Kreativitas Tanpa Batas: Matematika Berkualitas

Matematika sering dijadikan korban tanpa pertanggungjawaban. Matematika sebagai tertuduh. Matematika dituduh sebagai sebuah bidang disiplin otak kiri saja. Matematika hanya mengandalkan kemampuan analisis, logika, perhitungan. Matematika dituduh tidak mengembangkan kreativitas, tidak memacu kerja otak kanan yang imajinatif.

Matematika sering dilawankan dengan seni. Seni, musik misalnya, dianggap sebagai bidang yang sangat kreatif. Musik menuntut imajinasi tingkat tinggi dan melibatkan emosi. Musik identik dengan otak kanan dan intuisi. Sebaliknya, matematika dituduh sebagai kaku. Tanpa emosi.

Tuduhan yang tidak adil!
Tidak pernah disidangkan di pengadilan lagi.

Berlawanan seratus delapan puluh derajat dari tuduhan itu, matematika justru medan kreativitas tanpa batas. Matematika mengaktifkan otak kanan. Lihatlah perkembangan sains berkat matematika! Lihatlah kemajuan teknologi berkat matematika! Lihatlah kemajuan peradaban karena matematika!

Tetapi, tuduhan itu juga tidak 100% salah.
Pun tidak 100% benar.

Saya mengamati banyak sistem pembelajaran matematika yang sangat kaku di sekolah-sekolah kita. Sistem pembelajaran yang kaku ini seakan membenarkan tuduhan-tuduhan di atas. Sayang sekali…

Saya melihat seorang siswa SD telah mampu mengerjakan soal ini:

4 x 2 = ….

Siswa itu menjawab 4 x 2 = 8. Benar!

Beberapa hari kemudian siswa tersebut mendapat soal yang mirip, tetapi pilihan ganda:

4 x 2 = …..

a. 4 + 4
b. 2 + 2 + 2 + 2
c. 10

Apa jawaban Anda ketika mendapat soal seperti di atas?
Anda memilih jawaban a. 4 + 4?
Tapi gurunya ingin jawaban yang b, jadi Anda salah.

Atau Anda memilih jawaban b. 2 + 2 + 2 + 2?
Tapi gurunya ingin jawaban a, Anda salah!

Bila begini caranya, matematika memang tidak memicu kreativitas.

Guru akan lebih kreatif bila ia membenarkan jawaban a, kemudian bertanya, “Mengapa kamu memilih jawaban a tersebut?” Guru yang kreatif juga membenarkan jawaban b, serta bertanya, “Mengapa kamu memilih jawaban yang ini?” (Saya ingin menulis masalah ini lebih detil, kelak tentang aksioma, teorema, dan definisi dalam matematika).

Pengalaman kami di APIQ justru menunjukkan bahwa matematika adalah medan kreativitas tanpa batas. Dalam bidang geometri, APIQ memperkenalkan konsep luas, keliling, volume sejak anak usia TK. Tentu semua dengan cara bermain yang mengasyikkan. Jangan kaget bila seorang anak TK telah dapat menghitung volume balok dan kubus.

Untuk memperkenalkan konsep geometri, APIQ memanfaatkan permainan Dadu Milenium. Dadu Milenium ini sebuah alat yang berupa ratusan dadu.

“Pernahkah Anda melihat ratusan dadu?”

Seratus dadu sangat berbeda dengan satu dadu. Satu dadu biasa-biasa saja. Seratus dadu adalah pemandangan yang mempesona, mengagumkan, amazing!

Di APIQ, anak-anak kami biarkan bermain dengan ratusan dadu. Mereka secara kreatif menyusun dadu itu membentuk kelinci, singa, manusia, rumah, mobil, dan apa saja. Anak-anak memang kreatif.

Di sela-sela anak-anak (TK) sedang bermain, guru APIQ kadang-kadang menyela,

”Berapa luas segi empat ini?” sambil menunjukkan segi empat yang terdiri dari 8 dadu.
“Luas itu apa?” anak-anak balik bertanya.
”Luas itu adalah banyaknya dadu.”
”Delapan…” kata anak-anak sambil menghitung dadu.

Dengan beberapa kali pengulangan, anak-anak tidak akan menghitung banyaknya dadu. Mereka menemukan cara yang lebih sederhana. Mereka mengalikan panjang dengan lebar dari segi empat itu. Luar biasa! Anak-anak memahami konsep luas tanpa diterangkan. Mereka menemukan sendiri dengan bermain Dadu Milenium bahwa luas adalah panjang kali lebar.

Guru di APIQ kadang dapat mencoba bertanya dengan kebalikannya,

”Tolong buatkan segi empat yang luasnya 9!”

Anak-anak akan mengambil 9 dadu dan menatanya menjadi persegi berukuran 3 x 3.

”Tolong buatkan segi empat yang luasnya 12!”

Anak-anak akan mengambil 12 dadu dan menyusunnya menjadi segi empat yang berukuran 3 x 4 atau 6 x 2 atau 12 x 1. Semua kami benarkan. Itulah kreatif. Terdapat lebih dari satu macam jawaban. Bahkan dari perbedaan jawaban ini, guru APIQ dapat melangkah lebih jauh memperkenalkan konsep keliling. Konsep volume juga kami kenalkan dengan cara bermain-main bergembira.

Bagi kami, matematika adalah kreatif, imajinatif, merangsang otak kanan.

Dalam catatan sejarah, banyak matematikawan yang sangat kreatif. AlKhawaritzmi merumuskan penggunaan angka 0 secara efektif. Bayangkan apa jadinya hidup Anda bila tidak menggunakan angka 0. Descartes menggambar dua sumbu yang berpotongan untuk membantu geometri analisis. Bayangkan pekerjaan Anda bila tidak ada grafik – bagaimana Anda dapat berkomunikasi dengan baik. Gauss mengembangkan sistem bilangan kompleks. Bayangkan kerja Anda tanpa tampilan komputer visual – semua komputer berisi teks belaka.

Beberapa contoh di atas adalah sekedar secuil contoh dari kreativitas matematika yang tanpa batas.

Bagaimana pendapat Anda?

Salam hangat….

(agus Nggermanto; pendiri APIQ)

APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ membuka peluang bagi Anda yang berminat membuka cabang franchise. Anda dapat menghubungi APIQ di apiq.wordpress.com atau (022) 2008621 atau 0818 22 0898 atau quantumyes@yahoo.com . APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum.

7 responses to “Kreativitas Tanpa Batas: Matematika Berkualitas

  1. @rayyan:

    matematika adalah seni! permainan logika merupakan evolusi pemikiran manusia akan cita rasa kesenian!

  2. Lebih kreatif mana, Mas, guru matematika jaman sekarang atau jaman kita SD dulu? Dulu seingat saya, guru mengajarkan cara menghitung dengan membuat potongan2 lidi yang diikat. Sekarang gimana ya?

  3. Ping-balik: Mempermudah Belajar Aljabar dan Aritmetika; 4×2 = 2×4 ? « APIQ: Matematika Kreatif Aritmetika Quantum·

  4. Ada seniman lukis, ada seniman drama, ada seniman …. macam-macam. Pak Agus ini salah satu seniman Matematika … Melihat dan mengajar Matematika dari sudut lain yg mudah dimengerti oleh anak-anak . Salut buat Bapak. Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s