Arsip Tag: pembelajaran

Silaturahmi Keluarga Besar APIQ

Dengan hormat, kami mengundang Bapak, Ibu, dan teman-teman sekalian untuk menghadiri acara SILATURAHMI KELUARGA BESAR APIQ yang akan berlangsung pada

hari minggu, 28 Desember 2008

10.00 – 11.30 wib

di Cafe Daun Pisang, jalan Setiabudi Bandung (dekat Borma dan BCA Setiabudi).

Susunan acara:

10.00 – 10.30 : Inovasi Pembelajaran Matematika Kreatif APIQ

10.30 – 11.00 : Inovasi Permainan matematika Kreatif APIQ

11.00 – 11.30 : Diskusi santai

11.30 – ……..  : Makan siang dan ramah tamah.

Bagi teman-teman yang berminat mendapatkan undangan acara ini, silakan hubungi saya melalui email:

quantumyes@yahoo.com

Terima kasih atas kerja samanya.

Salam hangat…

(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

APIQ English Version

Sejak awal saya mengharapkan bahwa APIQ memiliki banyak versi. Tentu saja, versi 1 adalah APIQ berbahasa Indonesia. Kemudian saya ingin mengembangkan APIQ versi bahasa Inggris. Saya membayangkan akan menarik juga bila saya kembangkan APIQ bahasa Jawa, Sunda, Padang, dan lain-lain.

APIQ bahasa inggris menjadi penting karena kita sedang menghadapi globalisasi. Selain bahasa Inggris, APIQ bahasa Arab, Mandarin, Jepang, Perancis akan menjadi pertimbangan utama saya dan seluruh tim.

Dulu hal semacam itu mustahil dapat saya lakukan. Tetapi sekarang, dengan banyak dukungan dari tim APIQ, cita-cita menciptakan APIQ berbagai versi menjadi tantangan yang patut segara kami garap. Bahkan khusus untuk APIQ berbahasa Inggris sudah ada dukungan dari orang tua siswa.

Terima kasih atas dukungan teman-teman dan Bapak Ibu sekalian.

Salam hangat…

(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Keajaiban Otak Kita = Otak Einstein

Otak Anda sehebat otak Einstein!

Prof Marian Diamond – yang membedah otak Einstein – menemukan bahwa otak Einstein sangat mirip dengan otak orang kebanyakan. Hanya otak Einstein lebih terlatih pada sedikit bagian-bagian tertentu saja.

Jika kita melatih otak kita, putra-putri kita, maka kita akan menjadi orang yang sehebat Einstein. Sehebat Einstein dalam bidang masing-masing.

Bagaimana agar kita dapat memanfaatkan otak kita secara maksimal?

Saya telah membuat sebuah tulisan dan ilustrasi-ilustrasi power point untuk Anda.

Bagi yang berminat silakan memesannya melalui email:

quantumyes@yahoo.com

Harga satu file power point ini adalah Rp 40.000,- GRATIS ongkos kirim.
Khusus selama masa promosi kami diskon harga di atas menjadi hanya Rp 5.000,- satu file dengan syarat pembelian minimal 10 file. Untuk melengkapi 10 file atau lebih Anda dapat memilih beberapa program power point berikut ini:

1. Pembelajaran matematika kreatif APIQ untuk anak TK, SD, dan SMP.
2. Pembelajaran matematika kreatif APIQ berhitung cepat pangkat 3 (kubik) dan akar kubik.

Kami akan mengirim file pembelajaran tersebut sesuai pesanan Anda ke email Anda. Biaya dapat Anda transfer ke rekening BNI.

BNI Cabang ITB : 0139220032
atas nama : Cicik C

Terima kasih.

Salam hangat…
(angger: agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

(Bagian 2) Strategi Model Pembelajaran Unggul: Model Ko-Kreasi dalam Interaksi Pembelajaran

Pada akhirnya ujung tombak paling menentukan dalam proses pembelajaran adalah interaksi siswa, guru, dan materi pembelajaran. Kita akan mendiskusikan tiga model interaksi. Kemudian kita dapat menganalisis model yang mana yang paling berpeluang untuk mendorong terjadinya MESTAKUNG.

Model 1: subyek dominan, guru menyampaikan kepada siswa. Dengan perencanaan dan persiapan yang matang, subyek – materi ajar -  telah tersusun rapi. Guru tinggal menyampaikan, menjelaskan, atau sedikit membantu siswa untuk memahaminya. Keunggulan model ini adalah kurikulum tersusun rapi, beban guru ringan, mudah menetapkan standar, dan terkendali.

Contoh paling sukes pendekatan model 1 ini adalah lembaga pendidikan matematika Kumon. Seorang guru di Kumon, dengan disiplin mengikuti prosedur yang telah diatur dengan rapi. Siswa menerima lembaran-lembaran kerja yang telah tersusun dengan urut. Metode Kumon banyak membantu anak-anak belajar matematika. Kumon termasuk lembaga pendidikan paling sukses di Indonesia bahkan di dunia. Kumon telah membuka cabang di puluhan negara.

Apakah metode Kumon dapat kita implementasi untuk sistem pendidikan secara umum? Ada beberapa keuntungan bila kita meniru metode Kumon. Di antaranya, kita akan melatih insan pendidikan kita untuk mempersiapkan perencanaan pendidikan dengan rapi. Jika ini berhasil, ini merupakan kemajuan besar dalam pendidikan kita. Kita jadi lebih mudah untuk memanage pendidikan kita. Tentu saja, kita juga menjadi lebih mudah untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita.

Tetapi beberapa kesulitan juga tidak mudah kita selesaikan. Sudah siapkah insan pendidikan kita menyusun rencana yang matang? Rintangan yang lebih serius adalah bagaimana kita dapat menumbuhkan kreativitas siswa-siswi bila semuanya telah ditetapkan dengan pasti?

Model 2: guru dominan, memilihkan subyek untuk siswa. Dalam model ini guru memiliki keleluasaan untuk menyelenggarakan pembelajaran. Model ini memacu guru untuk terus belajar, menemukan inovasi-inovasi, dan bertanggung jawab terhadap hasil lulusan.

Contoh sukses yang menerapkan model ini adalah ITB ( Institut Teknologi Bandung), secara umum. Dosen-dosen di ITB memiliki keleluasaan bagaimana menyelenggarakan perkuliahan. Bahkan kadang nyaris bebas. Seperti kita ketahui ITB menjadi salah satu lembaga pendidikan terbaik yang dimiliki Indonesia. Tampaknya, kurikulum kita saat ini menuju ke model 2 ini. KTSP memberikan keleluasaan penuh pada setiap satuan pendidikan. Pada gilirannya satuan pendidikan akan menyerahkan tanggung jawab ini kepada para guru.

Apakah model 2 ini akan berhasil untuk pendidikan di Indonesia? Semoga! ITB berhasil dengan model 2 ini juga karena ITB telah memiliki sejarah yang panjang. Dosen ITB sebagian besar pernah kuliah di luar negeri. Mereka tetap menjalin hubungan dengan luar negeri. Bahkan beberapa dosen terjun langsung ke dunia industri. Mereka terus mempelajari sains dan teknologi mutakhir. Sehingga materi yang dipilihkan oleh para dosen hampir selalu materi yang paling mutakhir.

Bila kita mencermati kondisi pendidikan Indonesia secara umum, kita temukan variasi yang sangat beragam. Ada sekolah yang guru-gurunya lulusan dari universitas-universitas besar dunia. Namun ada juga sekolah yang guru-gurunya tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Jadi, tampaknya akan banyak kesulitan di lapangan bila kita mengimplementasikan model 2 ini. Tetapi bukankah kita harus terus berjuang, pantang menyerah, berani menghadapi segala kesulitan agar terjadi MESTAKUNG?

Model 3: interaksi siswa dan subyek adalah utama, guru memfasilitasi. Dalam model ini kualitas interaksi siswa dengan subyek menjadi paling penting. Sebenarnya kualitas interaksi guru dan siswa juga penting. Yang jelas, model ini sangat memperhatikan kualitas dari interaksi itu sendiri.

Dalam model 3 ini perlu persiapan yang matang dan rapi mengenai subyek yang akan diajarkan. Sekolah juga telah mengondisikan agar siswa-siswanya mau berperan aktif dalam pembelajaran. Guru berperan ”sekedar” sebagai fasilitator. Siswa dengan antusias akan mendalami pembelajaran secara mandiri dengan sedikit bantuan guru.

Contoh sukses model 3 ini adalah Stanford University terutama pada disiplin sains komputer. Mahasiswa belajar dari kuliah yang sudah disiapkan dengan rapi oleh para dosen. Mahasiswa juga mendapat kesempatan untuk bertatap muka langsung dengan para wirausahawan Silicon Valey. Biasanya mahasiswa menjadi sangat aktif dengan kuliah itu. Dan dosen memfasilitasi interaksi-interaksi itu serta menjamin kualitas interaksinya. Dari kampus ini sering dilahirkan inovasi-inovasi baru dalam teknologi terdepan. Bahkan Bill Gates – pimpinan Microsoft – memiliki gedung khusus di kampus untuk menampung mahasiswa-mahasiswa berbakat. Dua mahasiswa Stanford beberapa tahun lalu mendirikan perusahaan internet yang sangat sukses yaitu Google.

APIQ mengadopsi model 3 ini. Para guru dan tim APIQ telah menyiapkan materi ajar yang rapi. Tujuan persiapan ini adalah untuk memicu interaksi kreatif antara guru, siswa, dan materi ajar yang berkualitas. Karena kualitas interaksi menjadi fokus utama dalam pembelajaran APIQ maka improvement menjadi sebuah keharusan. Jadi, tidak ada kata sempurna dalam pembelajaran. Selalu ada peluang untuk perbaikan.

Apakah model 3 ini akan sesuai untuk pendidikan Indonesia? Ada banyak keunggulan bila kita menerapkan model 3 ini. Model 3 ini menuntut agar insan pendidikan kita melakukan perencanaan yang matang dan rapi. Tetapi perencanaan yang matang ini berbeda dengan perencanaan yang disiapkan model 1. Model 3 ini meskipun sudah memiliki perencanaan yang matang tetap fleksibel dalam implementasinya. Karena yang paling utama dalam model 3 ini adalah kualitas interaksi antara siswa, subyek, dan guru. Jadi, perencanaan berperan untuk memicu terjadinya interaksi berkualitas. Interaksi berkualitas inilah yang mengarah ke ko-kereasi: kreasi bersama guru dan siswa.

Dalam interaksi ini berpeluang muncul inovasi-inovasi baru baik dari siswa mau pun dari guru. Mungkin juga terjadi masalah-masalah baru karena interaksi ini. Hal ini dapat mengantarkan pada kondisi kritis. Bila benar-benar kita pantang menyerah untuk terus maju, kondisi kritis ini akan mengantar pada MESTAKUNG.

Dari tiga model yang kita diskusikan di sini, model 3 yang paling berpeluang untuk mengantarkan peningkatan kualitas pendidikan kita. Bahkan model 3 dapat mengundang terjadinya MESTAKUNG. Tetapi tidak mudah. Bukankah pendidikan kita pernah menerapkan model 3 ini? Dan ternyata gagal, CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif).

CBSA memang mengarah ke model 3 ini. Tetapi kenyataan di lapangan CBSA sangat berbeda dengan model 3. Perbedaan utamanya adalah model 3 menuntut persiapan yang matang dari guru dan lembaga pendidikan sehingga terpicu interaksi yang berkualitas berupa ko-kreasi. Siswa dan guru bersama-sama aktif. Meskipun peran aktif guru terutama sebagai fasilitator. Sedangkan CBSA, kenyataan di lapangan, mengarah pada memindahkan tanggung jawab pembelajaran kepada siswa. Peran guru dan lembaga pendidikan tampak masih kurang untuk menciptakan lingkungan yang memicu ko-kreasi.

Belajar dari pengalaman kita dan teori yang terus berkembang, kita dapat optimis bahwa kualitas pendidikan kita akan terus bertambah unggul. Model 3 juga menjanjikan bahwa kita dapat melahirkan inovasi-inovasi baru dalam pendidikan. Semoga!

Bagaimana pendapat Anda?

Semoga bermanfaat…

Salam hangat…

(angger: agus Nggermanto; Pendiri APIQ)

Strategi Model Pembelajaran Unggul: Model Ko-Kreasi dalam Interaksi Pembelajaran

Siswa-siswa di sekolah itu banyak yang tidak memakai sepatu pergi ke sekolah. Tidak pakai sepatu mereka sebut dengan ”nyeker”. Mereka nyeker karena memang orang tua mereka tidak mampu membelikan sepatu untuk sekolah anak-anaknya. Dan kalau pun anak-anak itu memiliki sepatu untuk sekolah, mereka tetap sering nyeker. Musim hujan tiba. Sekolah banjir. Tidak ada pilihan selain nyeker. Kita bisa membayangkan seburuk apakah fasilitas yang dimiliki sekolah itu. Namun sekolah itu beruntung memiliki seorang guru hebat: Pak Ruslan.

Pak Ruslan mengawali pelajaran dengan sebuah dongeng. Ia sering membawakan dongeng kancil. Tampak jelas dari caranya bercerita, Pak Ruslan sangat menjiwai alur ceritanya. Semua siswa terpana mengikuti cerita demi cerita. Kemudian Pak Ruslan akan membimbing siswanya belajar baca, menulis, dan berhitung dengan riang gembira.

Selesai belajar, seorang siswa kelas 1 SD mengagetkan temannya dengan membentak, ”Jlitheng, blang gentak!” Pak Ruslan ikut kaget mendengar bentakan itu.

”Anto, sini dulu!” Pak Ruslan memanggil anak yang berteriak tadi.
”Barusan kamu bilang apa ke temanmu?”
”Hanya main-main Pak.”
”Coba kamu ucapkan sekali lagi!”
”Jlitheng, blang gentak.”
”Kalau kamu bisa menuliskan apa yang baru kamu katakan, Bapak akan beri  kamu nilai 9 di raport.”

Pelan-pelan Anto mencoba menuliskan apa yang baru ia ucapkan di papan tulis. Ternyata Anto berhasil. Dan Anto memperoleh nilai 9 tanpa test.

Kelak, Anto terbukti menjadi siswa yang sangat kreatif baik di pendidikan dasar, menengah, mau pun pendidikan tinggi. Anto berhasil masuk universitas paling bergengsi di Indonesia. Dan ia menemukan berbagai inovasi-inovasi penting. Keberanian Pak Ruslan bertindak merespon situasi sangat tepat. Dengan cara seperti ini Pak Ruslan menciptakan suasana interaksi yang hidup. Dalam istilah mutakhir, Pak Ruslan telah melakukan ko-kreasi: berkreasi bersama siswa.

Pada akhirnya ujung tombak paling menentukan dalam proses pembelajaran adalah interaksi siswa, guru, dan materi pembelajaran. Kita akan mendiskusikan tiga model interaksi. Kemudian kita dapat menganalisis model yang mana yang paling berpeluang untuk mendorong terjadinya MESTAKUNG.

Model 1: subyek dominan, guru menyampaikan kepada siswa. Dengan perencanaan dan persiapan yang matang, subyek – materi ajar -  telah tersusun rapi. Guru tinggal menyampaikan, menjelaskan, atau sedikit membantu siswa untuk memahaminya. Keunggulan model ini adalah kurikulum tersusun rapi, beban guru ringan, mudah menetapkan standar, dan terkendali.

Contoh paling sukes pendekatan model 1 ini adalah lembaga pendidikan matematika Kumon. Seorang guru di Kumon, dengan disiplin mengikuti prosedur yang telah diatur dengan rapi. Siswa menerima lembaran-lembaran kerja yang telah tersusun dengan urut. Metode Kumon banyak membantu anak-anak belajar matematika. Kumon termasuk lembaga pendidikan paling sukses di Indonesia bahkan di dunia. Kumon telah membuka cabang di puluhan negara.

Apakah metode Kumon dapat kita implementasi untuk sistem pendidikan secara umum? Ada beberapa keuntungan bila kita meniru metode Kumon. Di antaranya, kita akan melatih insan pendidikan kita untuk mempersiapkan perencanaan pendidikan dengan rapi. Jika ini berhasil, ini merupakan kemajuan besar dalam pendidikan kita. Kita jadi lebih mudah untuk memanage pendidikan kita. Tentu saja, kita juga menjadi lebih mudah untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita.

Tetapi beberapa kesulitan juga tidak mudah kita selesaikan. Sudah siapkah insan pendidikan kita menyusun rencana yang matang? Rintangan yang lebih serius adalah bagaimana kita dapat menumbuhkan kreativitas siswa-siswi bila semuanya telah ditetapkan dengan pasti?

(bersambung…)

Salam hangat

(angger:agus nggermanto;pendiri APIQ)

Tinggal Pilih: Bocoran Soal UN 2008, Contekan, atau Rajin Belajar untuk UN

Banyak taktik dan strategi untuk lulus UN 2008 (UASBN 2008). Mendapatkan bocoran UN adalah salah satu taktik yang paling favorit, paling mudah, dan paling terjamin. Sementara itu UN 2008 pasti bocor: baik bocoran cerdik atau bocoran curang. Untuk lebih detil mengenai jenis bocoran UN 2008 silakan membaca tulisan saya sebelumnya.

Apakah taktik memanfaatkan bocoran UN 2008 itu memang taktik terbaik?

Mungkin YA!
Mungkin juga TIDAK!

Ketika saya masih muda dulu, saya berpikir cara terbaik untuk lulus UN adalah dengan rajin belajar. Dengan belajar kita menguasai ilmu itu dengan sebenar-benarnya. Kita tidak hanya lulus ujian, tetapi kita benar-benar memahami ilmu itu. Setelah mengalami banyak fase kehidupan, saya berubah pikiran. Rajin belajar bukan selalu menjadi solusi terbaik untuk lulus UN.

Memanfaatkan bocoran UN dan menyontek (contekan) untuk UN mungkin dapat membantu sukses UN.
Bukankah itu curang?
Ada apa dengan curang?
Bukankah tujuan pendidikan adalah untuk menanamkan nilai-nilai luhur?
Lalu mengapa kelulusannya ditentukan (hanya) oleh UN?

Bagi saya konsep bocoran dan contekan tidak ekivalen dengan curang. Saya tidak setuju dengan kecurangan. Bocoran dan contekan adalah strategi belajar yang jitu. Bila Anda ingin sukses seperti Bill Gates, carilah bocoran rahasia suksesnya Bill Gates. Bila Anda ingin sukses seperti Warren Buffet, conteklah rahasia sukses Warren Buffet. Masuk akal kan?

Saya masih menghimbau kepada yang berwenang (pemerintah, Diknas?):
Tolong keluarkan (terbitkan) bocoran UN 2008 yang legal. Keluarkan jenis bocoran cerdik. Agar putra-putri kita dapat fokus belajar untuk sukses UN 2008. Bocoran legal yang cerdik ini juga untuk mengurangi – kalau bisa menghilangkan – bocoran curang.

Pesan saya kepada Adik-adik yang akan menempuh UN 2008: teruslah berjuang, jangan pernah menyerah, tidak ada yang dapat menghalangi kamu meraih sukses jika kamu pantang menyerah. Raihlah masa depanmu yang cerah!

Salam perjuangan…

(agus Nggermanto; Pendiri APIQ)

Cara Berhitung Cepat Matematika Statistik UN

Sudah langganan dari tahun ke tahun, statistik selalu muncul dalam UN, SPMB, UMPTN, atau SMN PTN ( atau apa pun namanya nanti). Soal SPMB biasanya lebih cerdik dari soal UN. SPMB memancing beberapa teknik berpikir tertentu. Tetapi UN kadang hanya mengandalkan hafalan rumus statistik. Saya sendiri lebih menyukai soal yang tipe cerdik.

Topik paling sering muncul dalam statistik adalah menghitung nilai rata-rata (mean). Tentu konsep rata-rata (mean) sangat sederhana. Hanya cara menghitungnya yang kadang agak menakutkan. Kita harus menjumlahkan semua data kemudian membagi dengan banyaknya data.

Contoh soal.
Dari 11 siswa yang diukur tinggi badannya, diperoleh data tinggi (dalam cm): 118, 119, 120, 120, 120, 121, 122, 122,123,123, 123. Berapa rata-rata tinggi badan dari 11 siswa tersebut?

Pertama, tinggal jumlahkan semua lalu bagi dengan 11. Tentu kita dapat melakukannya. Hanya masalah semangat saja kan?

Kedua, cobalah menggeser data agar lebih sederhana.

Saya pernah bertemu dengan seorang lulusan matematika ITB yang ahli statistik. Saya bertanya apakah cara menggeser data ini dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah?

Sang ahli statistik itu mengatakan,
”Dalam istilah statistik hal itu disebut dengan transformasi data. Tetapi saya tidak menyangka cara ini dapat kita gunakan untuk menyelesaikan soal UN dan SPMB. Saya sering menggunakannya untuk menghitung data statistik yang rumit.”

Bagaimana cara melakukan menggeser data?

Intinya adalah buat lebih sederhana. Misalnya, 120 kita geser menjadi 0 maka datanya menjadi:
 -2, -1, 0, 0, 0, 1, 2, 2, 3, 3, 3.
Jumlah dari seluruh data = 11.
Maka rata-rata =  11/11 = 1.
Kita peroleh rata-rata sebenarnya = 1 + 120 = 121 (Selesai).

Mungkin beberapa di antara kita ada yang tidak suka dengan bilangan negatif. Maka anggaplah data paling kecil = 0. Jadi 118 kita anggap 0. Maka data tergeser menjadi:
0, 1, 2, 2, 2, 3, 4, 4, 5, 5, 5
Jumlah dari seluruh data = 33
Maka rata-rata = 33/11 = 3.
Kita peroleh rata-rata sebenarnya = 3 + 118 = 121 (Selesai).

Contoh soal:
Dari sebuah tes matematika,
5 anak memperoleh nilai 65,
7 anak memperoleh nilai 70,
8 anak memperoleh nilai 80,
5 anak memperoleh nilai 85,
Berapa nilai rata-rata dari 25 anak di atas?

Pertama, jumlahkan (5×65) + (7×70) + (8×80) + (5×85). Kemudian bagi hasilnya dengan 25. Kita akan memperoleh nilai rata-rata yang diinginkan.

Kedua, geser 65 menjadi 0.
Jumlahkan (5×0) + (7×5) + (8×15) + (5×20) = 255
Maka rata-rata = 255/25 = 10,2
Kita peroleh rata-rata sebenarnya = 10,2 + 65 = 75,2 (Selesai).

Contoh-contoh di atas merupakan contoh sederhana. Tapi cukup jelas mengilustrasikan maksud untuk memudahkan perhitungan rata-rata. Dengan berlatih mengerjakan beberapa soal lagi, saya yakin, kita akan menguasainya dengan baik.

Selamat berjuang….Semoga sukses!
Bagaimana pendapat Anda?

Salam hangat…
(agus Nggermanto; Pendiri APIQ)
 

Evolusi Metamorfosis Kursus Matematika Kumon dan Sempoa

Membaca iklan Kumon yang mempromosikan kursus matematika dan bahasa Inggris, mengingatkan saya kepada seorang teman. Lebih tepatnya, istri saya yang ingat duluan. Teman saya itu adalah kepala pengelola bisnis kursus sempoa yang sangat sukses di jamannya. Saat ini bisnis kursus sempoa memang sedang surut. Tetapi, teman saya itu orangnya sangat baik. Dia tidak murni mencari keuntungan uang dalam bisnis sempoa itu. Dia punya misi ikut mencerdaskan putra-putri melalui matematika.

Bisnis sempoanya telah tersebar luas. Jaringannya hampir ada di seluruh Indonesia. Tapi saat ini jumlah siswa hanya sedikit. Secara kreatif ia mengambil langkah baru. Kini kursus sempoa itu berubah menjadi kursus bahasa Inggris. Saya kagum. Langkah yang bagus. Saya sangat mendukung.

Apakah langkah ini meniru langkah Kumon? Saya tidak tahu. Seandainya memang meniru Kumon, tetap saja, ini adalah terobosan bagus.

Bahasa Inggris sangat diperlukan oleh putra-putri kita. Ketika globalisasi semakin menguat, dengan diperkuat oleh fenomena internet blogging, putra-putra kita semakin membutuhkan bahasa internasional. Bahasa internasional paling umum adalah bahasa Inggris disusul bahasa Arab, Jepang, Mandarin, dan lain-lain.

Jadi, kursus bahasa Inggris lebih penting dari matematika? Tidak. Tidak begitu maksud saya. Maksud saya adalah kursus bahasa Inggris lebih penting dari kursus sempoa – mohon tetap membedakan antara kursus sempoa dengan kursus matematika.

Bolehkah saya menyimpulkan kursus yang terbaik adalah Kumon? Karena Kumon mengajarkan bahasa Inggris dan matematika, betul kan? Bila anak Anda cocok, kesimpulan di atas menjadi benar. Tetapi bila anak Anda tidak cocok dengan metode Kumon jangan memaksanya! Bisa berbahaya.

Apakah APIQ akan memberikan kursus bahasa Inggris?
Hmmm… ide menarik!
Saya pikir-pikir dulu deh.

Awalnya saya berpikir APIQ akan hanya berfokus pada kursus matematika. Dengan fokus saya berharap APIQ dapat memberikan pembelajaran matematika yang unggul. Saya menilai keberhasilan Kumon justru karena fokus kepada matematika. Berbeda dengan lembaga bimbingan belajar yang serba bisa: matematika, bahasa Inggris, fisika, kimia, biologi, dan lain-lain. Fokus kepada matematika memberi nilai lebih bagi Kumon.

Mungkin APIQ bisa meniru langkah Google. Google hanya fokus pada search engine. Google telah membuktikan menjadi nomor satu di dunia maya dalam search engine dengan strategi fokus. Google ingin melebarkan kekuatan ke search engine video. Tetapi Google kalah melawan Youtube.com. Semakin Google berjuang, Youtube semakin unggul.

Bukan Google namanya, bila gampang menyerah. Dari pada repot-repot bertanding lawan Youtube, Google malah merangkul Youtube. Google membeli Youtube. Kini Youtube masuk dalam grup Google. Google telah mengakuisisi Youtube.

Kelak, mungkin, APIQ akan mengakuisisi kursus bahasa Inggris terbaik yang pernah ada. Mengapa tidak? Mimpi boleh-boleh saja kan?   

Bagaimana pendapat Anda?

Salam hangat…
(agus Nggermanto; Pendiri APIQ) 
 

APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ membuka peluang bagi Anda yang berminat membuka cabang franchise. Anda dapat menghubungi APIQ di apiq.wordpress.com atau 0818 22 0898 atau quantumyes@yahoo.com . APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum.
 

Lompatan Iqra

Beberapa bulan lalu, anak-anak saya belajar baca AlQuran di TPA (Taman Pendidikan AlQuran) dekat rumah. Entah karena apa, TPA itu tutup, tidak berlanjut. Kemudian kami mengundang Ustadzah untuk mengajari baca Quran di rumah setiap Sabtu dan Minggu. Anak-anak senang belajar Iqra. Tidak lama kemudian Ustadzah itu minta ijin untuk berhenti. Ia akan segera menikah dan pergi merantau bersama suaminya. (Ngomong-ngomong mereka berjodoh melalui internet blogging lho…)

Wah… bagaimana cara mengajari anak-anak saya baca Quran ya? Saya ingat waktu di Tulungagung dulu belajar baca Quran itu setiap habis magrib. Tapi siapa yang akan mengajar?

Saya putuskan anak-anak untuk belajar Iqra setiap habis magrib bersama bapaknya. Di luar dugaan, anak-anak malah senang dapat Ustadz baru itu. Saya benar-benar kagum dengan metode Iqra. Bahkan anak saya yang masih 5 tahun sudah sampai Iqra 5. Terima kasih dan salam kepada KH. As’ad Humam – penemu Iqra.

Mengajari anak setiap hari baca Iqra menjadi tanggung jawab tersendiri bagi bapaknya. Belum lagi bapaknya kadang-kadang belum sampai rumah di saat magrib. Bagaimana cara mengatasinya? Bagaimana menurut Anda?

Mitos-mitos Cara Berhitung Cepat Matematika yang Berguna untuk UN, SPMB, UMPTN

Mitos selalu megagumkan. Jika tidak mengagumkan mengapa disebut mitos? Mitos cara berhitung cepat matematika adalah salah satu kesukaan saya.

Seorang guru SD yang mengajar matematika merasa ngantuk. Karena semalaman ia tidak tidur nonton bola sampai pagi. Otaknya berjalan. Mencari cara agar bisa tidur tapi harus mengajar matematika kelas 3 SD.

”Anak-anak, sekarang kita belajar berhitung. Hitunglah berapa hasil penjumlahan bilangan 1 + 2 + 3 + 4 + ….. sampai + 2000?”

Dengan hati senang guru itu berpikir, ”Kreatif juga ya saya ya!”
Guru itu duduk. Pura-pura baca buku. Lalu tidur. Satu jam pelajaran tidak mungkin ada anak yang dapat menyelesaikan tugas itu.

Baru satu menit berlalu, seorang siswa mengacungkan tangan,
“Saya sudah selesai Pak!”
“Ah…masak?”

Guru itu tidak percaya. Tanpa kalkulator, tanpa sempoa, tanpa komputer mana mungkin bisa menghitung secepat itu? Bahkan dengan alat bantu pun masih perlu waktu cuku lama.

“Coba tunjukkan mana hasilnya?”
“2.001.000”
“Bagaimana caranya?”

Tentu jika kita menghitung dengan cara biasa, satu jam juga tidak akan selesai. Mungkin malah salah hitung. Siswa kecil itu menghitung dengan cara memasangkan bilangan pertama dan terakhir.

1 + 2000 = 2001
2 + 1999 = 2001
3 + 1998 = 2001

dan seterusnya…jumlah setiap pasangan awal dan akhir selalu = 2001. Kemudian siswa itu berpikir, ” Dari 2000 bilangan, dipasang-pasangkan terbentuk 1000 pasang bilangan. Jadi kita peroleh jumlah seluruhnya adalah 2001 x 1000.”

2001 x 1000 = 2.001.000 (Selesai).

Guru itu heran, kagum, tidak jadi tidur. Stress…malahan.

Kabarnya, siswa kecil itu bernama Gauss. Tokoh besar matematika sepanjang jaman asal Jerman. Orang meragukan apakah cerita di atas benar-benar terjadi pada Gauss atau hanya mitos tentang Gauss. Meski pun seandainya hanya mitos, kisah di atas banyak memberi inspirasi.

Orang-orang yang mendengar cerita itu dari saya sering mengatakan bahwa anak kecil itu bukan bernama Gauss tapi Agus. Agak mirip memang. Mitos baru lagi!

Saya sendiri mendengar cerita di atas pertama kali dari guru matematika SMP 2 Tulungagung: Pak EKO, Mr X. Pak Eko adalah guru matematika yang hebat. Ia dapat menjelaskan matematika SMP dengan sederhana dan akrab dengan para siswa. Tetapi masalah PR, Pak Eko tidak akan kompromi.

Biasanya, Pak Eko memberi PR untuk mengerjakan soal nomor 50 sampai 70. Jam pelajaran matematika dimulai. Semua anak merasa tegang karena Pak Eko akan memeriksa PR yang nomor 50 sampai 70 itu. Pemeriksaan dimulai dari bangku paling depan.

Siswa yang tertangkap basah tidak mengerjakan PR akan mendapat hukuman. Dicubit tangannya atau telinganya atau lainnya. Sakit sekali rasanya, meski pun hukuman itu sambil bercanda.

Saya aman karena duduk di bangku belakang. Tetapi saya belum mengerjakan PR itu. Hanya menunggu waktu, Pak Eko pasti mendekati bangku saya dan….hukuman itu menimpaku.

Sebelum Pak Eko mendekat, saya buru-buru mengerjakan PR nomor 69 – tidak yakin benar atau salah. Kemudian segera mengerjakan nomor 70 – tidak tahu benar atau salah. Langsung saya lanjutkan nomor 71 – saya yakin nomor ini benar. Ketika saya mulai mengerjakan nomor 72, Pak Eko sudah mendekat ke bangkuku.

”Pak, nomor 72 begini ya, cara mengerjakannya?”
”Coba saya lihat….”

Pak Eko tampak mengangguk-anggukkan kepala. Dengan bangga Pak Eko mengatakan,
”Hai kalian, anak-anak! Contohlah Angger ini! PR hanya sampai nomor 70 tapi ia sudah menyelesaikan sampai nomor 72.”

Setelah kejadian itu tersebar mitos bahwa Angger rajin mengerjakan PR matematika. Itu memang hanya mitos. Tetapi mitos itu membuat saya harus membuktikannya. Akhirnya setiap ada PR saya selalu mengerjakannya dengan baik. Terima kasih Pak EKO, Mr X.

Saya belum pernah menceritakan rahasia ini kepada Pak Eko secara langsung. Paling saya menceritakan hanya ke beberapa teman SMP2 Tulungagung. Semoga Pak Eko tidak marah dan memaafkanku atas kejadian waktu itu. Doa ku untukmu Pak Eko, guru matematika terbaikku.

Mitos bisa berguna lebih dari keabsahan mitos itu. Mari kembali kepada Gauss. Pemahaman cara berhitung deret cara Gauss ini sangat membantu untuk menyelesaikan soal UN, SPMB, dan UMPTN.

Contoh soal:
Seorang ibu membagikan permen kepada 8 anak-anaknya sesuai dengan aturan deret aritmetika. Anak paling muda memperoleh permen paling banyak. Jika anak kedua mendapat 7 permen dan anak ketujuh mendapat 27 permen, berapa banyak seluruh permen yang dibagikan oleh ibu itu kepada 8 anaknya?

Pertama, kita buat deretan bilangan-bilangan yang mungkin:

…, 7, … …. …27, ….

Dengan cara coba-coba kita akan berhasil menemukan barisan bilangan yang tepat – bila beruntung. Setelah itu, jumlahkan seluruh bilangan tersebut. Kita akan memperoleh barisan berikut:
3, 7, 11, 15, 19, 23, 27, 31
Jumlahkan seluruh bilangan di atas.

Kedua, gunakan rumus deret aritmetika.
Suku ke-2 = 7 = a + b. 
Suku ke-7 = 27 = a + 6b
Dengan dua persamaan di atas kita peoleh nilai a dan b. Lalu hitung jumlah 8 suku pertama.

Ketiga, gunakan cara Gauss di atas. Pasangkan awal dan akhir.
(7 + 27) x 4 = 136 (Selesai)

Latihlah beberapa alternatif cara penyelesaian. Pasti kita akan memperoleh banyak kemajuan. Semoga sukses UN, SPMB, dan UMPTN. Selamat berjuang!

Salam hangat…
agus Nggermanto