Archive Bulanan: Juli 2011

Tantangan Geometri Berhitung Cepat FPB KPK

Dengan teori himpunan, Paman APIQ berhasil menemukan rumus cepat dan kreatif untuk menghitung FPB dan KPK. Inovasi masih terus berlanjut. Bagaimana jika kita mengenalkan FPB KPK sepenuhnya secara geometri? Maksudnya sepenuhnya dengan gambar atau sepenuhnya dengan permainan fisikal.

Tantangan ini melahirkan inovasi kreatif yang lebih menarik lagi.

Paman APIQ sekalian ingin mencatat teori himpunan untuk FPB KPK. Tentu saja teori himpunan ini hanya untuk kita-kita saja. Anak-anak SD tidak harus diajarkan teori himpunan secara eksplisit.

Contoh tentukan FPB KPK dari 12 dan 18.

FPB = 6
KPK = 6 (2 x 3) = 36 (Selesai).

Dasar dari berhitung cepat di atas adalah teori himpunan. Bilanga 12 membentuk himpunan A yang beranggotakan faktor-faktor dari 12.

A = {1, 2, 3, 4, 6, 12}
B = {1, 2, 3, 6, 9, 18}

FPB adalah irisan ==> {2, 3} ==> 6
KPK adalah gabungan ==> {2, 3, 6} ==> 36

(1 dan bilangan itu sendiri diabaikan atau dikenal sebagai faktor semu).

Bagaimana dengan tantangan geometri sepenuhnya?

12 ==> 12 onde atau 12 kubus ==> disusun membentuk bidang persegi panjang.

18 ==> 18 onde atau 18 kubus ==> disusun membentuk bidang persegi panjang.

FPB adalah ukuran sisi yang dimiliki oleh kedua persegi panjang atau kotak dengan nilai terbesar.

KPK adalah adalah volume balok terkecil yang dapat dibentuk dengan memasangkan 12 sebagai luas alas dan 18 sebagai luas salah satu dinding.

Tantangan geometri ini menjadi lebih seru bila dibiarkan sepenuhnya menjadi tantangan geometri saja. Sedangkan masalah aljabar dan aritmetika sementara sebagai pendukung saja.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Magnet Milenium: Cara Belajar Cepat FPB KPK dan Bilangan Prima

Algeometi kembali bergembira bermain matematika kreatif bersama paman APIQ. Kali ini Algeometi bermain magnet milenium. Sesuai namanya, permainan ini terdiri dari banyak magnet berbentuk lingkaran dan papan mirip dengan papan catur.

“Tentukan bilangan 5 prima atau kompo,” perintah Paman APIQ.

Dengan cepat Algeometi mengambil 5 magnet dan menatanya di papan.

“5 adalah prima,” jawab Algeometi.

Karena hanya ada satu formasi untuk membentuk persegi panjang dengan 5 magnet, yaitu ukuran 5 x 1, maka 5 adalah prima.

“Bagaimana dengan 6?”

“6 adalah kompo atau bukan prima,” seru Algeometi.

Terdapat lebih dari satu cara untuk membentuk persegi panjang dengan 6 magnet, yaitu 6 x 1 dan 3 x 2, maka 6 adalah kompo atau bukan prima.

Paman APIQ dan Algeometi terus bergembira bermain matematika. Mainan yang sama dapat kita gunakan untuk bermain FPB dan KPK. FPB adalah sisi terpanjang yang sama dari dua persegi panjang. Sedangkan KPK adalah volume terkecil yang dibentuk oleh dua persegi panjang.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Memudahkan Konsep Keliling dan Luas Lingkaran

Keliling lingkaran menjadi asyik dengan cara Paman APIQ. Sedangkan luas lingkaran menjadi sama persis luas segitiga, setengah alas kali tinggi.

Lalu dari mana munculnya bilangan pi = 22/7 = 3,14 ?

Paman APIQ sendiri bermain-main dengan anak-anak menemukan bilangan pi = 22/7. Onde-onde milenium adalah wahana permainan yang asyik.

Sedikit catatan dari Paman APIQ bahwa bilangan pi adalah irasional bahkan transenden.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Catatan Syuting Episode 18

Hari ini Paman APIQ akan syuting “Bermain Matematika Bersama Paman APIQ”. Syuting kali ini adalah kesempatan terakhir menjelang ramadhan.

“Selamat menunaikan ibadah Ramadhan. Mari berlomba-lomba dalam amal kebaikan. Mohon maaf lahir batin.”

Episode 18

1. Pengenalan konsep faktor (pembagi atau persegi panjang)
2. Faktor terbesar
3. Faktor bersama
4. Mastery Learning

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Membantu Anak TK – SD – SMP Memahami Bilangan Negatif

Paman APIQ dan keluarga besar APIQ senantiasa terus berinovasi untuk memudahkan anak-anak kita belajar matematika. Mutiara milenium adalah salah satu inovasi APIQ yang sangat membantu anak-anak TK-SD-SMP (dan SMA) memahami konsep bilangan negatif.

Dengan bermain mutiara milenium, anak TK pun dapat berhitung cepat operasi bilangan negatif.

3 – 5 = …
5 – 2 = …
3 + (-7) = …
5 – (-3) = …
-3 + 1 = …

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Rumus Perbandingan Skala yang sudah Akrab: Zoom

Perbandingan skala sering menyulitkan bagi banyak orang. Bahkan banyak guru dan dosen yang salah memahami konsep perbandingan skala ini. Akibatnya, anak-anak juga terbawa salah dalam memahami konsep perbandingan.

Padahal, menurut Paman APIQ, anak-anak kita sudah akrab dengan istilah perbandingan ini yaitu zoom. Anak-anak sudah biasa dengan zoom melalui hp, komputer, atau kamera mereka.

Misal terdapat persegi dengan ukuran 3 mm x 3 mm. Kemudian Geo melakukan zoom 2 x semula (dari panjang semula). Berapakah luas persegi setelah zoom?

Cara 1:

Setelah zoom, maka ukuran sisi adalah 2 x semula.

Luas = 3.2 x 3.2 = 6 x 6 = 36 mm^2

Cara 2:

Luas = (3 x 3). 2^2 = 36 mm^2

Perhatikan bahwa jawaban berikut adalah salah:

9 x 2 = 18.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Logika Matematika yang Banyak Membantu: Kasus Implikasi

Paman APIQ memandang logika implikasi adalah pelajaran paling penting dari logika matematika. Tetapi di saat yang sama logika implikasi adalah yang paling banyak disalahpahami. Baik oleh para pemikir atau pun oleh siswa sendiri.

Karena itu Paman APIQ mencatat beberapa contoh implikasi yang dapat membantu kita lebih memahami logika implikasi. Contoh-contoh ini sangat membantu bagi para siswa dan guru.

“Jika ayam berkaki 5 maka 1 + 1 = 7.”

Secara matematis pernyataan di atas bernilai benar. Tetapi para kritikus menyerang habis logika yang membenarkan pernyataan di atas. Kita sendiri, secara intuitif, sulit menerima kebenaran pernyataan di atas. Bayangkan apa yang dipikirkan oleh anak-anak kita?

Berikut adalah catatan contoh implikasi yang membantu.

1. Jika kuda maka berkaki 4.
2. Jika manusia maka bermata 2.
3. Jika pohon maka makhluk hidup.

Contoh-contoh semacam di atas dapat terus kita kembangkan sampai tak terbatas.

Sedangkan contoh berikut harus lebih hati-hati.

“Jika mobil maka berroda 4.”

Meski secara matematis contoh pernyataan di atas sah-sah saja. Tetapi hubungan implikasi antara mobil dan roda 4 tidak mudah dipahami.

“Jika pagi maka matahari terbit.”

Lagi-lagi contoh ini seperti pas. Tetapi hubungan implikasi antara pagi dan matahari terbit juga tidak mudah kita pahami. Logika biimplikasi lebih mudah kita pahami.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Logika Matematika Tidak Masuk Logika

Itulah kenyataan di sekolah-sekolah kita. Logika matematika menjadi tidak logis bagi anak-anak kita. Memang logika matematika tidak 100% sama persis dengan logika umum sehari-hari.

“Jika setiap manusia memiliki 3 mata maka 4 + 5 = 10.”

Benar atau salahkah pernyataan di atas?

Logika matematika menyatakan bahwa pernyataan di atas adalah BENAR.

Tetapi logika umum, secara intuitif, kita cenderung menilai pernyataan di atas adalah SALAH.

Jadi, bagaimana?

Paman APIQ menyarankan agar kita menghindari contoh-contoh logika seperti di atas pada awal belajar logika. Karena itu kita perlu hati-hati dalam memilih contoh. Tujuan kita adalah melatih anak-anak paham logika matematika. Setelah anak-anak paham kita dapat memberi tantangan yang lebih rumit.

“Jika adik jujur maka jadi orang baik.”

Pernyataan di atas bernilai BENAR secara intuitif. Logika matematika juga dapat menilai BENAR pernyataan di atas. Karena itu pernyataan di atas dapat kita jadikan awal penyelidikan konsep logika implikasi dalam matematika.

Meski pun contoh pernyataan di atas masih mengandung beberapa ambiguitas tetapi masih dapat kita maklumi.

Berikutnya, pemilihan istilah logika menjadi penting. Misalnya buku-buku matematika sering menggunakan istilah konjungsi dan disjungsi. Apa maksudnya?

Tidak mudah bukan?

Paman APIQ lebih menyarankan agar kita menggunakan istilah AND dan OR. Penggunakan istilah DAN juga boleh. Hanya saja istilah DAN atau ATAU kadang rancu dengan ungkapa sehari-hari. Sedangkan ungkan AND atau OR lebih aman dari tercampurnya dengan istilah sehari-hari.

“Jika x^2 = 9 maka x = 3.”

“Jika x = 3 maka x^2 = 9.”

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Rumus Cepat Matematika SMP SMA: Statistik Dasar

Paman APIQ selalu menekankan bahwa rumus cepat itu penting dengan pemahaman konsep. Anak yang paham dapat memanfaatkan rumus cepat dengan tepat sasaran. Bahkan anak-anak kita dapat menciptakan rumus cepatnya sendiri berdasar pemahaman. Algeometi sudah sering menemukan rumus-rumus baru dengan pemahamannya sendiri.

Bagaimana dengan anak-anak didik kita?

Kali ini Paman APIQ mengajak kita untuk bermain berhitung cepat rata-rata, statistik dasar.

Hitung rata-rata dari:

7, 7, 7, 8.

” 7,25 !” seru Meti cepat.

Tentu kita dapat menghitungnya dengan mudah.

Rata-rata = (7 + 7 + 7 + 8)/4 = 29/4 = 7,25 (Selesai).

Tetapi Meti tidak melakukan perhitungan dengan cara seperti di atas. Meti membayangkan bahwa rata-rata pasti 7 lebih sedikit. Tepatnya lebih 1/4. Mengapa?

(0 + 0 + 0 + 1)/4 = 1/4.

Bandingkan dengan tantangan Paman APIQ berikut.

Hitung rata-rata dari:

210, 210, 211, 211, 212, 212.

” 211,” jawab Meti lagi dengan cepat.

Bagaimana caranya?

(0 + 0 + 1 + 1 + 2 + 2)/6 = 1

210 + 1 = 211 (Selesai).

Cara rumus cepat di atas sangat berguna bagi anak-anak kita yang duduk di bangku SMP dan SMA. Dengan berlatih beberapa kali membantu anak-anak semakin paham. Semakin paham maka semakin cepat. Bahkan rumus Paman APIQ ini semakin berguna bila bentuk soalnya semakin rumit. Untungnya, Paman APIQ sudah berbagi multimedia dan video matematika kreatif ini.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Rumus Cepat Matematika SMP: Kesebangunan dan Kongruensi

Anak-anak SMP membutuhkan rumus cepat matematika yang membantu pemahaman. Karena itu Paman APIQ selalu siap berbagi rumus cepat matematika SMP yang kreatif dan asyik.

Kali ini Paman APIQ mengajak kita mencermati rumus cepat kesebangunan. Bagi anak-anak kita, sebenarnya, konsep sebangun sudahlah banyak dikenal. Anak-anak kita sudah sering memanfaatkan “zoom” di komputer atau hp mereka. Zoom adalah proses memperbesar ukuran suatu gambar dengan tetap menjaga bentuk awal benda. Maka zoom menghasilkan bentuk yang sebangun.

Contoh paling sederhana dan paling sering diujikan adalah segitiga pythagoras sebangun yang paling terkenal. Kita pasti sudah akrab dengan segitiga siku-siku yang ukurannya adalah,

a = 3; b = 4; c = 5.

Segitiga-segitiga yang sebangun adalah,

a = 3k; b = 4k; c = 5k.

Soal ujian nasional sering memunculkan tipe soal yang menanyakan panjang sisi segitiga siku-siku bila sisi miring = 45, sisi pendek = 27 maka sisi yang lain adalah …

“36,” jawan Geo dengan cepat.

Bagaimana dapat Geo menghitung begitu cepat?

45 = 5k maka k = 9.

Maka segitiga yang sebangun adalah,

a = 27; b = 36; c = 45.

Beberapa soal juga menantang kreativitas kita lebih jauh. Misalkan sebuah foto ukuran 20 cm x 30 cm ditempel pada karton yang sebangun dengan foto. Bagian atas, kiri, dan kanan karton sisa 6 cm. Berapa panjang sisa karton pada bagian bawah?

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)