Psikologi Matematika untuk Membangun Percaya Diri

Dua pendekatan berbeda dapat kita tempuh untuk mendidik dan mengajarkan matematika kepada anak-anak. Khususnya bila kita lihat dari sisi psikologi anak.

Pertama dengan menghancurkan rasa percaya diri mereka. Sehingga mereka sadar bahwa dirinya tidak mengerti apa-apa dan bersedia untuk belajar.

Kedua dengan membangun rasa percaya diri mereka. Sehingga mereka sadar dapat melakukan banyak hal dan ingin belajar apa saja yang dapat mereka pelajari.

Bagaimana menurut Anda?
Apakah sebaiknya menggunakan pendekatan pertama atau kedua?

Tentu, biasanya tidak selalu ekstrem salah satu dari dua pendekatan di atas. Tetapi jelas salah satu akan lebih dominan dari yang lain. Lebih dominan manakah, pendekatan pertama atau kedua?

Paman APIQ lebih memilih dominan pendekatan kedua. Paman APIQ lebih setuju bagaimana membangun rasa percaya diri pada anak-anak kemudian mengajak mereka berpetualang denga matematika.

Al kecil, usaia 4 tahun, sedang senang-senangnya belajar perkalian. Al sudah menguasai konsep perkalian. Bahkan Al selalu minta untuk belajar perkalian.

Apakah anak usia 4 tahun sudah waktunya belajar perkalian?

Tentu saja Paman APIQ memperkenalkan konsep perkalian dengan menggunakan beragam permainan matematika kreatif APIQ. Onde milenium dan mino milenium adalah permainan matematika kreatif yang asyik untuk memperkenalkan konsep perkalian.

Al merasa percaya diri bahwa dirinya sudah menguasai konsep perkalian. Sehingga Al terus-menerus ingin belajar matematika lagi dan lagi.

Bagaimana Paman APIQ membangun rasa percaya diri Al?

Paman APIQ mengusulkan urutan belajar matematika (aritmetika, aritmatika) dasar adalah:

1. Konsep penjumlahan (porsi: banyak)
2. Konsep pengurangan (porsi: sedikit)
3. Konsep perkalian (porsi: banyak)

Poin penting dari ide Paman APIQ di sini adalah memberikan pengurangan dengan porsi kecil. Kemudian langsung melangkah ke konsep perkalian dengan porsi besar.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

4 responses to “Psikologi Matematika untuk Membangun Percaya Diri

  1. Pengurangan seharusnya porsinya banyak, begitu pula dengan pembagian. Sebab ini masalah karakter. Biasanya, orang sudah mendapat uang yang banyak, biasanya sulit dikurangi atau dibagi kepada mereka yang miskin dan lemah…

  2. Wah, keren juga nih…..
    Tapi diajari juga seperti kata Mas eusebius biar rajin menghitung juga rajin menyumbang.
    Tetep semangat buat tulisan yang bagus!

  3. Saya lebih setuju dengan pendekatan ke 2. Dengan membangun percaya diri anak, mereka akan semakin tertarik dan merasa dirinya mampu.
    Dalam belajar akan semakin mudah.

    Lain dengan pendekatan pertama. Anak menjadi rendah diri. Merasa dirinya bodoh. Dan tidak mau lagi belajar!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s