Menurut Paman APIQ, belajar matematika dapat membuat kita semakin arif. Matematika mengajarkan kita untuk berpikir dengan benar, konsisten, dan jelas. Misalnya logika matematika mengajarkan kita berpikir menarik kesimpulan dengan benar. Perkembangan logika selanjutnya mengajarkan kita untuk terbuka terhadap kebenaran-kebenaran lain. Logika Fuzzy (Fuzzy Logic) memberi nilai kebenaran secara bergradasi 0 sampai 100%. Dengan demikian, kita terbuka dengan beragam level kebenaran.
Misalnya, di antara Al, Geo, dan Meti siapakah yang besok pagi bangun sebelum pukul 05.00 waktu setempat?
Bagaimana jawaban kita?
Dengan logika konvensional kita tidak dapat menjawab dengan menyakinkan. Misal kita menjawab bahwa “Meti besok pagi bangun sebelum pukul 05.00.” Apakah pernyataan di atas benar? Ataukah pernyataan di atas salah?
Logika konvensional tidak dapat menyimpulkan bahwa Meti akan bangun sebelum pukul 05.00 besok pagi. Juga tidak dapat menyimpulkan sebaliknya. Sehingga kita menyebut pernyataan di atas adalah kalimat terbuka yang belum dapat disimpulkan nilai kebenarannya. Karena itu kita tidak dapat melangkah lebih jauh lagi.
Namun logika fuzzy dapat menjawab dengan meyakinkan masalah di atas. Karena logika fuzzy menerima level kebenaran kurang dari 100%. Misalnya jawaban logika fuzzy adalah sebagai berikut.
“Meti besok pagi bangun sebelum pukul 05.00.” (80%)
“Geo besok pagi bangun sebelum pukul 05.00.” (50%)
“Al besok pagi bangun sebelum pukul 05.00.” (25%)
Dengan angka persentasi dalam kurung sebelah kanan menyatakan tingkat kebenaran masing-masing. Jawaban logika fuzzy di atas sah dan dapat diproses secara lebih lanjut untuk berbagai kepentingan. Sedangkan logika konvensional tidak dapat melakukannya.
Contoh di atas, Paman APIQ mengilustrasikan logika fuzzy terhadap sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Sehingga persentasi level kebenaran dapat juga kita pandang sebagai peluang kemungkinan terjadinya pernyataan tersebut. Tetapi logika fuzzy juga dapat kita terapkan kepada sesuatu yang sudah terjadi. Sehingga pada kondisi ini tidak secara langsung berhubungan dengan teori probabilitas.
“Apa warna rumah Paman APIQ?”
“Warna rumah Paman APIQ adalah orange.” (90%)
Maksudnya?
Warna sebagian besar dari rumah Paman APIQ memang orange. Tetapi ada bagian tertentu yang tidak orange. Karena itu level kebenaran pernyataan di atas tidak 100% tetapi cukup 90%.
Tiga bulan kemudian kita dihadapkan pada pertanyaan yang sama.
Jawabannya,
“Warna rumah Paman APIQ adalah orange.” (80%).
Mengapa turun menjadi 80%? Apakah Paman APIQ mengganti warna cat rumahnya? Tidak. Sama sekali tidak ada pergantian warna cat. Hanya saja seiring berjalan waktu tiga bulan warna cat dinding yang orange mulai memudar. Sehingga level orange hanya 80%.
Paman APIQ suatu saat meminta Al untuk menentukan apa warna rumah Paman APIQ lengkap dengan level kebenarannya.
“Warna rumah Paman APIQ adalah orange.” (70%).
“Wah tinggal 70%?” Paman APIQ heran.
“Makin lama makin memudar warnanya,” sahut Al.
“Kalau begitu sudah waktunya untuk mencat ulang rumah.”
Meski warna orange kita anggap benar, logika fuzzy mungkin saja menerima warna bukan orange sebagai benar juga.
“Warna rumah Paman APIQ adalah bukan orange.” (30%)
Dengan cara ini kita dapat berpikir lebih terbuka. Warna orange memiliki tingkat kebenaran 70%. Sedangkan warna bukan orange memiliki tingkat kebenaran 30%. Sikap menghargai pendapat orang lain lebih terbuka dengan logika ini.
Bagaimana menurut Anda?
Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)