Arsip Tag: UN

Bocoran Kunci Jawaban UN 2010 Paling Banyak Dicari

Kunci jawaban UN 2010 adalah kata kunci yang paling banyak dicari. Beberapa hari atau pekan terakhir ini “kunci jawaban UN 2010″ menempati posisi paling tinggi dalam blogku.

Apa arti semua ini?

Pertama saya bersyukur karena masih banyak orang yang bertanggung jawab di negeri ini. Para siswa, guru, dan siapa pun yang mencari kunci jawaban UN melelui internet adalah orang-orang yang bertanggung jawab. Mereka ingin para siswa lulus UN 2010 dengan baik.

Kedua saya prihatin karena bocoran kunci jawaban UN 2010 tidak disahkan secara formal. Bahkan beberapa pihak menanyakan halal-haramnya bocoran kunci jawaban UN. Saya sendiri telah lama mengusulkan agar disusun skenario besar untuk membocorkan UN secara sah.

Ketiga saya prihatin dengan wajarnya kecurangan. Karena kondisi yang menghimpit beberapa pihak terpaksa mengambil langkah curang. Asal tidak tertangkap maka tindakan curang dapat dimaklumi. Ini adalah kerugian terbesar kita di bidang pendidikan.

Saya sendiri yakin bahwa bocoran UN 2010 tidak harus identik dengan curang atau haram. Bocoran UN 2010 dapat saja adil, halal, dan disahkan secara formal. Hal itu bergantung bagaimana kita mendesainnya.

Sementara ini saya masih prihatin bahwa bocoran UN didekatkan dengan kasus pidana. Mestinya kita banyak belajar dari pengalaman-pengalaman masa lalu.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

UN 2010, Unas 2010: Tolak, Haram, Bocor

Akhir pekan kemarin, harian terbesar di Jawa Barat meliput demo besar-besaran menolak UN 2010. Bahkan peserta demo membawa poster “haramkan UN 2010″. Sementara itu bocoran UN 2010 sangat sulit ditolak peluang terjadinya.

Saat itu saya justru di Jawa Timur membaca liputan harian terbesar di Jatim. Mendiknas menyatakan tidak benar bila UN sebagai satu-satunya penentu kelulusan siswa.

Memang dari tahun ke tahun para pejabat kita menyatakan bahwa UN bukan satu-satunya penentu kelulusan siswa. Ini jawaban yang sulit diterima bagi para penuntut yang meminta agar UN jangan dijadikan satu-satunya penentu kelulusan siswa.

Karena kali ini yang berbicara adalah Mendiknas M Nuh maka saya tergoda untuk sedikit membahasnya dengan logika matematika.

Mendiknas menyatakan bahwa UN bukan satu-satunya penentu kelulusan siswa. Siswa lulus dengan syarat:

1. Menyelesaikan proses pembelajaran di sekolah.
2. Berakhlak, bermoral, berbudi pekerti.
3. Lulus ujian sekolah.
4. Lulus ujian nasional: UN/unas.

Di antara 4 poin penentu kelulusan di atas, apa logika penghubungnya?
Apakah logika penghubungnya adalah AND?
Apakah logika penghubungnya adalah OR?

Misal, logika penghubung adalah AND (DAN).

Maksudnya, untuk lulus sekolah, siswa harus lulus syarat 1 AND syarat 2 AND syarat 3 AND syarat 4.

Jadi 4 syarat di atas harus lulus semua. Bila ada salah satu syarat yang tidak lulus maka siswa tersebut juga tidak lulus sekolah.

Dalam situasi seperti ini memang tampak benar bahwa UN bukan satu-satunya penentu kelulusan. Tetapi lebih benar lagi bahwa UN sangat sangat sangat satu-satunya penentu kelulusan.

Ini merupakan jawaban yang absurd menanggapi para penuntut.

Misal logika penghubung adalah OR (ATAU).

Maksudnya, siswa dapat lulus sekolah dengan memenuhi syarat 1 OR syarat 2 OR syarat 3 OR syarat 4.

Bila ada salah satu dari syarat di atas lulus maka siswa tersebut lulus sekolah. Tentu bila lulus lebih dari satu syarat maka siswa juga lulus.

Dalam situasi seperti ini memang benar pernyataan bahwa UN bukan satu-satunya penentu kelulusan. Lebih benar lagi pernyataan ada 4 alternatif untuk lulus sekolah. Salah satunya melalui UN.

Ini adalah jawaban yang logis, masuk akal, dan tidak absurd bagi para penuntut.

Mari kita tegaskan lagi, dari 4 syarat untuk lulus sekolah, apakah logika penghubungnya adalah AND atau OR?

Kita berharap para pejabat kita tidak memilih situasi absurd. Tetapi kita lebih yakin bahwa para pejabat kita memiliki logika yang baik.

Bagaimana menurut Anda?

Salam…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Dilema UN 2010, Bocoran, dan Mendiknas yang Bodoh

UN 2010 tetap menghadirkan pro kontra. Kabarnya, jadwal UN dimajukan menjadi Maret 2010, makin ramai saja.

Keputusan pengadilan yang memenangkan penggugat (siswa dan orang tua) atas ketidakadilan penyelenggaraan UN pun tampaknya tidak mendapat cukup pertimbangan.

Gosip dan realitas di depan mata bahwa UN bocor tahun demi tahun juga tak dihiraukan. Saya telah menulis berkali-kali bahwa dari beragam sudut pandang, UN pasti bocor, tidak mungkin mengamankan UN 100%. Bahkan tahun 2009 kemarin, dikabarkan, UN sempat bocor 100%. Tentu pihak berwenang buru-buru menyangkalnya.

Mengapa tampak begitu semrawut dunia pendidikan kita?
Apakah karena kita memiliki Mendiknas, Menteri Pendidikan Nasional, yang bodoh?

Mendiknas kita saat ini adalah M Nuh. Sebelumnya adalah Bambang S. Apakah Mendiknas kita bodoh?

Justru di situ masalahnya!

Saya yakin Mendiknas kita adalah orang cerdas. Karena itu mereka menganggap UN itu mudah bagi setiap orang. Hanya orang bodoh saja yang tidak lulus UN. Masa meraih nilai 6 saja tidak mampu? Pantaslah anak-anak bodoh itu diganjar tidak lulus sekolah.

Saya juga yakin anak-anak kita juga tidak bodoh. Mungkin mereka tidak berbakat menyelesaikan soal-soal UN. Tetapi mereka cerdas dalam seni, olah raga, teknologi dan lain-lain.

Seandainya kita memiliki Mendiknas yang bodoh, mungkin akan lain persoalannya.

Bagaimana menurut Anda?
Salam…

100% Bocoran UN 2009, Bagaimana UN 2010?

Para pejabat yang berwenang membantah bahwa ada bocoran UN 2009 yang 100% benar.

Tetapi di handphone para siswa peserta UN 2009 beredar bocoran kunci jawaban UN 2009 yang 100% benar. Bocoran kunci UN ini beredar bebas melalui sms dan media lainnya. Para siswa menerima bocoran kunci ini sesaat sebelum UN atau kadang ketika UN berlangsung.

Siapa yang rugi dengan bocoran UN?

Pihak berwenang berikukuh menyatakan bahwa UN tidak bocor. “Ayo, buktikan…kalau memang ada bocoran UN!” kata salah satu pejabat penting.

Tentu saja tidak akan ada yang mau membuktikan kebocoran UN. Apa untungnya? Paling malah akan berurusan dengan pihak berwajib.

Mari kita sedikit berlatih matematika peluang (probabilitas) untuk menunjukkan bahwa UN 2009 itu bocor atau tidak.

Seperti kita tahu, bentuk soal UN 2009 dan sebelumnya adalah pilihan ganda. Setiap soal akan memiliki 5 pilihan jawaban: A, B, C, D, E. Salah satu dari pilihan jawaban itu adalah benar dan 4 pilihan yang lain adalah salah.

Misal seorang siswa dengan brutal, tanpa membaca soal, memilih jawaban A untuk nomor 1. Berapa peluang jawabannya benar?

Peluang jawaban benar adalah 1 dari 5 atau 1/5 = 20%.

Misal seseorang menyebar kunci jawaban UN bahwa nomor 1 adalah A. Dan ternyata memang benar jawaban yang tepat adalah A. Dapatkah kita mengatakan bahwa UN telah bocor?

Tidak. UN tidak dapat dikatakan bocor dalam kasus ini. Karena peluang “kebetulan” cukup besar yaitu 1/5 = 20%.

Bagaimana dengan peluang 2 soal bocoran benar UN benar?

1/5 x 1/5 = 1/25 = 4%

Hmmm….semakin kecil peluang “kebetulan” = 4%.

Bagaimana dengan peluang 3 soal bocoran benar?

1/5 x 1/5 x 1/5 = 1/125 = 0,8%.

Semakin kecil lagi peluang “kebetulan” = 0,8%.

Apa artinya?

Jika soal UN 2009 tidak bocor maka seseorang hanya memiliki peluang 0,8% untuk mendapatkan bocoran kunci jawaban dengan benar 3 butir soal.

Atau mari kita sedikit ubah istilah-istilah kita.

Peluang “kebetulan” = peluang “tidak bocor”

Peluang “tidak bocor” = 0,8%
maka
peluang “bocor” = 100% – 0,8% = 99,2%

Jadi peluang bahwa UN 2009 bocor itu sangat besar = 99,2%.

Itu tadi dengan asumsi bahwa hanya ada bocoran kunci dengan 3 soal yang benar.

Bagaimana dengan 4 butir bocoran soal yang benar?

Bagaimana dengan 40 butir bocoran soal yang benar semua? Hal ini justru yang terjadi di sebuah kota di jawa barat, tersebar bocoran kunci jawaban yang 100% benar, yaitu 40 butir soal.

Berapa peluang “kebetulan”?
Berapa peluang “tidak bocor”?
Berapa peluang “bocor”?

Peluang “kebetulan” = 1/(10 ribu trilyun trilyun) = Peluang “tidak bocor” = 0%.

Peluang “bocor” = 100% – 0% = 100%.

Artinya tidak mungkin seseorang dapat menyebarkan bocoran kunci jawaban UN dengan benar 40 butir soal (100%) bila ia tidak memperoleh bocoran soal sebelumnya. Pasti orang tersebut telah memiliki bocoran soal. Dengan demikian UN pasti bocor!

Bagaimana dengan UN 2010?

Pasti tidak banyak berbeda dengan UN 2009 kan?
Jadi, pasti bocor lagi kan?

Saya telah banyak memberikan usulan dari tulisan-tulisan saya sebelumnya bagaimana menangani bocoran UN ini. Semoga pihak yang berwenang telah mempelajarinya.

Tetapi jangan khawatir dengan UN 2010. Kita belum tahu siapa pemenang pemilu presiden 2009. Siapa tahu yang menang adalah orang lain. Lalu ganti sistem pendidikan Indonesia, tidak ada lagi UN di Indonesia pada tahun 2010.

Nah…kita jadi tidak perlu repot-repot membicarakan bocoran UN kan? Bahkan 2010 mungkin tidak ada UN lagi!

Bagaimana pendapat Anda?

Salam hangat…

Hentikan Kecurangan UN; Hentikan UN

Mau sembuh dari sakit kepala?
Potong kepalanya! Pasti tidak akan sakit kepala lagi.

Mau menghentikan kecurangan UN?
Bubarkan UN saja. Beres. Tidak akan ada lagi kecurangan UN.

Tetapi benarkah UN itu mirip dengan kepala?

Mau sembuh dari penyakit tumor?
Potong tumor itu – operasi besar. Pasti akan sembuh dari tumor.

Apakah UN lebih mirip dengan tumor atau kepala?

Bagaimana pendapat Anda?

CIA Turun untuk Mengamankan UN

”Mengapa CIA repot-repot mengurus UN 2008?”
”Apakah polisi anti teror sudah tidak mampu menangani UN 2008?”
”Bukankah mereka telah berhasil menangkapi Kepsek dan guru-guru?”
”Berhasil? Apanya yang berhasil?”

Bila ada yang mengatakan UN 2008 tidak bocor, mereka harus lebih membuka mata dan telinga. Jika masih tidak berhasil mengetahuinya, mungkin perlu membuka hati. Atau haruskah bertanya kepada para malaikat?

Pagi tadi, sebuah TV swasta menyiarkan bocornya UN 2008. Siswa itu mengaku dapat bocoran. Dengan kunci jawaban yang valid.

“Enak dong dapat bocoran?” tanya wartawan.
“Ya, iyalah….” jawab siswa yang menerima bocoran itu.

Saya pernah bertemu dengan orang yang mahir membocorkan. Bukan membocorkan UN tetapi membocorkan uang. Orang semacam itu sering dikenal sebagai HACKER.

”Mudah membobol sebuah sistem. Mudah mengambil uangnya.”
”Lalu mengapa tidak kalian lakukan terus-menerus?”
”Ada yang tidak mudah.”
”Apa itu?”
”Menghapus jejak.”
”Mengapa penting?”
”Percuma saja berhasil mencuri tapi tertangkap.”
”Bagaimana caranya menghapus jejak?”

Lalu ia menjelaskan cara menghapus jejak yang paling sederhana. Bila seseorang berhasil membobol sistem kartu ATM misalnya. Jangan langsung mencuri dengan kartu ATM itu. Pasti akan tertangkap. Tetapi bobollah kartu ATM yang banyak. Misalnya bobol 1000 kartu ATM. Kemudian bagi-bagikan kartu ATM itu ke banyak orang. Orang-orang itu akan mencuri dengan kartu ATM. Ada 1000 pencuri. Lalu si hacker yang sebenarnya juga akan ikut mencuri dengan ATM itu dengan cara sedikit lebih canggih.

Apa yang akan terjadi?

Polisi tidak akan menangkap si hacker sebenarnya. Mengapa? Sulit menangkap hacker itu. Polisi juga sudah sibuk menangkap seribu pencuri gadungan itu.

Bagi pihak tertentu yang ingin menghilangkan jejak kecurangan dalam UN bisa saja menyebar seribu SMS palsu. Semua mata tertuju pada SMS palsu itu. SMS bocoran yang asli terlindungi dan dapat dengan bebas berseliweran melalui gelombang elektromagnetik.

Penangkapan kepala sekolah dan beberapa guru di Sumut juga bisa menjadi penghapus jejak. Semua mata tertuju pada kasus Sumut. Kecurangan yang sebenarnya dapat bebas bergerak tak tersentuh. Siapakah mereka? Aku tidak tahu. Cari sendiri!

Saya berdoa semoga para guru dan kepala sekolah di Sumut itu dapat menghadapi segala cobaan dengan tabah. Anda rela berkorban demi siswa-siswi Anda. Tetapi ada pihak yang tidak setuju dengan jalan yang Anda tempuh. Ada pula pihak tertentu yang perlu mencari tangkapan. Saya mengusulkan agar pemerintah tidak berlebihan memproses kasus Sumut ini. Ini adalah kasus biasa dalam proses ujian di sekolah. Tidak perlu diperbesar sampai pidana.

Mari kembali ke bocornya UN. Apa kriteria UN tidak bocor?

Saya beruntung banyak berinteraksi dengan ahli security nowor wahid di Indonesia. Beliau sering mengatakan bahwa suatu informasi itu secure, aman, tidak bocor, bila paling tidak memenuhi aspek CIA.

C: confidentiality; kerahasiaan. Informasi itu hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang berhak. Orang yang tidak berhak tidak boleh melihat. Misalnya password, hanya Anda sendiri yang boleh tahu. Orang lain tidak boleh tahu. Bagaimana dengan soal UN? Apakah hanya orang yang berhak yang dapat melihatnya? Bagaimana dengan proses pencetakannya? Bagaimana dengan format digital sebelum dicetak? Carilah informasi yang lebih lengkap. Anda akan dapat menyimpulkan bahwa soal UN itu bocor atau tidak.

I: integrity; integritas. Informasi itu harus terjaga keutuhannya. Saya mengirim uang ke Anda 1.000.000. Anda memang menerima uang kiriman saya tetapi hilang 0 nya satu biji. Kiriman uang ini tidak memenuhi aspek integritas. Bagaimana dengan UN? Apakah lembar soal yang dikirim sama persis dengan yang diterima? Kabarnya di Solo ada yang kekurangan lembar soal. Bagaimana pendapat Anda?

A: availability; ketersediaan. Informasi tersedia tepat saat dibutuhkan. Ketika Anda butuh mengambi uang di ATM, memang di ATM itu tersedia uangnya. Itulah availability. Ketika siswa akan mengerjakan UN, panitia harus mem-fotocopy dulu soal karena ada yang kurang. Jadi bagaimana?

CIA adalah syarat minimal agar sebuah sistem dapat disebut aman – tidak bocor. Semoga soal-soal UN memenuhi tiga kriteria CIA di atas.

Bagaimana menurut Anda?

(aNgger: agus Nggermanto; Pendiri APIQ)

Korban-Korban Kecurangan UN 2008 Mulai Berjatuhan

Takut
Khawatir
Terjatuh
Terpuruk
Gelap

Curang
Dicurangi
Ditahan
Dipidana
Gelap

Membela
Berkorban
Dikorbankan

Tuhan,
Maafkan kami
Kami memang salah
Kami telah berbuat curang

Tetapi kami curang demi kebaikan putra-putri kami
Mereka dicurangi
Mereka tidak mampu membalas itu

Engkau tahu
Engkau Maha Tahu
Ada yang lebih curang di sana
Ada sumber curang di sana

Tetapi mengapa kami yang dihukum?
Engkau tidak menghukum mereka yang lebih curang
Engkau tidak menghukum mereka sumber curang
Tetapi Engkau pasti menghukumnya
Paling Engkau menundanya

Jangan Kau hukum mereka Tuhan
Cukup sadarkanlah mereka
Agar tidak mencurangi putra-putri kami

Membela
Berkorban
Dikorbankan

Engkau selalu hadir dalam jiwa kami
Terimakasih, Engkaulah Pembela kami
Pasti pertolonganMU datang

 

Membocorkan Bocoran UN 2008- 2009: Sebuah Skenario Besar

“Mas, UN itu sudah bukan bocor lagi. Tapi banjir.”

Di Bandung, beredar sms kunci jawaban UN 2008. Persis seperti tahun-tahun sebelumnya. Di Jawa Tengah ada berita bahwa jumlah lembar soal kurang. Sehingga harus mem-foto copy dulu.

“Kok bisa lembar soal kurang. Apakah ada yang hilang? Jika hilang ke mana perginya?”

HP beberapa siswa di Solo disita oleh pengawas independent karena menerima SMS bocoran kunci jawaban. Masih banyak lagi cerita duka tentang UN 2008.

Bagaimana dengan pengalaman UN 2008 Anda?

Saya sendiri tetap mengusulkan kepada Diknas (pemerintah) agar membocorkan UN secara resmi. Saya menyebut bocoran ini sebagai bocoran cerdik. Jika tahun ini belum ada bocoran cerdik, pemerintah dapat memulainya dari tahun 2009. (Siswa yang sekarang duduk di kelas 2 bersiaplah!)

Saya mengusulkan skenario besar bocoran cerdik UN 2008-2009 sebagai berikut:

1. Pada tahun ajaran baru, bulan Juli atau Agustus 2008, Diknas mengeluarkan bocoran cerdik versi 1. Bocoran ini berisi soal-soal yang akan keluar dalam UN 2009. Tanpa pilihan jawaban A, B, C, D, atau E. Banyaknya soal yang dibocorkan adalah 100 kali lebih banyak dari soal UN 2009 yang sebenarnya.

Misalnya, matematika ada 40 soal dalam UN 2009 maka bocorkan 4000 soal matematika. Di antara 4000 soal ini akan keluar 40 soal untuk UN 2009. Siswa dapat belajar fokus pada latihan soal ini. Guru di sekolah juga dapat membahas bocoran cerdik ini sebagai salah satu soal latihan sesuai dengan materi ajar. Agar lebih netral, bocoran cerdik ini jangan kita sebut sebagai bocoran. Tetapi kita sebut saja sebagai Fokus 100. Lebih keren kan?

2. Memasuki semester II, awal Januari 2009, Diknas mengeluarkan bocoran cerdik versi 2. Bocoran ini lebih fokus dari versi 1. Versi 2 berisi soal-soal UN 2009 yang jumlahnya 10 kali lebih banyak dari soal UN 2009 yang sebenarnya.

Misalnya matematika 40 dalam UN 2009 maka versi 2 memberikan 400 soal matematika. 400 soal ini diambil dari 4000 soal yang sudah termuat dalam versi 1 (Fokus 100). Jadi siswa dapat lebih fokus dalam belajar dalam mempersiapkan UN. Kita sebut saja bocoran ini sebagai Fokus 10.

3. Sebulan menjelang UN 2009, bulan Maret 2009, Diknas mengeluarkan bocoran cerdik versi 3. Bocoran versi 3 ini berisi soal-soal UN 2009 sebanyak 5 kali dari soal UN 2009 sebenarnya. Kita sebut sebagai Fokus 5. Siswa dapat belajar lebih fokus lagi. Semua soal hanya soal. Tanpa pilihan jawaban A, B, C, D, atau E.

Dengan skenario bocoran cerdik di atas, kita berharap dapat mengurangi potensi kecurangan-kecurangan dalam penyelenggaraan UN. Cegah kecurangan, tumbuhkan kecerdikan.

Majulah Indonesia…
Bagaimana pendapat Anda?
Hai para siswa yang akan menghadapi UN 2009, bagaimana pendapat Anda?

Salam hangat…
(aNgger: agus Nggermanto; Pendiri APIQ)
 *ingin lebih kreatif? silakan kunjungi tulisan saya yang lain.

Tips & Trik Memanfaatkan Bocoran UN

Bocoran UN 2008, soal dan kunci jawaban, mulai ditawarkan di beberapa tempat.

Apakah bisa kita mengandalkan masa depan kepada sesuatu yang belum jelas?

Satu set soal UN 2008 ditawarkan seharga 1 juta 200 ribu rupiah. Anda berminat? Tetapi harus diam-diam dan rahasia. Bisa berbahaya bila ketahuan.

Tips

1. Pastikan set soal itu adalah soal UN yang anda perlukan.

2. Berlatihlah menyelesaikan soal itu dengan benar sebelumnya.

3. Bila perlu kerja kelompok dengan teman-teman atau minta bantuan seorang guru yang terpercaya.

4. Hafalkan kunci jawaban – hati-hati dengan contekan – bisa ketahuan.

Masih lumayan sempat belajar sebelum UN. Jika ternyata soal yang Anda hadapi tidak sama dengan bocoran yang Anda miliki, nah?! Gunakan akal sehat. Kerjakan soal sesuai hasil belajar kamu. Beberapa soal akan mirip-mirip saja.

Ada tawaran bocoran yang kadang lebih murah: kunci jawaban UN 2008. Hanya beberapa ratus ribu rupiah, kadang malah gratis. Dikirim ke HP kamu.

Tips

1. Hati-hati apakah kunci itu benar-benar dapat dipercaya? Puluhan siswa tahun kemarin tidak lulus gara-gara kunci bocoran itu meleset.

2. Kerjakan soal UN sesuai kemampuan kamu. Lalu bandingkan dengan kunci bocoran itu. Apakah bocoran itu banyak yang benar atau malah ngawur.

3. Jika kamu benar-benar tidak dapat menjawab soal UN, apa boleh buat mungkin percaya saja dengan bocoran itu atau banyaklah berdoa ketika memilih jawaban.

Tapi bocoran kunci jawaban ini tidak membuat kamu jadi belajar memecahkan soal. Jadi kamu harus lebih percaya pada kemampuanmu sendiri. Hati-hati sebelum mengambil keputusan.

Ngomong-ngomong, dari mana sih datangnya bocoran itu?

Ya, nggak tahu, pokoknya bocor.

Dosa nggak sih, UN memanfaatkan bocoran kayak gitu?

Nah itu, justru yang harus dipertimbangkan sejak awal!

Bagaimana menurut kamu?

 

Bahaya!!! Hade Menang Pilkada Gubernur Jabar (Belajar Matematika Yuk…)

Sangat berbahaya!
Hade menang, masa depan penuh tanda tanya!

Dalam matematika kita mengenal berbagai fungsi yang memiliki titik kritis, titik ektrem, tipping point. Kondisi Hade yang memenangkan pilkada Jabar tidak jauh dari kondisi titik kritis ini.

Fungsi sederhana yang banyak dipelajari siswa pemula adalah f(x) = (ax+b)/(cx+d)

Bagian atas (pembilang) ax + b tidak mempengaruhi titik kritis.
Tetapi bagian bawah (penyebut) cx + d menentukan titik kritis.
Jika bagian bawah mendekati 0 maka fungsi di atas bernilai tak hingga, besar sekali.

Kemenangan Hade dapat kita umpamakan (modelkan) sebagai penyebut (bagian bawah) menuju 0. Kondisi Jawa Barat akan menjadi tak terhingga. Ada dua kemungkinan tak terhingga. Pertama, tak terhingga positif. Besar sekali positif. Dalam kondisi ini, jabar meraih sukses luar biasa. Kepemimpinan Hade membawa jabar ke masa depan cemerlang. Semoga kondisi ini yang terjadi.

Kedua, tak terhingga negatif. Besar sekali negatif. Dalam kondisi ini, jabar terpuruk pada titik terendah. Jabar hancur lebur. Kepemimpinan gubernur baru menggiring jabar terpeleset pada jurang kehancuran. Tentu kita tidak mengharap ini terjadi.

Ketiga, mungkin saja Hade tidak menggeser jabar ke kondisi kritis. Jabar tetap pada wilayah linier (hampir linier) seperti sebelumnya. Kepemimpinan Hade tidak membawa perubahan yang berarti. Memang, kesuksesan pemimpin tidak hanya ditentukan oleh pemimpin. Tetapi peran serta rakyat sangat menentukan. Apakah para pemimpin kita akan berhasil merebut hati rakyat agar bersama-sama membangun Indonesia?

Mari kembali ke fungsi matematika di atas. Fungsi ini menjadi idola dalam ujian nasional (UN) maupun ujian saringan masuk perguruan tinggi – SPMB, UMPTN, SNM PTN. Soal dalam ujian ini sering menanyakan invers dari fungsi tersebut.

Contoh soal:
Jika g(x) adalah invers dari f(x) = (2x + 3)/(4x -1) maka g(1) = …

Pertama; Kita menentukan invers dengan cara biasa dengan memisalkan f(x) = y
y = (2x + 3)/(4x – 1)
4xy – y = 2x + 3
4xy – 2x = y + 3
x (4y – 2) = y + 3
x = (y + 3)/(4y – 2)

Kita peroleh invers f(x) = g(x)
g(x) = (x + 3)/(4x – 2)
g(1) = (1 + 3)/(4.1 – 2)
= 4/2 = 2 (Selesai)

Kedua; Dengan beberapa kali latihan kita tahu bahwa invers dari f(x) = (ax + b)/(cx + d) adalah g(x) = (-dx + b)/(cx – a)
Cukup hanya tukarkan nilai a dengan nilai d dan beri tanda negatif.

f(x) = (2x + 3)/(4x -1) maka
g(x) = (x + 3)/(4x – 2)
g(1) = (1 + 3)/ (4 – 2) = 2 (Selesai)

Ketiga; Dengan memahami fungsi invers adalah fungsi kebalikan, g(1) memberi kita

1 = (2x + 3)/(4x – 1)
4x – 1 = 2x + 3
2x = 4 maka x = 2 (Selesai)

Seandainya, para pemimpin kita rajin belajar matematika, apa yang akan terjadi dengan Indonesia?
Salam hangat…

 (aNgger: agus Nggermanto; Pendiri APIQ)