Archive Bulanan: Februari 2010

Menulis Buku APIQ Berikutnya

Berjuta rasa syukur kami panjatkan kepada Allah buku APIQ 2 telah terbit.

Ini pertanda jelas bagi saya, bahkan semacam perintah, saya perlu menulis buku lagi. Buku apa gerangan yang perlu saya tulis?

Di komputer saya sudah bertebaran beberapa naskah buku yang hampir jadi. Perlu usaha finishing untuk membuatnya benar-benar jadi naskah buku. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

1. APIQ 3: Cara Kreatif Belajar Kalkulus

2. APIQ 4: Quantum Quadrat; Asyiknya Berpetualang di Dunia Matematika Kuadrat

3. Komik APIQ: Bertualang ke Istana Math Bersama Al, Geo, Meti

4. Presentasi Inspiratif

5. Lima Kunci Menjadi Manusia Bersejarah (Sebuah naskah buku terlama proses penulisannya sepanjang sejarah hidup saya.)

6. Dan lain-lain.

7. Kemarin mendapat ide menarik dari sebuah penerbit minta dituliskan naskah “Cara Kreatif Mencintai…Matematika”.

Selamat berkarya…

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Karena TakdirMu Maka Aku Berusaha

Bukan karena paksaan
Bukan karena tuntutan
Bukan karena kebutuhan

Karena ini takdirMu
Maka aku berusaha

Kau pilihkan takdir terbaik
Malu bila aku tidak memberi yang terbaik

Hanya untukMu…

Bukuku APIQ 2 Telah Terbit: APIQ Creative Math Game

Setelah berhari-hari, berbulan-bulan, siang ini saya menerima buku APIQ 2 yang masih hangat langsung dari penerbit.

Buku APIQ 2 yang saya beri judul APIQ Creative Math Game telah siap di pasaran. Buku APIQ 2 ini istimewa. Di satu sisi saya membahas berbagai macam hal praktis dan aplikatif dari matematika kreatif. Di sisi lainnya saya membahas teori matematika kreatif yang cukup abstrak.

Saya langsung membaca ulang buku APIQ 2 tersebut dari awal sampai akhir. Ternyata saya menikmati juga membaca buku karya tulis sendiri.

Bagi Anda yang berminat membaca buku APIQ 2 silakan kunjungi toko buku kesayangan Anda semisal Gramedia, Gunung Agung, Toga Mas, atau lainnya. Anda juga dapat memesan langsung melalui email ke:

quantumyes@yahoo.com

Semoga buku APIQ 2 dapat memberi manfaat bagi kita bersama.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Koordinat Milenium: Inovasi Matematika Untuk Training APIQ Quantum 27 Februari Angkatan 13

Masih tiga pekan lagi kita akan menyongsong Training APIQ Quantum angkatan 13.

Training Instruktur APIQ Quantum

Hari: Sabtu
Tanggal: 27 Februari 2010
Waktu: 08.30 s.d 20.30 wib
Tempat: Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta

Beberapa inovasi terbaru dalam pembelajaran matematika kreatif mulai saya tulis agar lebih siap untuk Training APIQ angkatan 13 di atas. Berikut adalah beberapa di antara inovasi yang sedang kami siapkan.

1. Kara Milenium; Inovasi yang membantu anak kita asyik mengenal konsep bilangan negatif. Lengkap dengan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian bilangan negatif.

Mengapa negatif x negatif = positif tampak jelas dengan permainan Kara Milenium. Bila kita sandingkan dengan Mutiara Milenium maka Kara Milenium menjadi lebih hebat lagi.

Kara juga berguna untuk memperkenalkan konsep geometri volume dari tabung atau silinder. Tentu saja Kara juga membantu mengenalkan konsep lingkaran yang menjadi alas atau atap tabung.

2. Qipas Milenium; Inovasi yang memperkenalkan konsep lingkaran menjadi lebih akrab. Lingkaran adalah bentuk lain dari segitiga dan segiempat yang istimewa.

Dengan Qipas kita akan mudah belajar konsep sudut radian, panjang busur, keliling lingkaran, luas sektor, luas lingkaran, dan lain-lain.

3. Koordinat Milenium; Koordinat Cartesius banyak membantu kita dalam analisis geometri (dan aljabar). Meski Fermat lebih awal menemukan sistem koordinat tetapi Cartesius lebih beruntung. Sistem koordinat kita kenal sebagai diagram Cartesius bukan diagram Fermat.

Melanjutkan koordinat pada sistem diagram Cartesius maka Koordinat Milenium membantu kita belajar aljabar dan geometri dengan asyik. Anak-anak akan lebih mencintai dan menghayati aljabar dengan Koordinat Milenium.

Selamat bergabung dalam Training APIQ Quantum…

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Lebih Mudah, Lebih Lancar Berlatih Matematika Radian

Al, Geo, Meti, dan Paman APIQ sedang asyik-asyiknya berlatih matematika konsep sudut radian.

Mari kita bayangkan lagi sebuah lingkaran dengan jari-jari 7 onde atau diameter 14 onde.

Berapakah keliling lingkaran tersebut?

“44 onde,” sahut Geo cepat.

Berapakah panjang busur 1/2 lingkaran?

“22 onde,” Meti menjawab.

Berapakah panjang busur 1/4 lingkaran?

“11 onde,” jawab Al.

Berapakah besar sudut 1/4 lingkaran tersebut?

Al, Geo, Meti saling berpandangan lagi. Mereka berpikir apa maksud berapa besar sudut 1/4 lingkaran.

Kita sering menyebut sudut dari 1/4 lingkaran adalah sudut siku-siku atau tegak lurus atau 90 derajat. Satuan sudut yang lebih elegan adalah radian. Berapa radiankah sudut siku?

“Aku ingat…” Geo memulai,” sudut adalah perbandingan panjang busur dengan jari-jari. Jadi… 11/7.”

“Betul,” kata Paman APIQ.

Mereka menyepakati istilah bahwa sudut siku = 11/7 = 1/2 pi = 90 derajat.

“Berapa panjang busur dari sektor lingkaran yang jari-jari r = 14 dan sudut siku?”

“11/7 x 14 = 22,” Geo menjawab lagi.

“Berapakah panjang busur dari sektor lingkaran yang jari-jari = 14 dan sudut pi ?”

“pi = 22/7 maka 22/7 x 14 = 44,” giliran Al menjawab.

“Berapakah panjang busur dari sektor lingkaran yang jari-jari r = 14 dan sudut 2pi ?”

“2pi = 44/7 maka 44/7 x 14 = 88,” Meti menjawab.

“2pi sama saja dengan 1 lingkaran penuh kan?” tanya Geo.

“Betul. Maka panjang busur = keliling lingkaran.”

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Memudahkan Belajar Matematika dengan Sudut Radian dari Derajat

Sejak ribuan tahun lalu matematika menggunakan istilah derajat untuk menentukan ukuran sudut. Satu putaran penuh adalah 360 derajat, garis lurus adalah 180 derajat, dan siku-siku adalah 90 derajat.

Sesuai namanya, derajat, adalah sekedar simbol saja. Ukuran sudut menggunakan radian lebih elegan. Radian juga memiliki arti yang lebih bermakna secara matematis. 1 radian adalah perbandingan busur dengan jari-jari = 1.

Memang istilah radian baru hadir di dunia matematika pada abad ke-19. Tokoh James Thomson mempromosikan radian pada 1873 dan sebelumnya oleh Roger Cotes (1714).

Paman APIQ menyarankan agar kita mengelaborasi lebih jauh penggunaan radian untuk memudahkan belajar matematika.

Misalnya, kita dapat mengenalkan konsep radian kepada anak-anak tanpa membebaninya dengan konversi ke derajat.

Tentukan besar sudut dari,

“Busur 14, r = 7″
“14/7 = 2,” jawab Meti.

“Busur 21, r = 7″
“21/7 = 3,” jawab Geo ringan.

“Busur 35, r = 7″
“35/7 = 5,” jawab Al mantap.

Anak-anak merasa senang dengan contoh-contoh di atas. Tampak tidak ada yang rumit. Setelah anak-anak memahami konsep radian tersebut perkenalkan dengan konsep pi.

“Kalian tahu, berapa besar sudut dari garis lurus?” tanya Paman APIQ.
“Aku tahu kalau Paman memberi tahu panjang busurnya,” seru Meti.
“Betul. Aku juga tahu Paman,” tambah Al.
“Mari kita cari tahu berapa pajang busurnya,” saran Geo.

Dengan bimbingan Paman APIQ mereka bereksperimen untuk menentukan sudut garis lurus.

Pertama mereka membuat garis lurus yang panjangnya 14 onde = 2 x 7 onde = 2 x jari-jari. Kemudian mereka membuat busur tercantik.

Busur tercantik yang dapat dibentuk adalah 22 onde.

“Sudut garis lurus adalah … 22/7,” seru Geo.
“Betul. 22/7 juga disebut sebagai pi,” tambah Paman APIQ.

“Bila 1 garis lurus, sudutnya dibagi 2 menjadi sudut siku kan? Berapa besar sudut siku tersebut?”

“11/7, ” sahut Meti.
“Betul banget. 11/7 juga kita sebut sebagai 1/2 pi.”

“Berapa besar sudut 3 siku?” tanya Paman APIQ.

Al, Geo, Meti terdiam. Mereka saling memandang.

“Aku tahu, ” Al punya ide,” 11/7 x 3 = 33/7.”
“Betul. Kalian memang hebat.”

Mereka terus berpetualang dengan konsep radian. Dengan pemahaman radian maka menjadi lebih mudah menghitung keliling lingkaran dan panjang busur.

Keliling lingkaran = 4 siku x r
= 4 x 11/7 x r
= 44/7 x r ( = 2 x pi x r)

Luas lingkaran = 1/2 a. t
= 1/2 a. r
= 1/2 (s.r). r

s adalah sudut dalam radian.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Archimedes Pahlawan Matematika Yang Mendahului Jaman

Kita mengenal Archimedes sebagai tokoh fisika dengan hukum Archimedes-nya. Konon Archimedes menemukan teori tersebut ketika ia mandi di bak. Seketika Archimedes berteriak gembira, “Eureka…eureka…eureka…”. Tidak sadar bahwa dirinya masih dalam keadaan telanjang.

Lebih dari itu, Archimedes juga merupakan seorang matematikawan yang hebat. Dia berhasil menghitung luas lingkaran dan keliling lingkaran dengan akurat. Tentu saja Archimedes juga menemukan bilangan pi yang akurat. Bilangan pi merupakan perbandingan luas lingkaran dengan r^2 atau perbandingan keliling lingkaran dengan diameternya.

Yang menarik adalah pendekatan Archimedes dalam meghitung luas atau keliling lingkaran. Ia menggunakan potongan-potongan kecil poligon luar dan dalam. Ratusan tahun kemudian metode ini hanya dianggap biasa saja sampai jaman Renaisans. Di tangan Isaac Newton dan – secara terpisah – Leibniz metode tersebut menjadi landasan dasar kalkulus.

Bilangan pi hampir selalu terlibat dalam menghitung lingkaran. Karena pi adalah perbandingan keliling dan diameter maka wajar bila para ilmuwan mengira bahwa pi adalah bilangan rasional. Sampai pada abad ke-9 Masehi, Muhammad Ibnu Musa Aljabar Alkhawaritzmi, raksasa matematika dari timur tengah, menyatakan bahwa pi adalah irasional.

Sebagai bilangan irasional tentu saja pi tidak akan pernah dapat dinyatakan sebagai perbandingan dua bilangan bulat. Bilangan pi semakin misterius.

Abad ke-19 menambah misteriusnya bilangan pi. Bilangan pi adalah bilangan irasional yang spesial. Yaitu bilangan irasional yang transenden.Yakni pi bukan solusi dari polinom apa pun yang koefisiennya bilangan rasional. Dengan kata lain, pi tidak dapat dinyatakan secara aljabar. Lindenmann, matematikawan Jerman, berhasil membuktikan pi sebagai bilangan transenden.

Mari kembali ke masa lalu, ke jaman Archimedes. Archimedes menghitung luas lingkaran dengan menghitung poligon dalam dan poligon luar. Tentu kita tahu luas lingkaran di antara dua poligon tersebut.

Poligon dalam < Lingkaran < Poligon luar

Poligon paling mudah kita hitung adalah segi empat atau persegi. Bayangkan sebuah lingkaran dengan jari-jari r = 1.

Poligon luar berupa persegi dengan sisi 2r. Maka luas poligon adalah 2 x 2 = 4.

Poligon dalam berupa persegi dengan diagonal 2r. Maka sisi = 2r/(akar 2) dan

luas = 2/(akar2) x 2/(akar2) = 4/2 = 2

Jadi

2 < luas lingkaran < 4

Tentu kita sudah tahu bahwa luas lingkaran adalah pi.

Bagaimana bila kita mengambil poligon adalah segi 6 beraturan?

Poligon luar terdiri dari 6 segitiga besar sama kaki dengan sudut puncak 60 derajat.

Maka
tinggi = t = 1
alas = a = 2.tan 30 = 2/(akar3)

Luas = 1/2 a.t = 1/2. 1. 2/(akar3) = 1/(akar3)

Luas poligon = 6 x 1/(akar3) = 6/(akar3)
= akar (36/3)
= akar 12 (Sekitar 3,46. Selesai).

Luas poligon dalam?

Poligon dalam terdiri dari 6 segitiga sama kaki kecil yang puncaknya 60 derajat dan panjang kaki 1.

Maka luas segitiga adalah,

luas = 1/2 a.b sinC
= 1/2 1.1 sin 60
= 1/2 x 1/2 akar3
= 1/4 akar3

Luas poligon dalam
= 6 x 1/4 akar3
= 3/2 akar3
= akar (27/4) = (sekitar 2,6)

Jadi dapat kita tulis

akar (27/4) < luas lingkaran < akar (12)
2,6 < luas lingkaran < 3,46

Archimedes melanjutkan perhitungan sampai poligon segi 96 dan mendapatkan luas lingkaran = pi, yaitu:

223/71 < pi < 22/7

Sampai sekarang kita masih memakai bilangan pi yang dihitung Archimedes dua ribu tahun yang lalu yaitu pi = 22/7.

Melanjutkan langkah Archimedes, Paman APIQ telah menyarankan pendekatan menghitung luas lingkaran dengan menghitung sektor lingkaran.

Dengan meminjam Teorema Apit dalam kalkulus, Paman APIQ telah menunjukkan bahwa luas sektor lingkaran = luas segitiga.

L = 1/2 a.t = 1/2 a.r = 1/2 (s.r)r

a = alas = busur
t = r = jari-jari
s = sudut sektor

Dengan pendekatan segitiga di atas, kita dapat menunda keterlibatan bilangan irasional transenden pi dalam banyak kasus sektor lingkaran.

Misal diketahui sektor lingkaran yang berjari-jari 14 cm dan panjang busur 7 cm. Tentukan luas sektor lingkaran tersebut!

Pembahasan:

L = 1/2 a. t
= 1/2 x 7.14
= 49 cm persegi (Selesai).

Sesuai harapan kita, kita tidak melibatkan bilangan irasional transenden pi. Tentu hal ini akan memudahkan kita mengenalkan konsep lingkaran kepada para siswa-siswa kita.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)