Manfaat Matematika dalam Kehidupan Sehari-hari: Kesalahan Soal UN/UASBN SD

Tentu saja saya setuju bahwa matematika bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Saya yakin Anda juga setuju. Paman APIQ juga setuju itu.

Tetapi Paman APIQ mengingatkan bahwa tidak semua matematika itu bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Mungkin saja matematika tidak memiliki sisi praktis dalam kehidupan sehari-hari. Matematika mungkin saja hanya bersifat teoritis saja. Manfaat matematika kadang dapat kita rasakan baru setelah puluhan tahun kemudian.

Saya pernah terkejut ketika membaca kurikulum matematika SD di negeri Indonesia tercinta. Mengapa? Hampir dalam setiap pokok bahasan selalu ada penekanan ” dalam kehidupan sehari-sehari”.

Matematika tidak selalu praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Meski demikian matematika sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari – bahkan kehidupan masa depan.

Soal UN/UASBN SD lebih mengejutkan saya lagi. Mungkin karena ingin menunjukkan matematika “dalam kehidupan sehari-hari” maka dalan UASBN SD 2009 terdapat soal cerita tentang FPB (faktor persekutuan terbesar).

Kira-kira soal UASBN tersebut adalah…

Pak Hadi membagikan 96 kg beras dan 64 bungkus minyak goreng ke para penduduk sampai habis. Bila setiap penduduk menerima bagian sama rata maka berapa penduduk paling banyak yang dapat menerima bantuan dari Pak Hadi?

Pertama, memahami masalah seperti di atas adalah cukup rumit. Meski seperti persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari tapi, kita tahu, bahwa jarang sekali kita menghadapi persoalan seperti di atas.

Kedua, mungkin saja maksud pembuat soal adalah mengarah ke konsep FPB. Tetapi kita juga tahu bahwa FPB (dan KPK)adalah konsep dalam himpunan bilangan bulat positif. Sedangkan 96 kg beras dapat kita bagi-bagi menjadi bilangan pecahan semisal 1/2 kg.

Ketiga, mari kita selesaikan soal di atas dengan menganggap berlakunya konsep FPB.

FPB dari
96 dan 64 adalah 32 (Selesai; karena 32 dapat membagi 96 dan 64)

Jadi jawaban akhir adalah 32 orang atau 32 penduduk sebagai penerima bantuan.

Siswa yang kreatif dapat saja memiliki ide yang lain.
“Mengapa hanya 32 orang? Kita dapat membaginya untuk 100 orang. Masing-masin memperoleh 96/100 bagian dan 64/100 bagian.”

Argumen siswa tersebut masuk akal. Tetapi soal UASBN adalah pilihan ganda. Dalam pilihan jawaban tidak terdapat pilihan 100. Bahkan kita juga dapat membaginya untuk 1000 orang. Bukankah begitu?

Saya setuju soal di atas sebagai latihan soal tetapi bukan soal ujian semacam UASBN.

Bila kita hendak membuat soal matematika tentang FPB maka kita perlu memastikan bahwa kita sedang membicarakan bilangan bulat positif. Paman APIQ selalu menekankan konteks dan batasan-batasan dalam berlatih matematika. Meski pun Paman APIQ sering menyatakannya secara tersirat.

Paman APIQ menyarankan agar mengganti contoh soal di atas dengan sesuatu yang dihitung secara bulat. Contoh komputer, handphone, kalkulator, dan lain-lain.

Jadi contoh soal di atas dapat sedikit kita modifikasi…

Pak Hadi membagikan 96 komputer dan 64 kalkulator kepada penduduk…

Komputer dan kalkulator sudah dengan jelas memastikan berhitung bilangan bulat positif.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

6 responses to “Manfaat Matematika dalam Kehidupan Sehari-hari: Kesalahan Soal UN/UASBN SD

  1. Logika terhadap menerima bagian sama rata kok saya artikan bahwa jumlah beras dan minyak goreng diterima oleh penduduk dengan jumlah yang sama ya pak. Misal jika si A dapat 1 bungkus minyak goreng, maka jumlah beras pun 1 bungkus (96/64 kg).

    Dengan demikian, jumlah maksimal (kalo minyak goreng tidak dapat di pecah-pecah lagi) 64 penduduk.

    Ada yang salah nggak dengan logika saya ini.

    Apalagi…, jika soal tersebut keluar di bulan ramadhan, mana yang lebih baik, lebih banyak jumlah penduduk yang mendapat bagian dengan catatan masing-masing dengan porsi yang sedikit ATAU penduduk menerima porsi lebih banyak namun hanya sebagian kecil saja yang menerima.

    Terima kasih

    Salam.

  2. mau melihat berapa banyak jari kita juga bisa pakai ronsen kan pak??
    tapi jauh lebih mudah kalau kita urutkan saja angka dari ujung jari yang satu sampai ujung yang lain.

    begitu juga soal diatas,bisa juga dibagi pada 1000 orang, tapi kan hasilnya jadi pecahan susah ditimbang. jauh lebih mudah kalau kita pakai FPB.

    dan lagi soal itu cocok untuk contoh kehidupan sehari-hari, kalau kita membagi beras dan minyak 1/64 kg kan ya saru, boleh tapi kan tidak etis,

    lalu kalau mau dicari gampangnya dibagi 2 atau 4 yang pasti angkanya bulat juga bisa, tapi kan maunya yang kebagian rejeki semakin banyak kan semakin baik. kalau tidak peduli yang penting sudah membagi-bagikan rejeki juga tidak baik kan?? itulah yang juga kita coba sampaikan pada anak.

    begitu menurut saya
    terima kasih

  3. Saya setuju dengan Anda Ulfah.

    Sebagai soal latihan maka soal di atas menantang kreativitas anak didik.
    Jadi anak-anak dapat berpikir seperti Anda.
    Anak-anak yang lain boleh juga berpikir dengan cara yang lain lagi.
    Itulah pendidikan: latihan berpikir.

    Tetapi menurut saya soal di atas menjadi masalah karena pilihan ganda dengan asumsi hanya ada satu jawaban yang benar.

    Padahal bila anak-anak diberi kebebasan berpikir seperti Anda pasti lebih bagus lagi.

    Salam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s