Onde Milenium APIQ Melalui Komputer: Belajar Matematika

Melahirkan ide-ide kreatif dapat saja hanya melibatkan proses berpikir. Tanpa harus terimplementasi di dunia fisik. Tetapi inovasi berbeda. Inovasi harus teruji di dunia nyata.

Einstein, yang cinta fisika, membayangkan dirinya naik pesawat yang bergerak dengan kecepatan cahaya. Lalu Einstein berniat mencukur kumisnya. Ia bercermin untuk melihat kumisnya.

Apa yang terjadi?

Cermin itu kosong. Tidak ada bayangan kumis dan wajah Einstein. Ini bukan film horor. Ini fenomena fisika!

Bagaimana bisa begitu?

Secara fisika, kita dapat melihat suatu pohon karena pohon itu memancarkan cahaya ke mata kita. Lalu mata kita menggarap cahaya itu dan mengirimnya ke otak.

Bukan sebaliknya. Mata kita memancarkan sesuatu sedemikian hingga kita dapat melihat pohon itu.

Jika pohon itu berada dalam ruang gelap gulita – tidak ada cahaya – maka kita tidak dapat melihat pohon itu. Meski pun mata kita melek. Menatap ke arah pohon tersebut. Karena pohon tersebut tidak memancarkan cahaya ke mata kita.

Ketika bercermin, kita dapat melihat bayangan wajah kita di cermin. Wajah kita memancarkan cahaya ke arah cermin. Lalu cermin itu memantulkan cahaya ke mata kita. Jadilah mata kita dapat melihat bayangan wajah di cermin. Tentu saja cahaya bergerak dengan kecepatan cahaya = c.

Kembali ke imajinasi Einstein. Ia tidak dapat melihat bayangan wajah di cermin. Karena cermin bergerak dengan kecepatan cahaya (c) maka tidak ada cahaya dari wajah yang berhasil menyentuh cermin.

Bayangkan Anda menyusul mobil yang bergerak di depan Anda 5 meter. Mobil itu bergerak dengan kecepatan 40 km/jam. Sedangkan Anda juga bergerak dengan naik mobil lain yang berkecepatan sama 40 km/jam. Maka Anda tidak pernah berhasil menyentuh mobil yang di depan Anda itu. Anda akan selalu berda 5 meter di belakangnya.

Demikian pula cahaya tidak akan berhasil menyentuh cermin yang bergerak di atas pesawat dengan kecepatan cahaya (c). Tetapi secara nalar ini susah diterima. Masa, kita melihat cermin kosong?

Einstein terus memutar otaknya. Lahirlah teori relativitas Einstein yang terkenal itu. Ini sebentuk kreativitas seorang Einstein. Kreatif adalah proses mental untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Sesuatu itu dapat berupa proses, produk, atau ide itu sendiri.

Tetapi ide kreatif Einstein ini tidak berhenti menjadi ide kreatif saja. Teori Enstein ini banyak diuji di laboratorium dan praktik lapangan bidang teknologi canggih. Ide kreatif ini melangkah menjadi sebuah inovasi yang fenomenal.

Jadi, inovasi dapat kita katakan sebagai kelanjutan dari kreativitas. Ujung akhir dari sebuah kreativitas menjadi titik awal inovasi. Implementasi dari ide-ide kreatif berbentuk inovasi-inovasi. Tetapi juga tidak terlalu salah bila ada orang yang menyamakan antara kreatif dan inovatif. Ada juga yang menyatakan bahwa inovasi adalah bagian dari kreativitas. Ada juga yang berpandangan sebaliknya, kreativitas adalah bagian dari inovasi.

Bagaimana menurut Anda?

Menurut saya tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah orang yang hanya mendebatkan kreativitas dan inovasi tetapi tidak pernah berkreasi mau pun berinovasi. Bebas, apa pun pandangan Anda. Tetapi teruslah berkreasi dan berinovasi. Jadi, selamat berkreasi! Selamat berinovasi!

Bagaimana dengan “Inovasi Pembelajaran Matematika Kreatif” APIQ?

APIQ ingin berkreasi.
APIQ ingin berinovasi.
APIQ konsisten untuk terus berkreasi dan berinovasi.

APIQ berkreasi membuat program pembelajaran berupa power point onde milenium. Tentu saja kami dapat berkreasi dengan beraneka ragam power point di komputer. Tetapi kami tidak puas bila hanya berkreasi. Kami mengujicobakan power point ini ke para siswa. Lalu kami perbaiki. Jadilah program power point sebagai sebuah inovasi.

Doel, siswa termuda APIQ (3 tahun 6 bulan), kemarin mencoba bermain power point onde milenium. Doel bermain penjumlahan dasar dari awal sampai bilangan 10. Dengan senang dan bersorak, Doel memainkan komputer itu.

Bermain sekaligus belajar. Bagi Doel sendiri power point ini bermanfaat ganda. Belajar, bermain, dan bangga. Doel bangga karena ia merasa sudah dapat mengoperasikan komputer. Belum berumur 4 tahun tapi sudah bisa mengoperasikan komputer. Salut untukmu Doel!

Anda juga dapat memperoleh program power point tersebut dengan klik di sini. Program power point ini dapat kita gunakan untuk anak usia kanak-kanak sampai orang dewasa.

Selamat berkreasi! Selamat berinovasi!

Salam
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

7 responses to “Onde Milenium APIQ Melalui Komputer: Belajar Matematika

  1. Ping-balik: Cara Mandiri Belajar Matematika Kreatif APIQ « APIQ: Aritmetika Quantum·

  2. Ping-balik: Dampak Aritmetika Jari, Sempoa, atau Jarimatika « APIQ: Matematika Kreatif Aritmetika Quantum·

  3. Pak Angger, akhirnya saya dan keluarga berhasil juga melihat yang namanya onde milenium, dadu milenium (meskipun pengen minta buat anak saya…ngelunjak deh) dan pembelajaran di APIQ Bawean, terima kasih banyak ya…sukses deh buat APIQ.
    Salam juga buat mbak Cicik, kemaren ga sempat pamitan, soalnya hp-ngedrop baterainya….

  4. pak, saya tukang pembuat program yang tertarik dengan pendidikan anak usia dini. Saya melihat software-software anak masih terlalu dangkal dan secara keilmuan, sangat sedikit hasil nyatanya. saya ingin membuat software pendidikan anak yang secara teori dan praktik bisa dipertanggungjawabkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s