(R)Evolusi Matematika AlKhawaritzmi Terhadap Istilah Bilangan

Para pembaca mohon memaklumi saya. Mungkin saya satu-satunya orang yang terlampaui sering menyebut-nyebut nama AlKhawaritzmi. Bagi saya AlKhawaritzmi adalah tokoh paling berjasa dalam memajukan matematika umum untuk masyarakat. Memang banyak tokoh-tokoh matematika lain yang juga sangat hebat. Sebut saja Phytagoras, Plato, AlThusi, Fibonaci, Descartes, Newton, Leibniz, Euler, Gauss adalah beberapa nama besar dalam matematika.  

Di antara nama-nama besar itu, hanya AlKhawaritzmi yang mempengaruhi cara berpikir matematis masyarakat luas. Sementara tokoh-tokoh lain biasanya berpengaruh besar hanya pada masyarakat pecinta matematika saja. Bagi masyarakat awam kurang merasakan dampaknya. 

Trachtenberg sedikit mirip dengan AlKhawaritzmi. Trachtenberg memusatkan inovasi juga pada matematika dasar. Inovasi-inovasinya sangat menarik. Tetapi mengapa tidak banyak orang mengenal metode berhitung cepat Trachtenberg? Saya tidak tahu pasti. 

Saya sendiri di APIQ memusatkan inovasi juga pada matematika dasar – mirip dengan Trachtenberg dan AlKhawaritzmi. Inovasi APIQ terutama pada aspek visualisasi matematika dan penciptaan alat-alat edukatif matematika. Dengan bantuan visualisasi dan alat edukatif, APIQ mempromosikan cara belajar matematika yang menyenangkan. (Mohon tetap dicatat bahwa APIQ mengajarkan matematika bukan sekedar aritmetika seperti sempoa.) 

Dari interaksi APIQ dengan para siswa, kami semakin merasakan betapa besar jasa AlKhawaritzmi. Bahkan kami ingin mengusulkan konsep AlKharitzmi ini kita perluas agar mencakup kepada istilah-istilah bilangan. 

Seorang siswa APIQ yang masih usia TK telah lancar menguasai penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Bahkan anak itu pernah mengejutkan seorang guru matematika SMA ketika ditanya berapakah 7 x 7? Dia berpikir sejenak. Lalu ia jawab 49.  

”Bagaimana caranya?” guru SMA itu penasaran.

”Peltama gini, telus gini, telus gini…” anak itu mencoba menjelaskan. Guru SMA itu kagum. Meski pun ia cerita pada saya bahwa ia tetap tidak paham bagaimana cara anak kecil itu menghitung.  

Beberapa hari lalu anak itu main perkalian.

Ia menemukan soal 3 x 5 = ….Tentu ia langsung tahu jawabannya. 

”Lima belas, pasti,” ia tampak yakin.

”Bu, lima belas itu 5 dulu atau 1 dulu nulisnya?” ia ragu cara menulisnya. 

Mengapa dia ragu menulis angka lima belas?

Padahal ia telah mahir menulis angka empat puluh sembilan. Ia juga sangat yakin bahwa 8 x 8 sama dengan enam puluh empat. Serta mudah menuliskan angka enam puluh empat tersebut. Karena 49 dan 64 menigkuti kaidah AlKhawaritzmi.

Sedangkan lima belas tidak mengikuti kaidah AlKhawaritzmi. Mengapa?  Jika hendak mengikuti kaidah AlKhawaritzmi, mestinya kita membaca 15 bukan sebagai lima belas. Tetapi 15 adalah sepuluh lima. Sepuluh lima, konsisten dengan kaidah AlKhawaritzmi.

Jadi mestinya setelah sepuluh, kita akan membaca 

11 bukan sebelas tetapi sepuluh satu

12 bukan dua belas tetapi sepuluh dua

13 bukan tiga belas tetapi sepuluh tiga

14 bukan empat belas tetapi sepuluh empat 

Dan seterusnya. 

Dengan cara di atas, saya yakin putra-putri kita akan lebih mudah menguasai matematika.

Kami sendiri di APIQ mengijinkan seorang siswa membaca 11 sebagai sebelas atau pun sepuluh satu. Bahkan kami cenderung mengenalkan dua cara membaca di atas. Jika cara membaca angka belasan ditetapkan oleh yang berwenang, kemajuan pelajar Indonesia akan pesat. Bahkan ini akan menjadi yang pertama di dunia. Cara membaca belasan yang konsisten dengan kaidah AlKhawaritzmi.  

Sederhana memang. Tetapi dampaknya sangat luar biasa! Bagaimana pendapat Anda? 

Salam hangat….  (agus Nggermanto; pendiri APIQ) 

APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ membuka peluang bagi Anda yang berminat membuka cabang franchise. Anda dapat menghubungi APIQ di apiq.wordpress.com atau (022) 2008621 atau 0818 22 0898 atau quantumyes@yahoo.com . APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum. 

10 responses to “(R)Evolusi Matematika AlKhawaritzmi Terhadap Istilah Bilangan

  1. Ping-balik: Cara Mudah dan Menyenangkan Mengajarkan Matematika kepada Anak Usia Dini « APIQ: Matematika Kreatif & Aritmetika Quantum·

  2. Ping-balik: Aku Cinta AlKhawaritzmi « APIQ: Matematika Kreatif Aritmetika Quantum·

  3. Maaf pa Agus,

    Dalam bahasa Jepang untuk menyebutkan 11, 12 dan seterusnya mengikuti kaidah Alkhawaritzmi yaitu sepuluh satu, sepuluh dua dan seterusnya.
    Ada lagi yang lebih menarik, mereka menyebutkan angka yang besar sepertu jutaan dengan perkalian sehingga lebih mudah dipahami.
    Contoh

    1 juta diucapkan dengan 100 x 10000 (x nya tidak dibaca)
    10 Juta diucapkan 1000 x 10000
    1 Milyiar diucapkan 10 x 100 Juta

    Saya setuju dengan pak Agus kalau mengikuti kaidah ini matematika di Indonesia akan pesat dan mudah dimengerti.

    Saya tidak bergerak di bidang matematika tapi tertarik sama blognya Pak Agus. Waktu SD saya sangat senang matematika tapi langsung luntur pas masuk SMP dan SMA karena gurunya kejam….

    Liat blognya bapak jadi inget masa indah jaman SD waktu saya gemar matematika.

  4. Terima kasih Faizal Efendi,

    pengalaman Anda sangat menarik dan bermanfaat bagi kita semua.

    Jepang hebat dengan cara seperti itu. Sepantasnya kita belajar dari pengalaman negara lain.

    Saya berharap…Mas Faizal dapat jatuh cinta lagi kepada matematika.

    Salam hangat…

  5. Terima kasih pencerahannya,Mas…gak sampe kepikiran sampe hal2 kayak gitu…sepertinya dulu pernah merasa juga kenapa bilangan belasan itu aturannya beda sendiri,tapi hal2 seperti itu mengendap begitu saja di alam bawah sadar….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s