Pecahan yang Menyatukan Orang Tua dengan Anak

Kebersamaan dengan seluruh anggota keluarga menjadi barang mahal akhir-akhir ini. Orang tua berangkat pagi, jam 5, sebelum anak bangun dari tidur. Pulang dari kantor jam 5 sore. Tetapi kondisi lalu lintas Jakarta sangat macet. Dari pada terjebak macet berjam-jam di jalan, mereka menunda pulang ke rumah. Menunggu dulu di kantor sambil mengerjakan beberapa kerjaan yang belum selesai. Jam 8 malam baru beranjak pulang. Sampai di rumah sekitar jam 9 atau 10 malam. Si kecil, putra-putrinya, sudah tidur semua. Hari demi hari berlalu begitu.

Berangkat kerja sebelum anak bangun. Pulang kerja setelah anak tertidur.  Kapan satu keluarga bersama-sama?  

Sedikit berbeda ketika hari libur, Sabtu, dan Minggu. Ayah ibu sudah capek bekerja seminggu penuh. Mereka ingin santai sejenak di akhir pekan. Ayah ibu nonton TV atau home teather. Anak-anak juga capek sudah sekolah seminggu penuh. Mereka ingin santai sejenak. Mereka main PS, Nitendo, atau game yang lainnya. Mereka bersama dalam satu rumah. Tetapi hati mereka?

… … …

 ”Iva, ini Papa punya mainan.”

”Apaan?”

”Coba kamu bikin lingkaran, 3 lingkaran dari potongan-potongan ini!” 

Iva mengamati. Atur sana atur sini. Berpikir sejenak. Coba-coba lagi. 

”Ini, jadi 1 lingkaran!”

”Hore….Iva berhasil satu lingkaran.” Kami bersorak bareng-bareng. Iva terus mencoba lagi.

Permainan sederhana ternyata mengasyikkan. Saya menamai permainan ini sebagai lingkaran milenium. Bagi orang dewasa, seperti biasa-biasa saja. Bagi anak kita yang masih kanak-kanak, permainan ini mengasyikkan. Ketika mengamati Iva yang asyik memainkan lingkaran milenium, saya mulai terbawa menikmati permainan itu juga. 

Lingkaran milenium terdiri dari bebarapa lingkaran yang sudah saya potong-potong. Potongan-potongan ini sengaja berukuran ½ lingkaran, ¼ lingkaran, atau lainnya. Di satu sisi potongan itu kami tuliskan nilai dari potongan itu: ½ , ¼ atau lainnya. Kami mengacak potongan-potongan lingkaran itu. Tugas Iva adalah menyusun kembali menjadi lingkaran penuh. Tantangan yang menggelitik bagi anak usia 4 tahun sampai 10 tahun. Apalagi jika dipertandingkan antara beberapa anak dan orang tua. Siapa cepat dia dapat. 

Adra, yang masih 5 tahun, juga menyukai lingkaran milenium ini. Adra jadi lancar berhitung nilai pecahan. 

” ¼ + ¼ = ½ ya…?” Adra bertanya.

” Betul!” jawab saya. 

Saya perhatikan, Adra mengutak-atik potongan yang bernilai ¼ digabungkan dengan yang bernilai ¼ . Lalu dia amati. Dibandingkannya dengan yang bernilai ½ . Sama besar. Adra menyimpulkan bahwa ¼ + ¼ = ½ . Sebuah permainan dan pembelajaran yang menyatu dengan asyik. 

”1/8 + 1/8 = …berapa?” saya tanya pada Adra.

”1/4,” jawab Adra ringan.

”Kok tahu?”

”Nih…1/8, nih…1/8 lagi. Jadi ¼ kan?” Adra menunjukkan potongan 1/8 yang ia gabungkan dengan potongan 1/8 menjadi setara dengan ¼.  

”Kalau ¼ + 1/8 jadi berapa ya…?” saya mencoba menantang. 

Mana mungkin anak TK akan dapat menghitung pecahan semacam itu? Meski pun anak itu sudah les Kumon atau sempoa, saya ragu. Apakah Kumon mengajarkan berhitung pecahan melalui permainan? Apakah sempoa mengajarkan aritmetika pecahan? Bagaimana dengan Jarimatika dan Sakamoto? Adra hanya ikut les kursus matematika APIQ. Dia memang sudah menguasai berhitung perkalian dan pembagian. Tetapi hanya untuk bilangan asli yang nilainya kecil. Berhitung pecahan adalah masalah lain.  

Kami di APIQ memang selalu berusaha mengajarkan matematika secara fun dan menyenangkan. Beberapa alat mainan edukatif yang dulu hanya terbatas untuk di kelas APIQ, kini sudah mulai kami jual ke masyarakat. Tujuan kami adalah agar putra-putri kita menjadi lebih mudah belajar matematika. 

Lingkaran milenium adalah salah satu mainan edukatif andalan APIQ. Permainan ini untuk mengajarkan konsep aritmetika. Permainan lingkaran milenium mengubah perhitungan pecahan yang memusingkan menjadi permainan yang mengasyikkan. Jangan meremehkan pecahan.

Saya dengar dari seorang dosen di unversitas swasta di Bandung yang mengatakan bahwa ada seorang mahasiswa yang menghitung:

 ½ + 1/3 = 1/5. 

Tentu saya terkejut. Saya heran. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa berpikir seperti itu? Dia bukan mahasiswa fakultas sosial. Dia bahkan seorang mahasiswa fakultas teknik. Tetapi saya tidak menyalahkan mahasiswa tersebut. Mahasiswa itu hanyalah sekedar korban. Korban dari sistem pendidikan kita. Dia adalah produk dari sistem pendidikan kita. Percuma kita menyalahkan mahasiswa itu. Akan lebih baik kita memperbaiki cara kita ”memproduksi” anak-anak kita. 

Mari kembali ke Adra. Apakah ia akan berhasil menyelesaikan tantangan: 

¼ + 1/8 = …….. 

Adra mengutak-atik potongan ¼ dan potongan 1/8. Dia berpikir serius. Dia menemukan jawaban… 

”1/4 + 1/8 sama dengan ¼ lebih 1/8.”

”Betul! Maksudnya ¼ lebih 1/8 itu berapa?” 

Dia sadar bahwa jawabannya sudah benar. Tetapi belum sederhana. Dia sendiri ingin memperoleh jawaban sederhana itu. Dia menemukan ide. Dia tukarkan potongan ¼ dengan potongan 1/8 sebanyak dua potong. Kini Adra sudah sangat dekat dengan yang diingankannya.

Adra berteriak, ”3/8…….!”

”Betul!” kami meloncat-loncat gembira. Tos tangan sesama anggota keluarga. 

Liburan bersama keluarga yang mengasyikkan. Sudah fun, dapat ilmu lagi. Lingkaran milenium menjadi media yang menyatukan keluarga dengan suasana riang.      

Bagaimana menurut Anda? 

Salam hangat…  (agus Nggermanto; pendiri APIQ) 

APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ membuka peluang bagi Anda yang berminat membuka cabang franchise. Anda dapat menghubungi APIQ di apiq.wordpress.com atau (022) 2008621 atau 0818 22 0898 atau quantumyes@yahoo.com . APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum.

7 responses to “Pecahan yang Menyatukan Orang Tua dengan Anak

  1. Ping-balik: Cara Mudah dan Asyik Belajar Matematika Pecahan « APIQ: Matematika Kreatif Aritmetika Quantum·

  2. Ping-balik: Belajar mengenal konsep pecahan « Belajar dari anak-anak·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s