Ketika kelas 3 SD saya membaca sebuah cerita tentang seorang pengembara.
Di tengah hutan, pengembara itu menemukan seekor monyet yang terjepit pohon. Monyet itu tidak mampu melepaskan diri dan merintih iba.
Sang pengembara mendekati dan membaskan monyet dari jepitan pohon.
Sebagai ungkapan terima kasih, si monyet hendak mengabdi kepada pengembara. Tetapi Sang Pengembara menolaknya. Ia tidak memerlukan balas budi. Bagaimana pun si monyet memaksa agar diijinkan mengabdi.
Ketika Sang Pengembara lapar, si monyet langsung memanjat pohon durian dan dihidangkannya durian nikmat. Sang Pengembara menyantap dengan nikmat. Di saat yang lain, si monyet telah menyediakan setandan pisang matang.
Si monyet terus mengabdi ke pada Sang Pengembara.
Karena lelah, Sang Pengembara istirahat tertidur di bawah pohon. Dengan penuh kewaspadaan, si monyet menjaga Sang Pengembara.
Tiba-tiba seekor nyamuk bising terbang ke sana sini. Si monyet khawatir jikalau bising nyamuk mengganggu istirahat pengembara. Si monyet berusaha menangkap nyamuk tersebut. Tetapi si nyamuk berhasil menghindar.
Si nyamuk akhirnya mau hinggap. Nyamuk itu benar-benar hinggap di kening Sang Pengembara yang sedang tidur. Si Monyet dengan gesit segera mengambil batu dan menghabisi si nyamuk dengan melemparkan batu sekuat tenaga.
Duarrr…!
Si nyamuk mati. Demikian pula Sang Pengembara.
Apa pelajaran dari kisah di atas?
“Jangan berteman dengan si bodoh. Apa lagi memberi kepercayaan ke pada si bodoh. Tolonglah si bodoh. Belalah si bodoh. Ajarilah si bodoh. Tapi jangan bersahabat.”
Bahkan niat baiknya pun dapat mencelakai…
Bagaimana menurut Anda?