Archive Bulanan: November 2010

Training APIQ 27 November di Bandung, 18 Desember 2010 di Jakarta

Selamat datang dalam Training Matematika Kreatif APIQ. Training APIQ Angkatan 22 kami selenggarakan di Bandung dan Angkatan 23 kami selenggarakan di Jakarta.

Berbagai macam inovasi terbaru dari training matematika kreatif APIQ telah kami siapkan.

1. Inovasi induk permainan matematika kreatif yang dapat kita gunakan untuk mengajarkan segala tema matematika. Dengan induk permainan matematika ini kita dapat mengajarkan segala tema matematika dengan fun dan menyenangkan. Dari tema aritmetika dasar, geometri lanjut, sampai aljabar, bahkan statistik, fungsi, limit, dan lain-lain.

2. Romi Mini: Roda milenium mini.Permainan yang asyik dari roda milenium kini menemukan bentuk mininya yang berupa gasing mini warna-warni. Karena bentuknya yang mini maka romi ini mudah kita bawa ke mana saja. Ditambah lagi biaya pembuatannya juga lebih murah dan mudah. Permainan Romi teruji asyik dan membuat anak-anak lebih paham konsep matematika.

3. Eksplorasi pengenalan pola. Pengenalan pola sebagai dasar berpikir kreatif akan menjadi tema utama dalam training APIQ kali ini. Meski sudah sering membahas berpikir kreatif mengenali pola, sebagaimana gaya Einstein, pada training ini kita akan lebih banyak lagi bereksperimen dan berinovasi.

Dan lain-lain…

Selamat bergabung dalam Training APIQ Quantum!

Hari: Sabtu
Tanggal: 27 November 2010
Waktu: 08.30 sd 17.30 wib
Tempat: Hotel Isola Resort, Jalan Setiabudi, UPI, Bandung.

Hari: Sabtu
Tanggal: 18 Desember 2010
Waktu: 08.30 sd 20.30 wib
Tempat: Jakarta

Ivestasi: FREE bagi Anda yang sudah pernah mengikuti training sebelumnya. Rp 750.000,- bagi peserta baru dan FREE mengikuti training-training berikutnya. (excluded lunch).

Dapatkan berbagai macam manfaat dan keunggulan inovasi pembelajaran matematika kreatif APIQ.
Selamat berpetualang…

Informasi:
quantumyes@yahoo.com atau 0818 22 0898

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Salut untuk Kurikulum Matematika SMP

Paman APIQ mengacungkan jempol dengan salah satu muatan kurikulum matematika SMP kita. Tema tersebut adalah tentang “pola”. Mengenali pola adalah salah satu keterampilan penting untuk menjadi kreatif, termasuk matematika kreatif.

Tema mengenali pola ini bahkan ikut diujikan pada ujian akhir nasional (UN) SMP. Soalnya beragam. Ada yang berupa cerita, barisan, bahkan pola-pola gambar.

Contoh soal:
Geo sedang membeli bakso. Geo melihat tumpukan 2 mangkok tingginya 10 cm. Dia lihat lagi tumpukan 5 mangkok tingginya 16 cm.

“Berapa tinggi tumpukan 26 mangkok?” tanya penjual bakso.

Kontan saja Geo kaget. Geo berpikir dan … tolong bantu Geo.

Jawab:
1. Cara intuisi

Penambahan 3 mangkok menambah tinggi 6 cm maka
penambahan 21 mangkok menambah tinggi 7×6 cm = 42 cm.

Tinggi 26 mangkok = 5 mangkok + 42 cm = 58 cm. (Selesai).

2. Cara intuisi bertahap

Penambahan 3 mangkok = 6 cm maka
Penambahan 1 mangkok = 2 cm
Penambahan 26 mangkok = 52 cm

Tinggi awal = dasar mangkok = 10 – 2×2 = 6 cm

26 mangkok = tinggi awal + 26×2 = 6 + 52 = 58 cm (Selesai)

3. Cara pola deret aritmetika

U2 = 10
U5 = 16

U5 – U2 = 16 – 10 = 6 = 3b
b = 2

U2 = a + b = 10
a = 8

U26 = a + 25b = 8 + 25×2 = 58 (Selesai).

4. Pola tulisan deret

…, 10, … , …, 16, …, ….

Lalu anak menebak,
…, 10, 12, 14, 16, 18, …

Dengan ketekunan dan ketelitian maka akan sampai juga kepada,

26 mangkok = 58 (Selesai).

5. Cara pola deret besar

U0 = 10
U1 = 16
B = 16 – 10 = 6

26 mangkok = U(26 – 2)/3 = U8

U8 = U0 + 8B = 10 + 8×6 = 58 (Selesai).

6. Dan lain-lain.

Pertanyaannya adalah bagaimana guru-guru kita mengajarkan hal-hal di atas?
Cara manakah yang paling benar?

Menurut Paman APIQ semua cara di atas sama benar. Kita justru perlu berpikir terbuka dengan berbagai macam ide baru atau yang tak terduga. Berpikir terbuka adalah ciri utama orang kreatif.

Jika seseorang memaksa hanya ada satu cara saja yang benar maka ini sangat disayangkan. Ayo kita kembangkan terus cara-cara yang lebih kreatif.

Anak-anak akan semakin bertumbuh dengan pembelajaran kreatif.

Bagaimana menurut ANda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Menebak Pikiran Bocah Usia 5 Tahun yang Dapat Berhitung Bilangan Negatif (Minus)

Rasa kagum dan penasaran itu terus membayangi Paman APIQ. Bagaimana mungkin bocah umur 5 tahun itu, Al, dapat dengan lancar berhitung bilangan negatif.

3 – 5 = ?

“-2,” jawab Al mantap.

16 – 20 = ?

“-4,” Al menyahut dengan riang.

Paman APIQ menyusun beberapa tebakan atau hipotesis yang memungkinkan Al dapat berhitung bilangan negatif pada usianya yang baru 5 tahun.

1. Al sudah terbiasa bermain onde milenium, kombi milenium, kartu ular angka dan lain-lain. Permainan matematika kreatif ini membantu Al menguasai berhitung aritmetika dasar secara cepat dan menyenangkan.

2. Al sudah pernah bermain mutiara milenium. Permainan mutiara milenium dengan baik mengenalkan konsep bilangan negatif. Anak-anak TK seperti Al pasti suka bermain mutiara milenium.

Paman APIQ menduga dengan bermain mutiara milenium Al menjadi paham operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan negatif. Permainan menyenangkan saja bagi anak-anak. Terdapat sedikit aturan main sederhana. Dan mutiara itu sudah dengan jelas mewakili bilangan positif dan negatif.

Tetapi sampai di sini, Paman APIQ menduga Al sudah paham operasi bilangan negatif tetapi mungkin belum paham makna bilangan negatif. Makna bilangan negatif tampaknya muncul kemudian.

3. Al bermain roda milenium. Roda milenium atau romi juga merupakan permainan sederhana yang asyik. Romi memenuntut anak untuk mengoperasikan bilangan positif, negatif, dan 0 untuk mencapai suatu kemenangan. Dari romi inilah, Paman APIQ yakin, Al memperoleh pemahaman makna bilangan negatif.

Pemain akan meraih kemenangan bila secara bertahap berhasil mengumpulkan poin sampai 25. Tetapi dalam prosesnya kadang-kadang pemain memperoleh poin negatif atau positif. Ketika memperoleh poin positif Al sadar bahwa dirinya semakin mendekati poin 25. Tetapi bila ia memperoleh poin negatif maka Al justru makin menjauh dari poin 25. Dari sinilah Al memahami makna bilangan negatif.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Kartu Ajaib Digital Masuk Platform Game Matematika Kreatif

Seperti beberapa hari telah kita baca, Paman APIQ sedang mengeksplorasi beragam platform game permainan matematika kreatif. Paman APIQ bermaksud mendefiniskan bahwa platform adalah permainan matematika kreatif yang dapat kita gunakan untuk mengajarkan segala tema matematika: aljabar, geometri, dan aritmetika. Tentu saja platform ini dapat kita gunakan untuk permainan kalkulus, statistik, fungsi, dan lain-lain.

Yang tebaru adalah kartu ajaib. Sebelumnya, kartu ajaib – uji kejujuran – telah kita manfaatkan untuk permainan sulap operasi aritmetika penjumlahan, perkalian, pengurangan, pembagian, kuadrat, akar kubik, dan sebagainya. Kali ini kartu ajaib telah naik pangkat menjadi platform game kreatif. Sehingga kita dapat memanfaatkan kartu ajaib untuk belajar kalkulus, aljabar, atau lainnya.

Sekaligus kartu ajaib menjadi game APIQ pertama versi berbasis pengetahuan yang berhasil menjadi platform. Sebelumnya, baru game abadi yang berhasil menjadi platform:

1. Kombi Milenium
2. Kamil Ular Angka
3. Kamil Kamil
4. Romi: Roda Milenium dan

5. Kartu Ajaib digital

Karena kartu ajaib berbasis ilmu pengetahuan maka ia memiliki pesonanya yang istimewa. Kehebatannya adalah sangat mengesankan pada pandangan pertama, pandangan kedua, dan pandangan ketiga. Setelah pandangan kesepuluh maka akan semakin mahir dan terpikirkan untuk melakukan inovasi yang kreatif.

Kartu ajaib juga kita sebut sebagai kartu ajaib digital karena prinsip permainannya memanfaatkan sifat operasi sistem bilangan biner yang menjadi dasar sistem digital.

Semoga kehadiran game matematika kreatif berserta platform banyak bermanfaat bagi kita semua.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Memanjat Pohon yang Salah

Ada banyak pelajaran dari teman-teman dan guru-guru kehidupan. Salah satu yang saya selalu ingat adalah ungkapan Prof. Gede Raka dalam banyak perbincangan,

“Hati-hati, jangan sampai memanjat pohon yang salah.”

Menurut saya, Prof. Raka adalah guru kehidupan yang bijak. Saya yakin teman-teman dosen ITB atau civitas akademika ITB pasti setuju akan kearifan Prof. Raka dan menaruh hormat yang tinggi. Saya beruntung dapat belajar dari Prof. Raka dalam berbagai kesempatan.

Apa sih tujuan kita mengajarkan matematika?

Agar anak-anak dapat berhitung cepat. Karena itu kita harus mencari cara bagaimana anak-anak kita dapat menghafal rumus berhitung dengan baik. Hari ini anak-anak suruh menghafal tabel perkalian. Esok hari anak-anak suruh menghafal tabel pembagian. Dan seterusnya.

Seperti kita tahu, hanya sedikit anak yang mampu bertahan dengan cara seperti di atas. Bahkan bagi anak-anak yang berhasil menguasai berhitung cepat pun dapat kita ajukan pertanyaan,

“Mengapa tidak pakai kalkulator saja?”
“Mengapa tidak pakai komputer saja?”
“Mengapa tidak pakai wolframalpha.com saja?”

Hati-hati jangan sampai memanjat pohon yang salah.

Apa sih tujuan kita mengajarkan matematika?

Agar anak-anak mendapat nilai sekolah yang bagus. Tentu saja wajar, orang tua mengharapkan nilai sekolah anaknya adalah bagus. Nilai sekolah dapat kita jadikan sebagai salah satu indikator pendidikan dan pengajaran. Tetapi seperti kita tahu bahwa mengejar nilai sekolah bukan sesuatu yang murah.

“Mengapa terjadi kecurangan dalam ujian?”
“Mengapa terjadi beberapa transaksi bocoran kunci jawaban ujian nasional?”
“Mengapa naskah ujian nasional harus dikawal ketat aparat keamanan?”

Hati-hati jangan sampai memanjat pohon yang salah.

Apa sih tujuan kita mengajarkan matematika?

Bahkan mengingat pertanyaan itu saja sudah cukup bagus. Menurut Paman APIQ, cobalah mengajukan pertanyaan seperti di atas setiap bulan atau setiap minggu. Pertanyaan itu – meski hanya pertanyaan saja – dapat membantu kita berjalan di arah kiblat yang tepat.

Apa sih tujuan kita mengajarkan matematika?

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Konsep Sudut Lingkaran: Orang Pusat Mendapat 2x Orang Pinggiran

Berbagai macam inovasi kreatif harus terus kita gulirkan. Paman APIQ berusaha menyederhanakan konsep sudut pusat dan sudut keliling pada suatu lingkaran.

Kita dapat membuktikan bahwa

sudut pusat = 2 x sudut keliling

Paman APIQ mengumpamakan dengan orang pusat dan orang pinggiran atau orang daerah. Seperti biasa, orang pusat biasanya ingin mendapatkan “sudut” yang lebih besar dari orang pinggiran. Jadi,

orang pusat mendapat 2 x orang pinggiran.

Atau dapat sebaliknya,

orang pinggiran mendapat 1/2 x orang pusat.

Masuk akal kan?

Siswa-siswa SMP biasanya menghadapi soal tentang sudut pusat dan sudut keliling ini.

Contoh soal:
Titik A, B, C, terletak pada keliling lingkaran. Jika besar sudut ABC = 15 derajat maka besar sudut AOC adalah …. derajat. (O adalah pusat lingkaran).

Jawab:

Orang Pusat = 2 x orang pinggiran
= 2 x 15
= 30 derajat (Selesai).

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Tantangan Pecahan Sederhana

Kami adalah dua bilangan. Bila dijumlahkan hasil kami adalah 0,75. Selisih kami adalah 1/12. Siapakah kami?

Kabarnya, Eisntein kecil suka mendapat tantangan semacam itu. Tantangan di atas mengubah seakan-akan bilangan adalah suatu makhluk hidup. Anak-anak pada umumnya lebih menyukai semacam tebak-tebakan di atas.

Tetapi anak-anak yang sudah terlanjur “menghafal” matematika akan kesulitan menghadapi soal seperti di atas. Bagi anak SMP atau SMA yang sudah mengenal aljabar juga terbayang sulitnya solusi aljabar.

x + y = 0,75
x – y = 1/12
————- +

2x = 0,75 + 1/12

Tentu saja cara eliminasi di atas akan memberi jawaban yang kita butuhkan. Tantangannya adalah tidak mudah menghitungnya kan? Lagi pula cara ini tampak prosedural yang kadang terasa kurang kreatif.

Alternatif pendekatannya adalah, menurut Paman APIQ, cobalah menebak dengan intuitif,

Karena selisih kami 1/12 maka jumlah kami 0,75 = 3/4 = 9/12.
Silakan menebak kami,

selisih = 1
jumlah = 9

Betul…!

Kami adalah… 5/12 dan 4/12. Terima kasih, Kalian telah menemukan Kami.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Buku Matematika Kreatif Murah dari APIQ

Paman APIQ sedang memikirkan untuk menerbitkan buku matematika kreatif yang murah. Dengan harga murah maka buku ini dapat menjangkau hampir ke seluruh lapisan masyarakat. Buku ini sendiri rencananya akan dijual dengan harga eceran tertinggi 10 ribu rupiah.

Meski harga murah tapi kualitas tetap terjaga dengan menggunakan standar matematika kreatif APIQ.

Serial buku murah APIQ ini akan saya beri nama serial BAS: Buku APIQ Sederhana. Atau BASS: Buku APIQ Sangat Sederhana. Atau ada ide lain?

Untuk BAS seri pertama sudah Paman APIQ siapkan naskah matematika kreatif dengan tiga tema utama: aljabar, geometri, dan aritmetika.

Aritmetika membahas kekuatan logika pengenalan pola dalam matematika dan tentu jurus bintang yang fenomenal itu. Jurus bintang sekalian bintang langsing dan bintang gendut.

Geometri membahas geometri lingkaran dan segitiga sebangun atau kongruen. Secara pribadi Paman APIQ sangat menyukai bagian yang membahas luas lingkaran = luas segitiga. Kehebatan segitiga sebangun Pythagoras banyak kita bahas dalam bagian ini.

Aljabar membahas konsep aljabar persamaan garis dan gradien. Paman APIQ juga mengenalkan jurus Bintang Setara yang sangat memudahkan persamaan aljabar tentang waktu.

Pasti seru…!

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Pertarungan Matematika Kreatif: Bilangan Positif dan Negatif

Al kecil, berumur 5 tahun,

“Paman APIQ, 2 – 4 itu adalah -2.”

Tentu saja Paman APIQ kagum. Bagaimana caranya seorang anak kecil memikirkan bilangan negatif atau min?

“Betul. Kok Kamu bisa berhitung begitu bagaimana caranya?” Paman APIQ penasaran.

“Kan mereka bertarung. Yang 2 hilang. Jadi tinggal -2,” kata Al.

Paman APIQ makin penasaran,

“2 – 3 berapa?”

” -1 lah…” jawab Al.

“Betul. Bagaimana sih cara bertarungnya?”

Lalu Al menjelaskan ada sekelompok pasukan minus bertarung dengan sekelompok pasukan plus. Jika mereka bertemu satu lawan satu maka mereka lenyap.

2 – 3 berapa?

2 pasukan plus melawan 3 pasukan minus maka yang 2 lenyap sehingga sisa minus 1.

“Oooo…begitu. Dari mana Kamu tahu cerita semacam itu?” Paman APIQ masih heran.

“Ya…menghayal aja sendiri,” jawab Al kalem.

Bagi Paman APIQ yang terpenting adalah imajinasi anak-anak berkembang secara kreatif. Karena Al memang menyukai perang-perangan maka imajinasinya mengantarkan peperangan pasukan bilangan positif (plus) berhadapan dengan pasukan bilangan negatif (minus).

Bagi Al sendiri imajinasi bilangan plus minus sama asyiknya dengan ia membayangkan petualangan pendekar-pendekar sakti.

Salut untuk Al kecil yang masih berusia 5 tahun itu!

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat….
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)