Model Sistem Menggeser Beban: Solusi Matematika Kreatif APIQ

Kira-kira 10 tahun yang lalu saya terpesona dengan buku Learning Organisation (Five Disciplines) karya Peter Senge. Saya sendiri selalu tertarik dengan beragam tema pembelajaran. Peter Senge dengan bagus membahas pembelajaran dalam konteks organisasi.

Salah satu topik yang menarik buat saya adalah Peter Senge memanfaatkan model-model sistem untuk menjelaskan suatu fenomena. Model “menggeser beban” sering kita jumpai dalam dunia nyata. Sesuai namanya, model “menggeser beban” tampak seperti menguntungkan. Karena bebannya telah digeser. Tetapi dalam jangka panjang, beban yang digeser tersebut dapat menjadi beban yang lebih berat.

Maksudnya?

Marilah kita ambil contoh beberapa proses belajar matematika. Paman APIQ mengamati bahwa proses belajar matematika dengan cara konvensional penuh beban. Tentu saja anak-anak merasa terbebani dengan cara belajar konvensional dan memaksa siswa harus memahami matematika.

Tetapi anak-anak memiliki cara kreatifnya sendiri untuk menangani beban belajar matematika ini. Salah satu cara cerdik untuk mengatasi beban belajar matematika adalah dengan menghafal matematika.

Proses menghafal atau memori lebih ringan dari proses memahami konsep matematika. Anak yang cerdik menghafal matematika tersebut akhirnya berhasil masuk perguruan tinggi favorit di Indonesia, sebutlah ITB. Masalah mulai muncul…

Ketika anak itu kuliah di ITB belajar kalkulus maka ia terbebani berat. Karena belajar matematika kalkulus di ITB tidak dapat hanya dengan dihafal. Tetapi membutuhkan pemahaman konsep yang baik.

Anak di atas adalah contoh “menggeser beban”.

Sementara siswa lain yang ketika SMA belajar matematika dengan cara pemahaman kreatif maka ketika belajar kuliah kalkulus di ITB justru berkembang pesat. Paman APIQ senantiasa terus berinovasi untuk menemukan cara-cara kreatif agar anak-anak lebih mudah belajar dan memahami matematika.

Contoh menggeser beban tidak hanya berlaku untuk usia SMA. Bahkan usia anak-anak TK atau SD pun juga terjadi. Misal anak-anak, awal SD, cukup sulit memahami penjumlahan belasan. Maka jalan pintas menggeser beban banyak menjadi alternatif. Suruh saja anak-anak sekedar untuk menghafalnya. Beban akan muncul kembali kelak di kelas 4 atau 5 SD.

Paman APIQ juga sering memperhatikan tema geometri. Mengapa luas segitiga adalah setengah alas kali tinggi?
“Ya memang begitu rumusnya!”
Contoh menggeser beban lagi.

Untuk dua contoh di atas Paman APIQ telah menyiapkan beragam media untuk meringankan beban anak belajar memahami konsep matematika. Misal untuk penjumlahan belasan, Paman APIQ telah menyiapkan onde milenium dan kartu milenium yang membantu anak-anak menguasai konsep matematika dengan menyenangkan.

Sedangkan untuk geometri segitiga, Paman APIQ juga telah banyak menyediakan mainan dan lembar belajar yang meringankan anak-anak menguasai konsep geometri matematika.

Paman APIQ tidak berusaha untuk menggeser beban. Tetapi berusaha untuk meringankan beban. Lebih tepatnya meningkatkan daya angkat siswa sehingga siswa merasa lebih ringan. Berbagai inovasi pembelajaran matematika kreatif APIQ bertujuan meningkatkan daya angkat siswa terhadap beban tugas siswa.

Laksana mesin dapat membantu kita memindahkan beban yang berat. Bukan ukuran beban yang lebih ringan. Tetapi kemampuan daya angkat kita yang meningkat dengan memanfaatkan mesin. Mungkin saja malahan beban lebih berat tetapi terasa ringan karena daya angkat telah meningkat.

Akhir-akhir ini Paman APIQ menekuni permainan kubus Rubik. Hasilnya?

Mainan Rubik dapat kita gunakan untuk mengajarkan konsep aljabar abstrak yang biasanya menjadi materi kuliah tingkat S2 atau tingkat akhir. Dengan Rubik yang sudah diinovasi Paman APIQ konsep aljabar abstrak bahkan dapat dipelajari oleh anak-anak usia SD. Asyik kan…?

Jadi, saran Paman APIQ,

“Berhati-hatilah dengan situasi menggeser beban. Lebih baik tingkatkan daya angkat kita.”

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

3 responses to “Model Sistem Menggeser Beban: Solusi Matematika Kreatif APIQ

  1. salam .

    wah semakin mantap aja ni Paman Apiq .

    menurut rumus anak saya untuk menggeser beban harus menggunakan Roda biar mudah di geser .

    tapi menurut paman Apiq meningkatkan daya angkat kita …ya masuk di akal juga .

    pokoknya semangat selalu paman

  2. Jadi, peribahasa bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian – pun dapat kita geser ya pak.

    Dengan metode konvensional, anak-anak digembleng dengan berbagai konsep dasar agar kelak tidak mengalami kesulitan saat menimba ilmu dengan jenjang lebih tinggi.

    Kita tidak menggeser beban yang harus dipikul anak untuk rentang waktu kemudian (menunggu anak memiliki kekuatan ilmu untuk mengangkatny). Beban tetap sama, namun beban itu digeser kepada para guru, orang tua untuk menciptakan inovasi-inovasi baru agar beban yang sama terasa ringan untuk anak-anak.

    Menjadi jago rubik dengan logika pun, tidak harus menunggu anak sekolah pada jenjang S2. Geser beban ini kepada kita untuk menciptakan inovasi kreatif agar anak tanpa sadar telah belajar konsep untuk peng-gelar S2.

    Apakah demikian pak?

    Jika demikian, bagaimana kita (orang tua / guru) agar saat menerima limpahan beban ini pun terasa lebih ringan?

    Salam kreatif

  3. Salam kenal uncle apiq

    Menarik juga baca ulasan dari paman keberatan ga kalau saya minta alamat email paman
    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s