Arsip Kategori: parenting

Jangan Menonton TV

Akhirnya telah kami ambil kesepakatan – dengan proses diplomasi yang panjang dan alot.

“Tidak diijinkan menonton TV sampai batas waktu yang tidak ditentukan.”

Nah… bagi saya tidak ada masalah. Toh saya memang tidak pernah nonton TV. Tetapi bagi beberapa anggota yang sering nonton TV, ini merupakan perjuangan tersendiri. Layaknya berpuasa, berpuasa dari nonton tv. Tetapi belum tahu kapan waktunya berbuka.

Pertimbangan kami adalah nonton tv lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya.

Yang jelas dengan diberlakukannya larangan nonton tv terjadi banyak kemajuan:

1. Anak-anak tambah kenceng dalam kegiatan membaca. Membaca buku sekolah, buku umum, komik, koran, majalah, dan lain-lain.

2. Mereka – anak-anak tersayang- mendirikan perpustakaan khusus buku anak-anak di ruang nonton TV.

3. Mereka menciptakan banyak permainan kreatif seperti mino milenium.

4. Mereka berolahraga, jogging minggu pagi. Bapaknya sih…badminton.

5. dan lain-lain.

Bagaimana dengan Anda?

Salam hangat…

(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Quantum Parenting: Pilihan dari berbagai Sumber

“Mas anakmu berapa?”
“Baru 5 Pak,” jawab saya.
“Lima? Anak lima kok baru?”
“Maksud saya, baru beberapa bulan ini anakku jadi 5. Belum tahu satu tahun atau dua tahun ke depan,” saya sedikit menjelaskan.

Hari gini…anak 5?
Percayalah…tidak mudah menjadi orang tua di jaman seperti ini. (Tapi tidak tahu juga ya, di jaman kita kecil dulu, susah tidak ya jadi orang tua?)

Pengaruh TV sangat membahayakan. Saya termasuk liberal dalam mengatur tontonan TV. Maksudnya, anak-anak saya bebas-bebas saja mau nonton tv mau tidak. Saya sendiri hampir tidak pernah nonton tv sama sekali kecuali tidak sengaja.

Beberapa minggu terakhir ini, kami memberlakukan larangan menonton tv kepada anak-anak saya.
Hasilnya?

Luar biasa…!
Anak-anak bertambah kreatif, inovatif, sehat (jasmani, rohani). Hobi baca bukunya tambah kenceng…

Nah…ceritanya…saya itu mau menulis tentang Quantum Parenting. Tapi belum selesai. Sedangkan saya sudah mengumpulkan banyak ide dari berbagai sumber. Dari pada saya simpan di komputer saya sendiri, mendingan saya simpan di blog saja.

Silakan menikmati…bagi yang berselera. Semoga bermanfaat…

###

If a child lives with criticism,
She learns to condemn.
If a child lives with hostility,
He learns to fight.
If a child lives with ridicule,
She learns to be shy.
If a child lives with shame,
He learns to feel guilty.

If a child lives with tolerance,
She learns to be patient.
If a child lives with encouragement,
He learns confidence.
If a child lives with praise,
She learns to appreciate.
If a child lives with fairness,
He learns justice.
If a child lives with security,
She learns to have faith.
If a child lives with approval,
He learns to like himself.

If a child lives with acceptance and friendship,
She learns to find love in the world.
………..

Jika Anak dibesarkan dengan celaan,
Ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
Ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,
Ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan,
Ia belajar menyesali diri.

Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
Ia belajar menghormati.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
Ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian,
Ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan perlakuan adil,
Ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman,
Ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan,
Ia belajar menyenangi dirinya.

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

(Dorothy Law Nolte)

Mau menjadi orang tua efektif dunia akhirat?
Lanjutkan kalimat berikut ini:
• Anak adalah……………………..
• Anak saya cerdas jika……………..
• Anak saya bodoh jika…………………
• Saya berbahagia jika anak saya………….
• Saya mudah jengkel jika anak saya………..
Coba cermati pertanyaan berikut:
1. Anak, banyak memberi atau lebih banyak meminta?
2. Anak-anak semakin nakal atau orangtua semakin tidak sabar?
3. Orangtua memahami anak atau anak memahami orangtua?
4. Siapa anak kita itu?
Setelah anda menjawab semua pertanyaan di atas, tolong cermati yang berikut ini.
Beberapa paradigma alternatif
1. Anak anugerah terindah dalam rumah tangga. (Anda akan sangat bersyukur jika sudah dikaruniani seorang atau lebih anak)
o Anak memberi kebahagiaan sejak lahir. Siapa yang gak bahagia waktu anak kita lahir? Hayo.. angkat jempol!
o Anak banyak mendatangkan rejeki bagi kita.
2. Anak adalah fitrah (Setiap bayi yang lahir itu fitrah, orangtuanyalah yang menjadikannya majusi, nasrani). Pilihan pendidikan anak:
o Anak soleh/solehah
o Anak hiasan dunia (juara kelas, kebanggaan dunia)
o Anak fitnah
o Anak sebagai musuh
3. Setiap anak adalah cerdas
4. Anak ibarat wadah (menampung semua dari indranya)
5. Anak adalah pintu kebaikan kita (pernahkah anda diingatkan oleh anak?!)
6. Anak adalah sahabat baik kita (untuk anak seusia 12 tahun keatas)
Nah, kita juga harus tahu otak manusia. Otak manusia adalah:
• Raksasa tidur.. mau coba membangunkan? tolong diingat kejadian yang sangat mengesankan yang terjadi 20 tahun yang lalu. Anda akan sangat ingat sampai sedetil-detilnya.
• Menakjubkan
• Bukan wadah untuk diisi, tetapi api yang siap untuk dipijarkan –> tolong dipicu dengan dialog dan tanya jawab.
• Otak bagaikan otot tubuh–> perlu dilatih
• Otak tidak pernah istirahat
Potensi Otak
• 1 Trilliun neuron
• 100 milyar sel syaraf akfif
• 900 milyar sel pendukung
• Bekerja secepat kilat
• Tiap-tiap neuron dapat tumbuh hingga 20 ribu cabang
• Ibarat alam semesta mini
Proses pertumbuhan otak
1. Otak embrio menghasilkan neuron atau sel saraf jauh lebih banyak daripada yang dibutuhkan
2. Neuron yang tetap bertahan mengeluarkan akson (sambungan transmisi jarak jauh sistem saraf) . Di ujungnya akson mengeluarkan cabang.
3. Sambungan spontan kegiatan listrik, memperkuat beberapa sambungan ini, sementara lainnya (sambungan yang tidak diperkuat oleh kegiatan) mengalami atrofi (menyusut sampai lenyap).
4. Sesudah kelahiran, otak mengalami lonjakan pertumbuhan kedua, akson (yang mengirim sinyal) dan dendrit (yang menerima sinyal) mengadakan banyak sekali sambungan baru. Kegiatan listrik yang dipicu oleh banjir pengalaman indra, memperhalus peruntaian otak menentukan sambungan mana yang akan dipertahankan
2 Belahan Otak
Kiri menyimpan logika, tulisan, angka, hitungan, urutan, analisa
Kanan menyimpan imajinasi, musik, warna, emosi, bentuk, kreatifitas
3 Lapisan Otak
1. Batang Otak (otak reptil) berfungsi untuk
o Motor sensorik
o Kelangsungan hidup
o Hadapi atau lari
2. Otak Limbik (otak mamalia) berfungsi untuk
o Perasaan/emosi
o Memori
o Bioritmik
o Sistem kekebalan tubuh
3. Otak Berfikir (Neocortex) berfungsi untuk
o Berfikir intelektual
o Penalaran
o Perilaku waras
o Bahasa
4 Gelombang Otak
• BETA (13-28 CPS)
o Kondisi aktif bergerak, pikiran bercabang
• ALFA (7-13 CPS)
o Keadaan relaksasi, tanpa stress
• TETA (3.5-7 CPS)
o Kondisi pikiran kreatif, genius, penyembuhan hebat, inspiratif
• DELTA (0.5-3.5 CPS)
o Tidur nyenyak tanpa mimpi, penyembuhan alamiah, brain cleansing, tumbuh sel-sel baru.
Gelombang-gelombang inilah yang harus kita manfaatkan dengan baik jika menginginkan otak anak kita berkembang dengan sempurna….
Parenting models, tools, philosophies and practices
Conventional models of parenting
• “Rules of traffic” models
It is an instructional approach to upbringing. Parents explain to their children how to behave, assuming that they taught the rules of behavior as they did the rules of traffic.
• “Fine gardening” model
Parents believe that children have positive and negative qualities, the latter of which parents should “weed out” or “prune” into an appropriate shape. The problem in this parenting method is that parents fight with the faults of their child rather than appreciate their current achievements and/or capabilities; a method which may continue through their whole life without success.
• “Reward and punishment” model
“RaP” is a most popular model of parenting based on logic: for a good action – a reward/praise and for a bad action – a punishment/scolding/reprimand.

Modern models of parenting
• Examples of modern parenting models
“Nurturant parent model”
A family model where children are expected to explore their surroundings with protection from their parents.
“Strict father model”
Places a strong value on discipline as a means to survive and thrive in a harsh world.
“Attachment parenting”
Seeks to create strong emotional bonds, avoiding physical punishment and accomplishing discipline through interactions recognizing a child’s emotional needs all while focusing on holistic understanding of the child.
“Taking Children Seriously”
Sees both praise and punishment as manipulative and harmful to children and advocates other methods to reach agreement with them.
“Parenting For Everyone”
The philosophy of Parenting For Everyone considers parenting from the ethical point of view. It analyses parenting goals, conditions and means of childrearing. It offers to look at a child’s internal world (emotions, intelligence and spirit) and derive the sources of parenting success from there. The concept of heart implies the child’s sense of being loved and their ability to love others. The concept of intelligence implies the child’s morals. And the concept of spirit implies the child’s desire to do good actions and avoid bad behavior, avoid encroaching upon anybody’s dignity. The core concept of the philosophy of Parenting For Everyone is the concept of dignity, the child’s sense of worthiness and justice.
Religious parenting
Islamic or Christian Parenting.


In an effort to allay some of the contemporary confusion about the roles of parents and children in families, Ann Landers published the following Twelve Rules for Raising Children:
1. Remember that each child is a gift from God, the richest of all blessings. Each child is an individual and should be permitted to be himself or herself.
2. Do not crush a child’s spirit when he or she fails. Never compare one child with another.
3. Remember that anger and hostility are natural emotions. Help your child find acceptable outlets for these feelings, or they may be turned inward and create physical or emotional problems.
4. Discipline your child with firmness and reason. Do not let your anger throw you off balance. Be fair. Even the youngest child has a keen sense injustice.
5. Avoid situations in which your child can manipulate one adult against another.
6. Do not give your child everything he or she desires. Do not deprive your child of the satisfaction that comes from achievement and from earning something.
7. Do not set yourself up as a model of perfection. Children profit from knowing that their parents make mistakes too.
8. Do not make unrealistic threats in anger or promises in a generous mood. To a child a parent’s word means everything.
9. Do not smother your child with gifts and lavish surprises. The purest love expresses itself in day-in, day-out consistency that builds self-confidence, trust, and a strong base for character development.
10. Teach your child that there is dignity in hard work, whether it is performed with a shovel or with delicate surgical instruments.
11. Do not try to protect your child against every blow and disappointment. Experiencing a few lumps will help your child learn how to handle them.

APIQ Centre: Jalan Picung 109

http://apiqquantum.wordpress.com

Mengajar dan menguji bayi

“mas, sy hrs ajari apa k anak sy yg umur 3 tahun?” “aja apa sj boleh. bayi pandai belajar kok.” “tdk bahaya gitu?” “tdk bahaya. yg berbahaya adl menguji bayi. bayi akan bosan bila sering diuji.” “bener mas. awalnya anak sy senang blajar bhs inggris. terus bosan krn sering dtanyain.” apa bedanya mngajari dan mnguji bayi?

###

Tulisan di atas sudah lama saya buat tapi saya salah tekan tombol di HP jadi belum terbit. Setelah saya tahu, ya saya terbitkan ajalah…

Narkoba untuk Anak-anak

Narkoba – sebuah tulisan lama

“Pa, kemarin saya memendam seekor kupu-kupu yang mati. Kok jadi tidak ada sekarang?” tanya seorang anak usia 5 tahun kepada Bapaknya.

”Kupu-kupu sudah berubah jadi tanah,” jawabnya singkat.

”Kok bisa?”

”Bisa. Mikroba akan memangsa badan kupu-kupu itu dan mengubahnya jadi tanah. Dari tanah itu dapat tumbuh pohon-pohonan. Kemudian ulat akan memakan daun pohon itu. Ulat pun akan berubah menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu mati akan dimangsa mikroba menjadi tanah. Begitu seterusnya.”

”Kasihan ya… kupu-kupu tidak masuk surga. Kita nanti kalau mati juga jadi tanah?”

”Ya, semua badan jika mati nanti jadi tanah. Dari tanah tumbuh pohon. Kemudian dimakan manusia daunnya. Dan seterusnya. Tetapi jiwa kita, pikiran kita nanti yang akan masuk surga. Di surga kita akan memiliki tubuh lagi yang lebih baik. Sedangkan tubuh kita memang akan jadi tanah disantap mikroba.”

”Tetapi narkoba kan tidak boleh Pa?”

”Maksudnya gimana?” bapaknya balik bertanya.

”Kemarin saya nonton TV, katanya narkoba itu berbahaya.”

”O…iya. Narkoba memang berbahaya. Bisa merusak pikiran. Orang jadi malas. Hanya dokter yang boleh menggunakan narkoba untuk pengobatan yang jumlahnya sangat sedikit. Tetapi yang mengubah kupu jadi tanah itu bukan narkoba melainkan mikroba.”

”Kalau kita pakai narkoba cuma sedikit, cuma satu boleh ya Pa?”

”Tetap saja tidak boleh. Berbahaya. Hanya dokter yang boleh memanfaatkan narkoba.”

”Padahal, kita memerlukannya kalau mau belok kiri, belok kanan, saat naik perahu. Kan dia sopirnya?”

”Wah…kalau itu nahkoda bukan narkoba!”

Sang bapak tertawa, si anak masih terus penasaran. Ia masih bertanya-tanya kok narkoba itu aneh ya…bisa mengubah kupu jadi tanah, bisa merusak pikiran dan bisa mengemudi perahu.

Sulit + Sulit = …?

Dengan matematika konvesional jawabannya adalah sulit sekali (2 x sulit). Tetapi dalam matematika modern bukan itu satu-satunya jawaban.

Seorang teman punya anak satu. Berdiskusi dengan saya,

”Kapan punya adik lagi?”
”Ah…nggak Mas. Satu anak saja sulitnya kayak begini. Apalagi dua?”

Momong satu anak butuh kesabaran. Saya mengalami itu. Momong satu anak adalah sulit. Logikanya, momong dua anak akan jauh bertambah sulit lagi.

Dulu waktu saya punya satu anak, saya mengalami hal yang sama. Saya harus selalu menemani aktivitas anak pertama saya. Saya harus aktif melayani ngobrol anak pertama saya. Terbayang betapa sulitnya jika ia punya adik, berlipat ganda beban orang tua.

Kemarin, anak pertama saya bangun pagi. Habis sholat subuh ke ruang tengah. Menyalakan lampu. Mengambil buku bergambar lalu membacanya dengan asyik. Tidak lama kemudian adik kedua menyusul. Duduk di sebelahnya membaca buku yang lain. Lalu adik ketiga juga ikutan membaca buku. Mereka membaca buku sambil ngobrol asyik. Sesekali saya ikut ngobrol dengan mereka. Tidak ada yang sulit!?

Sulit + Sulit = ….? = Mudah

Bagaimana dengan Anda? Berlaku rumus apakah dengan bertambahnya kesulitan? Apakah menjadi lebih sulit atau lebih mudah?

Dunia Anak: Dunia Bermain atau Dunia Belajar?

Ketika mahasiswa, saya mengajar anak-anak di lingkungan dekat tempat kami tinggal. Sebuah pengabdian cuma-cuma. Terjadi perbedaan yang mencolok antara pandangan kami, para mahasiswa, dengan pembina kami. Kami memandang bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Sehingga ketika belajar pun, kita harus menciptakan suasana permainan.

Pembina kami yang sudah senior memandang lain. Beliau memandang bahwa dunia anak adalah dunia belajar. Sehingga ketika bermain pun, seorang anak harus sambil belajar. Kami saling silang pendapat dan tidak sepakat.

Anak-anak, para siswa, lebih mendukung pandangan kami. Tentu anak-anak suka bila kita mengajarkannya dengan suasana bermain. Anak-anak justru merasa terbebani bila ketika bermain harus sambil belajar. Kondisi ini membuktikan bahwa pendapat kami lebih benar dari pendapat pembina senior. Tetapi pembina senior masih punya banyak argumen yang menyatakan bahwa pembelajaran kami itu hanya permukaan saja. Kami terus berdebat.

Yang mebuat saya kagum dengan pembina senior itu adalah meski ia tidak setuju dengan saya, dan angkatan muda lainnya, tetapi ia tetap memberi kesempatan kepada kami untuk mempraktikkan pandangan kami. Beliau adalah contoh sosok yang penuh toleransi. Salut!

Saat ini, 15 tahun telah berlalu. Saya merenungi perbedaan tajam pendapat itu. Ah… betapa malunya saya. Saya terlalu ngotot mempertahankan pendapat. Mengapa saya tidak mencoba melihat dari prespektif pembina senior?

Dunia anak adalah dunia bermain. Dunia anak adalah dunia belajar. Itu adalah pandangan yang sama bagi anak. Seorang anak suka bermain dan belajar. Seorang anak belajar sambil bermain. Seorang anak bermain sambil belajar. Cara belajar seorang anak adalah melalui bermain. Pembelajaran adalah model permainan kreativitas yang tiada habis-habisnya.

Pandangan integritas bermain dan belajar ini saya bawa ke praktik pembelajaran APIQ. Syukurlah, hasilnya sangat bagus. Namanya juga bermain, tidak ada paksaan dalam belajar matematika APIQ. Ini adalah tugas yang berat bagi seorang guru. Mengajak anak belajar tanpa memaksa anak. Tetapi memancing minat anak agar tergerak mau mengarungi pembelajaran. Memang berat!

Kemarin tanpa sengaja saya menyentuh saku jas saya. Terdapat beberapa dadu milenium dalam saku saya. Ketika itu saya sedang diskusi dengan tokoh IT nomor wahid Indonesia dari ITB.
“Pak, tolong lempar dadu ini. Saya akan membaca, dengan mata tembus pandang, berapa mata dadu yang tersembunyi.”

Tokoh kita itu melempar dadu. Dan saya membaca mata dadu yang tersembunyi. Dicek, hasilnya benar.
“Pasti ada keteraturan tertentu,” tokoh kita penasaran sambil kagum.
“Coba Bapak kocok dua dadu lalu susun secara vertikal. Saya akan membaca jumlah semua mata dadu yang tersembunyi.”
“Kok bisa ya?” tokoh kita ini semakin kagum saja.

Tokoh kita ini terus membolak-balik dadu. Menyusun dadu vertikal dengan beragam variasi. Beliau menyimpulkan,
“Jumlah seluruh mata dadu secara vertikal selalu sama dengan konstanta.”

Betul. Itu adalah jawaban yang betul. Saya mengira hanya anak-anak yang menyukai permainan. Ternyata tokoh nasional kita juga menyukai permainan. Saya sendiri juga menyukai permainan. Bagaimana dengan Anda?

Teman-teman di kantor sekarang sedang demam permainan. Mereka sedang gandrung dengan permainan futsal dan badminton. Untung saja yang mereka sukai adalah permainan olah raga. Semakin sering bermain akan menjadi semakin sehat. Coba kalau yang mereka sukai adalah permainan jenis lain, bisa berbahaya akibatnya!?

Pada dasarnya, setiap manusia memiliki hasrat untuk bermain dan berpetualang. Anak-anak memiliki hasrat yang besar untuk bermain. Jangan renggut hasrat bermain anak-anak demi kedok belajar. Bermain adalah identik dengan belajar bagi anak-anak kita. Belajar adalah berpetualang. Bermain juga petualangan. Salurkan hasrat bermain anak-anak melalui proses belajar.

Salam hangat…

(agus Nggermanto; Pendiri APIQ)

Evolusi Metamorfosis Kursus Matematika Kumon dan Sempoa

Membaca iklan Kumon yang mempromosikan kursus matematika dan bahasa Inggris, mengingatkan saya kepada seorang teman. Lebih tepatnya, istri saya yang ingat duluan. Teman saya itu adalah kepala pengelola bisnis kursus sempoa yang sangat sukses di jamannya. Saat ini bisnis kursus sempoa memang sedang surut. Tetapi, teman saya itu orangnya sangat baik. Dia tidak murni mencari keuntungan uang dalam bisnis sempoa itu. Dia punya misi ikut mencerdaskan putra-putri melalui matematika.

Bisnis sempoanya telah tersebar luas. Jaringannya hampir ada di seluruh Indonesia. Tapi saat ini jumlah siswa hanya sedikit. Secara kreatif ia mengambil langkah baru. Kini kursus sempoa itu berubah menjadi kursus bahasa Inggris. Saya kagum. Langkah yang bagus. Saya sangat mendukung.

Apakah langkah ini meniru langkah Kumon? Saya tidak tahu. Seandainya memang meniru Kumon, tetap saja, ini adalah terobosan bagus.

Bahasa Inggris sangat diperlukan oleh putra-putri kita. Ketika globalisasi semakin menguat, dengan diperkuat oleh fenomena internet blogging, putra-putra kita semakin membutuhkan bahasa internasional. Bahasa internasional paling umum adalah bahasa Inggris disusul bahasa Arab, Jepang, Mandarin, dan lain-lain.

Jadi, kursus bahasa Inggris lebih penting dari matematika? Tidak. Tidak begitu maksud saya. Maksud saya adalah kursus bahasa Inggris lebih penting dari kursus sempoa – mohon tetap membedakan antara kursus sempoa dengan kursus matematika.

Bolehkah saya menyimpulkan kursus yang terbaik adalah Kumon? Karena Kumon mengajarkan bahasa Inggris dan matematika, betul kan? Bila anak Anda cocok, kesimpulan di atas menjadi benar. Tetapi bila anak Anda tidak cocok dengan metode Kumon jangan memaksanya! Bisa berbahaya.

Apakah APIQ akan memberikan kursus bahasa Inggris?
Hmmm… ide menarik!
Saya pikir-pikir dulu deh.

Awalnya saya berpikir APIQ akan hanya berfokus pada kursus matematika. Dengan fokus saya berharap APIQ dapat memberikan pembelajaran matematika yang unggul. Saya menilai keberhasilan Kumon justru karena fokus kepada matematika. Berbeda dengan lembaga bimbingan belajar yang serba bisa: matematika, bahasa Inggris, fisika, kimia, biologi, dan lain-lain. Fokus kepada matematika memberi nilai lebih bagi Kumon.

Mungkin APIQ bisa meniru langkah Google. Google hanya fokus pada search engine. Google telah membuktikan menjadi nomor satu di dunia maya dalam search engine dengan strategi fokus. Google ingin melebarkan kekuatan ke search engine video. Tetapi Google kalah melawan Youtube.com. Semakin Google berjuang, Youtube semakin unggul.

Bukan Google namanya, bila gampang menyerah. Dari pada repot-repot bertanding lawan Youtube, Google malah merangkul Youtube. Google membeli Youtube. Kini Youtube masuk dalam grup Google. Google telah mengakuisisi Youtube.

Kelak, mungkin, APIQ akan mengakuisisi kursus bahasa Inggris terbaik yang pernah ada. Mengapa tidak? Mimpi boleh-boleh saja kan?   

Bagaimana pendapat Anda?

Salam hangat…
(agus Nggermanto; Pendiri APIQ) 
 

APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ membuka peluang bagi Anda yang berminat membuka cabang franchise. Anda dapat menghubungi APIQ di apiq.wordpress.com atau 0818 22 0898 atau quantumyes@yahoo.com . APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum.
 

Lompatan Iqra

Beberapa bulan lalu, anak-anak saya belajar baca AlQuran di TPA (Taman Pendidikan AlQuran) dekat rumah. Entah karena apa, TPA itu tutup, tidak berlanjut. Kemudian kami mengundang Ustadzah untuk mengajari baca Quran di rumah setiap Sabtu dan Minggu. Anak-anak senang belajar Iqra. Tidak lama kemudian Ustadzah itu minta ijin untuk berhenti. Ia akan segera menikah dan pergi merantau bersama suaminya. (Ngomong-ngomong mereka berjodoh melalui internet blogging lho…)

Wah… bagaimana cara mengajari anak-anak saya baca Quran ya? Saya ingat waktu di Tulungagung dulu belajar baca Quran itu setiap habis magrib. Tapi siapa yang akan mengajar?

Saya putuskan anak-anak untuk belajar Iqra setiap habis magrib bersama bapaknya. Di luar dugaan, anak-anak malah senang dapat Ustadz baru itu. Saya benar-benar kagum dengan metode Iqra. Bahkan anak saya yang masih 5 tahun sudah sampai Iqra 5. Terima kasih dan salam kepada KH. As’ad Humam – penemu Iqra.

Mengajari anak setiap hari baca Iqra menjadi tanggung jawab tersendiri bagi bapaknya. Belum lagi bapaknya kadang-kadang belum sampai rumah di saat magrib. Bagaimana cara mengatasinya? Bagaimana menurut Anda?

Manfaat Dadu Milenium: Inovasi Pembelajaran Matematika Kreatif dengan Geometri

Maukah kemampuan matematika anak Anda meningkat dengan pesat dan cepat?
Bagaimana anak usia TK mampu menguasai matematika kelas 3 SD?
Bahkan mampu menguasai matematika kelas 6?

Semua dapat Anda raih, bahkan dengan cara menyenangkan. Anak Anda akan dengan lancar mampu menghitung luas, keliling dan volume. Hanya diperlukan waktu beberapa menit saja.

Dadu Milenium adalah permainan edukatif matematika yang akan melejitkan kemampuan matematika anak Anda. Dadu Milenium cocok untuk anak mulai usia TK sampai SD kelas 6. Manfaat Dadu Milenium adalah:

1. Hitung dasar: 1 sampai 5
Dadu Milenium akan memudahkan anak Anda menguasai perhitungan dasar 1 sampai 5. Latihlah anak Anda (mulai usia 4 tahun) menghitung banyaknya dadu. Hanya sebanyak 1 sampai 5, dengan berulang-ulang dan bergembira. Niscaya anak Anda akan lancar berhitung dasar.

2. Hitung dasar: 5 + n
Gunakan Dadu Milenium untuk meningkatkan kemampuan anak Anda. Tunjukkan dadu sebanyak 5+1=6, 5+2=7, 5+3=8, 5+4=9, 5+5=10. Latihlah perhitungan bilangan-bilangan di atas. Setelah lancar, variasikan dengan angka lain semisal 4+4 = 8 atau lainnya.

3. Hitung dasar: sampai 20
Rangkailah 10 dadu menjadi sebuah puluhan. Kemudian latih anak Anda untuk menghitung 10+n, seperti 10+1 = 11, 10+2 = 12, dan lain-lain. Setelah lancar, perkenalkan anak Anda dengan 6+6 = 12, 7+7 = 14, dan yang sejenisnya.

4. Pengurangan dasar
Setelah anak Anda lancar dengan penjumlahan dasar, tiba waktunya untuk memperkenalkan pengurangan. Latihlah anak Anda secukupnya saja dalam pengurangan. Anak Anda tidak harus mahir benar pada tahap ini. Nanti, pada waktunya, ia akan menguasai konsep pengurangan lebih mahir.

5. Perkalian dasar: 2, 3
Tantangan berikutnya yang paling disukai anak-anak adalah perkalian. Perkenalkan anak Anda hanya konsep perkalian dengan bilangan 2 atau 3. Contoh 2×3 = 6, 2×4 = 8, 2×5 = 10, 3×2 = 6 dan lain-lain.

6. Perkalian dasar: 4, 5, 1, 0
Setelah lancar naikkan tantangan dengan perkalian 4 atau 5. Setelah itu baru perkenalkan dengan perkalian 1 atau 0. Hati-hati dengan perkalian 1 atau 0. Meski tampaknya mudah, tetapi sebenarnya agak sulit bagi anak-anak.

7. Perkalian dasar 10
Rangkailah 10 dadu menjadi sebuah puluhan. Buatlah beberapa puluhan. Kemudian perkenalkan anak Anda dengan perkalian 10. Contoh 2×10 = 20, 3×10 = 30. Mudah bukan. Anak Anda akan menyukai perkalian 10 ini.

8. Perkalian dasar sampai 100
Setelah anak lancar, baru perkenalkan anak dengan perkalian yang lebih bervariasi. Contoh 6×6 = 36, 7×7 = 49 dan lain-lain. Anak Anda hanya cukup mengenalnya. Tidak harus mahir. Sambil jalan, anak Anda akan sedikit demi sedikit menghafalnya. Jangan dipaksakan untuk menghafalnya. Dukunglah agar hafalannya bertambah sedikit demi sedikit.

9. Menghitung luas segi empat
Perkenalkan anak Anda dengan konsep luas.
Susun dadu (kubus) membentuk segi empat ukuran 2 x 4.
Hitung banyaknya dadu.
Luas = panjang x lebar = banyaknya dadu
Perkaya dengan ukuran segi empat yang beragam. Termasuk persegi (bujur sangkar).

10. Menghitung keliling segi empat
Perkenalkan anak Anda dengan konsep keliling.
Susun dadu (kubus) membentuk segi empat ukuran 2 x 4.
Hitung sisi dadu mengelilingi segi empat.
Keliling = panjang+lebar+panjang+lebar
Perkaya dengan ukuran segi empat yang beragam. Termasuk persegi (bujur sangkar).

11. Menghitung volume balok dan kubus
Perkenalkan anak Anda dengan konsep volume.
Susun 2 segi empat masing-masing ukuran 2×2
Tumpukkan satu segi empat di atas segi empat lain
Hitung banyaknya dadu
Volume = panjang x lebar x tinggi = banyaknya dadu
Perkaya dengan ukuran balok yang beragam. Termasuk kubus.

12. Kembangkan motorik halus
Dukung anak Anda untuk menyusun dadu secara mandiri. Mengambil dan menyusun dadu membantu perkembangan motorik halus anak Anda.

13. Kembangkan kecerdasan spatial
Dukung anak Anda mengenal berbagai susunan dadu. Semakin banyak dadu yang Anda miliki, semakin banyak variasi yang dapat Anda buat. Latihan ini akan mengembangkan kecerdasan spatial anak Anda.
14. Kembangan ketangkasan arsitektur
Dukung anak Anda untuk berkreasi membentuk berbagai bentuk bangunan atau benda menggunakan tumpukan dadu. Anda dapat membuat rumah-rumahan, mobil-mobilan atau kreasi lainnya. Latihan ini akan mengembangkan ketangkasan arsitektur anak Anda.

Lakukan setiap latihan di atas secara bertahap. Tetap jaga suasana ceria. Ini adalah permainan. Setiap anak menyukai permainan. Orang tua juga suka permainan. Ini permainan yang berbonus pemahaman konsep matematika. Lebih tepatnya pemahaman konsep matematika secara cepat.

Masih banyak lagi peluang untuk megembangkan kreativitas putra-putri kita dengan menggunakan dadu. Lakukan berbagai eksperimen dengan anak Anda. Selamat bermain! Salam sukses Anda dan anak Anda!

Bagaimana pendapat Anda?

Salam hangat….

(agus Nggermanto; pendiri APIQ)

APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ membuka peluang bagi Anda yang berminat membuka cabang franchise. Anda dapat menghubungi APIQ di apiq.wordpress.com atau (022) 2008621 atau 0818 22 0898 atau quantumyes@yahoo.com . APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum.

Pecahan yang Menyatukan Orang Tua dengan Anak

Kebersamaan dengan seluruh anggota keluarga menjadi barang mahal akhir-akhir ini. Orang tua berangkat pagi, jam 5, sebelum anak bangun dari tidur. Pulang dari kantor jam 5 sore. Tetapi kondisi lalu lintas Jakarta sangat macet. Dari pada terjebak macet berjam-jam di jalan, mereka menunda pulang ke rumah. Menunggu dulu di kantor sambil mengerjakan beberapa kerjaan yang belum selesai. Jam 8 malam baru beranjak pulang. Sampai di rumah sekitar jam 9 atau 10 malam. Si kecil, putra-putrinya, sudah tidur semua. Hari demi hari berlalu begitu.

Berangkat kerja sebelum anak bangun. Pulang kerja setelah anak tertidur.  Kapan satu keluarga bersama-sama?  

Sedikit berbeda ketika hari libur, Sabtu, dan Minggu. Ayah ibu sudah capek bekerja seminggu penuh. Mereka ingin santai sejenak di akhir pekan. Ayah ibu nonton TV atau home teather. Anak-anak juga capek sudah sekolah seminggu penuh. Mereka ingin santai sejenak. Mereka main PS, Nitendo, atau game yang lainnya. Mereka bersama dalam satu rumah. Tetapi hati mereka?

… … …

 ”Iva, ini Papa punya mainan.”

”Apaan?”

”Coba kamu bikin lingkaran, 3 lingkaran dari potongan-potongan ini!” 

Iva mengamati. Atur sana atur sini. Berpikir sejenak. Coba-coba lagi. 

”Ini, jadi 1 lingkaran!”

”Hore….Iva berhasil satu lingkaran.” Kami bersorak bareng-bareng. Iva terus mencoba lagi.

Permainan sederhana ternyata mengasyikkan. Saya menamai permainan ini sebagai lingkaran milenium. Bagi orang dewasa, seperti biasa-biasa saja. Bagi anak kita yang masih kanak-kanak, permainan ini mengasyikkan. Ketika mengamati Iva yang asyik memainkan lingkaran milenium, saya mulai terbawa menikmati permainan itu juga. 

Lingkaran milenium terdiri dari bebarapa lingkaran yang sudah saya potong-potong. Potongan-potongan ini sengaja berukuran ½ lingkaran, ¼ lingkaran, atau lainnya. Di satu sisi potongan itu kami tuliskan nilai dari potongan itu: ½ , ¼ atau lainnya. Kami mengacak potongan-potongan lingkaran itu. Tugas Iva adalah menyusun kembali menjadi lingkaran penuh. Tantangan yang menggelitik bagi anak usia 4 tahun sampai 10 tahun. Apalagi jika dipertandingkan antara beberapa anak dan orang tua. Siapa cepat dia dapat. 

Adra, yang masih 5 tahun, juga menyukai lingkaran milenium ini. Adra jadi lancar berhitung nilai pecahan. 

” ¼ + ¼ = ½ ya…?” Adra bertanya.

” Betul!” jawab saya. 

Saya perhatikan, Adra mengutak-atik potongan yang bernilai ¼ digabungkan dengan yang bernilai ¼ . Lalu dia amati. Dibandingkannya dengan yang bernilai ½ . Sama besar. Adra menyimpulkan bahwa ¼ + ¼ = ½ . Sebuah permainan dan pembelajaran yang menyatu dengan asyik. 

”1/8 + 1/8 = …berapa?” saya tanya pada Adra.

”1/4,” jawab Adra ringan.

”Kok tahu?”

”Nih…1/8, nih…1/8 lagi. Jadi ¼ kan?” Adra menunjukkan potongan 1/8 yang ia gabungkan dengan potongan 1/8 menjadi setara dengan ¼.  

”Kalau ¼ + 1/8 jadi berapa ya…?” saya mencoba menantang. 

Mana mungkin anak TK akan dapat menghitung pecahan semacam itu? Meski pun anak itu sudah les Kumon atau sempoa, saya ragu. Apakah Kumon mengajarkan berhitung pecahan melalui permainan? Apakah sempoa mengajarkan aritmetika pecahan? Bagaimana dengan Jarimatika dan Sakamoto? Adra hanya ikut les kursus matematika APIQ. Dia memang sudah menguasai berhitung perkalian dan pembagian. Tetapi hanya untuk bilangan asli yang nilainya kecil. Berhitung pecahan adalah masalah lain.  

Kami di APIQ memang selalu berusaha mengajarkan matematika secara fun dan menyenangkan. Beberapa alat mainan edukatif yang dulu hanya terbatas untuk di kelas APIQ, kini sudah mulai kami jual ke masyarakat. Tujuan kami adalah agar putra-putri kita menjadi lebih mudah belajar matematika. 

Lingkaran milenium adalah salah satu mainan edukatif andalan APIQ. Permainan ini untuk mengajarkan konsep aritmetika. Permainan lingkaran milenium mengubah perhitungan pecahan yang memusingkan menjadi permainan yang mengasyikkan. Jangan meremehkan pecahan.

Saya dengar dari seorang dosen di unversitas swasta di Bandung yang mengatakan bahwa ada seorang mahasiswa yang menghitung:

 ½ + 1/3 = 1/5. 

Tentu saya terkejut. Saya heran. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa berpikir seperti itu? Dia bukan mahasiswa fakultas sosial. Dia bahkan seorang mahasiswa fakultas teknik. Tetapi saya tidak menyalahkan mahasiswa tersebut. Mahasiswa itu hanyalah sekedar korban. Korban dari sistem pendidikan kita. Dia adalah produk dari sistem pendidikan kita. Percuma kita menyalahkan mahasiswa itu. Akan lebih baik kita memperbaiki cara kita ”memproduksi” anak-anak kita. 

Mari kembali ke Adra. Apakah ia akan berhasil menyelesaikan tantangan: 

¼ + 1/8 = …….. 

Adra mengutak-atik potongan ¼ dan potongan 1/8. Dia berpikir serius. Dia menemukan jawaban… 

”1/4 + 1/8 sama dengan ¼ lebih 1/8.”

”Betul! Maksudnya ¼ lebih 1/8 itu berapa?” 

Dia sadar bahwa jawabannya sudah benar. Tetapi belum sederhana. Dia sendiri ingin memperoleh jawaban sederhana itu. Dia menemukan ide. Dia tukarkan potongan ¼ dengan potongan 1/8 sebanyak dua potong. Kini Adra sudah sangat dekat dengan yang diingankannya.

Adra berteriak, ”3/8…….!”

”Betul!” kami meloncat-loncat gembira. Tos tangan sesama anggota keluarga. 

Liburan bersama keluarga yang mengasyikkan. Sudah fun, dapat ilmu lagi. Lingkaran milenium menjadi media yang menyatukan keluarga dengan suasana riang.      

Bagaimana menurut Anda? 

Salam hangat…  (agus Nggermanto; pendiri APIQ) 

APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ membuka peluang bagi Anda yang berminat membuka cabang franchise. Anda dapat menghubungi APIQ di apiq.wordpress.com atau (022) 2008621 atau 0818 22 0898 atau quantumyes@yahoo.com . APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum.