Mumpung masih segar dalam ingatan saya ingin menuliskan sebagian kecil titik temu matematika dan politik kekuasaan.

Beberapa bulan lalu saya heran melihat papan iklan yang sangat besar di Jakarta. Mungkin ratusan meter persegi ukuran iklan itu (puluhan meter kali puluhan meter). Lebih heran lagi, tidak lama berselang, kota Bandung juga dibanjiri iklan yang sama. Iklan apakah gerangan?

Ratusan iklan tersebut berbunyi kira-kira, “AM for demokrat 1”.

Berbagai pertanyaan mucul dalam pikiran saya.

1. Siapakah lawan AM? Kok lawan AM tidak beriklan sama sekali? Sedangkan AM memberondong dengan beragam iklan.

2. Apakah SBY mendukung AM? Karena sepanjang iklan yang saya lihat tidak ada pernyataan dukungan eksplisit.

3. Bagaimana dengan masalah keuangan?

Belakangan saya tahu bahwa pertarungan sebenarnya berlangsung di Bandung. Dan pemenangnya… adalah … dengar-dengar adalah AU.

Jadi apa pesan matematika untuk dunia politik kekuasaan?

“Jika Anda bukan mayoritas maka jangan buru-buru menentukan sikap,” itulah pesan matematika sederhana untuk politik kekuasaan. Apa maksudnya?

Poros Tengah telah memainkan senjata matematika ini dengan baik. Waktu itu Amin Rais dengan baik memenangkan pertarungan di awal-awal reformasi. Tetapi yang lebih menang lagi justru Gus Dur.

Mari sedikit hitung-hitungan matematika dengan beberapa asumsi.

Asumsikan PDI P menang pemilu dengan suara terbesar 35%.
Golkar menantang di urutan kedua dengan suara 30%.

Jelas tidak ada suara mayoritas dalam hasil pemilu itu. Amin Rais dkk dengan cekatan membentuk poros tengah. Anggap poros tengah berhasil menghimpun suara 25%.

Meski poros tengah hanya kekuatan kecil tetapi memberi suara alternatif. PDI P tampak dengan yakin mengajukan Mega sebagai Capres. Golkar tidak setuju. Poros tengah bermain cantik mengajukan Gus Dur sebagai Capres.

Seperti kita tahu, Gus Dur menang. Mengapa? Bukan karena Poros tengah memiliki suara terbesar. Tetapi Golkar yang tidak mendukung Mega dapat saja berpindah ke Gus Dur. Dengan asumsi kasar, Gus Dur mengantongi suara 25% dari Poros tengah dan 30% dari Golkar.

Dalam kasus ini meski PDI P terbesar nomor 1 tetapi dia bukan mayoritas. Maka jangan buru-buru mengambil sikap.

Kejadian seperti ini tampaknya bisa berulang pada kasus AM di Bandung.

Mari berasumsi,

AM memiliki suara terbanyak 40%.
AU urutan kedua dengan suara 35%
MA urutan ketiga dengan suara 25%

Dengan asumsi di atas jelas bahwa AM urutan pertama tetapi bukan mayoritas. Iklan besar-besaran AM dapat membuat lawan AM sadar diri dan seperti kita tahu ….tampaknya AU menyalip dukungan suara dan memenangka pertarungan.

Tetapi kasus SBY di pemilu 2009 lebih menarik lagi. Dengan melihat-lihat situasi terakhir. Memperhatikan kekuatan lawan. SBY yakin mengantongi suara mayoritas (asumsikan 55%) maka ia memilih calon wakil presiden dari non partai.

Dengan suara mayoritas itu, siapa pun wakilnya, tetap mengantar SBY memenangkan pertarungan. Dan dengan mengambil wakil non partai membuat kekuasaan SBY tak terpecah. Atau SBY tidak berhutang kekuasaan.

Jadi, pesan dari matematika,

“Jika Anda bukan suara mayoritas maka jangan buru-buru menentukan sikap. Meskipun Anda adalah suara terbanyak.”

Tetapi jika Anda adalah suara mayoritas tentu terserah Anda. Hanya saja risiko dan tanggung jawab ada dalam diri Anda.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat….

4 responses to “Matematika Politik dan Kekuasaan

  1. Memang banyak politisi tdk jeli memanfaatkan teori peluang dalam Matemetika atau karna tdk pernah tahu atau tdk mau tahu, AM rupanya hanya mengandalkan pundi2nya yang memang banyak terbukti dari iklan yang bejibun, tapi lupa menghitung (bagaimana mau hitung kalau kurang ngerti Matematika) sdh berapa lama beliau di lingkungan wilayah BIRU dan berapa besar peluang untuk menang, mestinya lain kali beliau perlu menggandeng pak Angger sebagai tim sukses, Wassalam

  2. Ping-balik: Politik dan Kekuasaan diluar logika karena bukan Matematika? | duniasithole·

  3. Ping-balik: Politik dan Kekuasaan diluar logika karena bukan Matematika? | Humor Dewasa & yang Lucu-Lucu·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s