Jika kita berhasil mengubah setiap nasib buruk menjadi nasib baik maka sangat membahagiakan. Bagaimana caranya?
Saat itu Paman APIQ sedang bersantai ngobrol bersama Al. Paman APIQ mencoba bercerita. Paman APIQ terkejut ternyata Al, yang masih berumur 5 tahun, dapat memahami cerita tersebut.
….
Ada seorang kakek tua yang hidup dengan anak lak-lakinya yang masih muda dan memiliki seekor kuda.
Suatu hari anaknya terjatuh dari kuda sehingga kaki kirinya patah. Para tetangga menjenguk si kakek.
“Aduh Kakek, kasihan sekali Kamu. Siapa lagi yang merawatmu? Satu-satunya anakmu kini sakit. Kamu sungguh bernasib buruk,” kata seorang tetangga.
“Sudahlah, jangan Kau bilang ini nasib buruk atau baik. Ini memang sudah semestinya terjadi,” sahut si kakek.
Para penduduk merasa kasihan pada si kakek. Sudah dirundung nasib buruk tapi belum menyadarinya.
Besoknya, karena kudanya tidak ada yang memelihara maka menghilang pergi ke tengah hutan.
“Aduh Kakek, Kamu benar-benar bernasib buruk. Kemarin anakmu yang kakinya patah. Kini satu-satunya kudamu malah hilang,” kata penduduk.
“Sudahlah, jangan Kau bilang ini nasib buruk atau baik. Ini memang sudah semestinya terjadi,” sahut kakek dengan tenang.
Para penduduk semakin kasihan dengan si kakek. Sudah tertimpa nasib buruk dan tampaknya sudah mulai pikun.
Beberapa hari kemudian tersiar kabar terjadi peperangan di negeri itu. Kerajaan kekurangan pasukan. Sehingga raja memerintahkan agar setiap pemuda yang sehat harus ikut perang. Demikian juga di desa si kakek tinggal. Semua pemuda ikut perang kecuali anaknya si kakek karena kakinya sedang sakit.
“Kakek, Kamu sungguh bernasib baik. Anak laki-laki kami semua ikut perang. Sedangkan anakmu bisa tinggal di ruman,” komentar penduduk.
“Sudahlah, jangan Kau bilang ini nasib baik atau buruk. Ini memang sudah semestinya terjadi,” sahut kakek.
Beberapa hari kemudian terdengar kabar bahwa pemuda yang ikut perang dari desa itu gugur semua di medan tempur. Sedangkan si anak kakek kakinya mulai sembuh.
Lalu kuda yang tadinya kabur ke hutan pulang kembali ke rumah kakek. Bahkan kuda ini sambil membawa lima ekor kuda liar masuk ke kandang.
“Waduh Kakek, Kamu benar-benar bernasib baik!” seru penduduk.
“Sudahlah, jangan Kau bilang ini nasib baik atau buruk. Ini memang sudah semestinya terjadi,” sahut kakek.
….
Al tertawa, “Hahaha… kudanya menjadi 6 dong!”
Paman APIQ sama sekali tidak menduga akan ada komentar Al seperti itu.
Bagaimana menurut Anda?
Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)