“Hanya 5% kursi mahasiswa yang diterima melalui SNMPTN 2008.”
“Ah…mana mungkin hanya 5%? Salah baca kali?”
“Ini…ni…baca di berita resmi Kompas!”
Saya hampir tidak percaya bahwa sebuah perguruan tinggi besar di pulau Jawa itu hanya menerima 5% mahasiswa barunya melalui SNMPTN. Betapa sulitnya calon mahasiswa baru untuk memenangkan perebutan kursi yang tinggal 5% itu. Sedangkan 95% yang lain sudah diisi melalui jalur penerimaan mahasiswa baru mandiri lain. Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan UMPTN atau SPMB yang nyaris 100% mahasiswa baru diterima melalui jalur UMPTN atau SPMB.
Ada apa dengan pendidikan kita?
Beberapa hari sebelumnya, saya membaca sendiri di Kompas bahwa ITB akan menerima mahasiswa baru melalui SNMPTN ini sekitar 55%. Itu pun sudah membuat saya sangat kaget. Mengapa hanya 55%? Mengapa jalur khusus USM ITB begitu banyak, sampai 45%? Pejabat ITB tentu memiliki pertimbangan khusus.
Salah satu teman saya, yang dosen ITB, mengatakan,
“Dulu saya setuju ITB menyelenggarakan penerimaan mahasiswa melalui jalur khusus dengan membayar mahal (minimal 45 juta). Wajar saja, orang kaya membayar lebih demi pendidikan.”
“Kalau sekarang bagaimana?”
“Sekarang saya tidak setuju dengan jalur khusus yang mahal itu. Karena membuat beberapa dosen malas berpikir produktif.”
“Maksudnya?”
“Misalnya, saya nih…untuk menghasilkan uang 500 juta harus berpikir keras. Saya harus berusaha menghasilkan sesuatu yang bernilai tinggi sehingga masyarakat mau membelinya senilai 500 juta rupiah. Jadi saya harus memanfaatkan ilmu dan profesionalisme saya.”
“Lalu apa masalahnya dengan hal itu?”
“Bagi saya tidak masalah. Tetapi bagi beberapa teman dosen lain berpikir, mengapa susah-susah amat untuk menghasilkan 500 juta? Cukup promosi penerimaan mahasiswa baru 10 orang, sudah dapat uang 500 juta atau lebih. Lagi pula siapa yang tidak mau ditawarin masuk ITB?”
“Tapi kan, calon mahasiswa baru itu juga harus lulus seleksi? Tidak sekedar membayar 500 juta!”
“Bagaimana pun kan selalu ada 10 mahasiswa atau lebih yang diterima.”
Saya tercenung. Sampai begitu berat dampak dari sebuah sistem penerimaan mahasiswa baru.
“Saya juga punya pengalaman pahit tentang USM ITB.”
“Apa itu?”
“Masyarakat menganggap bahwa untuk masuk ITB itu cukup hanya dengan bayar mahal saja. Padahal bukan bayarannya yang menentukan kelulusan calon mahasiswa. Tetapi hasil tesnya.”
“Masalahnya apa?”
“Masyarakat tetap menilai bahwa soal-soal test itu hanya permainan belaka. Tetapi yang terpenting adalah setoran uangnya kepada ITB.”
“Mengapa tidak kamu yakinkan bahwa yang terpenting itu hasil testnya, bukan uangnya?”
“Sudah berkali-kali aku coba. Tetapi mereka tetap bersikeras dengan pendiriannya.”
Saya hanya berharap semoga sistem penerimaan mahasiswa baru di Indonesia segera menjadi lebih baik lagi. Demi kebaikan kita bersama. Demi kemajuan pendidikan kita.
Bagi adik-adik yang akan menempuh SNMPTN 2-3 Juli 2008 ini, saya doakan semoga sukses. Teruslah berjuang, belajar dengan baik, dan pantang menyerah. Memang untuk meraih sukses perlu upaya yang tidak mudah dan tidak murah. Jaga semangat tetap tinggi. Maju terus…Sukses menyertai kalian!
Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto; Pendiri APIQ)