Archive Bulanan: Oktober 2009

Hari ini Kesempatanku

Ya tinggal hari ini
Karena kutinggalkan kesempatan
Tinggal hari ini tersisa

Ayo… Olah raga…
Ayo… Badminton…
Badan sehat, jiwa sehat

Bertumpuk-tumpuk Inovasi Matematika Kreatif: 17 Oktober Jakarta

Lebih dari 2 bulan, APIQ tidak menyelenggarakan training instruktur matematika kreatif APIQ. Karena itu training 17 Oktober 2009 ini merupakan training yang bertumpuk-tumpuk inovasi terbaru dari keluarga besar APIQ.

Training APIQ terakhir, kami muncul ide “lautan nol milenium”. Beberapa hari yang lalu ide tersebut sudah menjadi realisasi nyata berupa “mutiara milenium”. Terima kasih kepada Mr Y, inovator kita, yang selalu bersemangat mewujudkan beragam ide-ide kreatif.

Mutiara milenium ini, enak dipandang, menarik, dan unik. Dengan sangat mudah anak-anak bermain dan belajar konsep bilangan positif dan negatif – tentu bilangan 0 – memanfaatkan mutiara milenium.

Bagaimanakah bentuk nyata mutiara milenium?

Selamat bergabung dengan training instruktur APIQ 17 Oktober 2009 di Jakarta.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Memperlancar Latihan Deret Aritmetika (Aritmatika, Matematika)

Untuk sementara mari kita anggap sama saja antara barisan aritmetika dan deret aritmetika. Begitu juga aritmetika = aritmatika.

Deret aritmetika adalah formula matematika yang sangat bagus untuk melatih nalarmatika anak-anak kita.

Misalnya, Paman APIQ sering melontarkan pertanyaan,
“Berapakah jumlah dari 1 + 2 + 3 + … … … + 99 + 200 = ?”

Al, Geo, Meti dan anak-anak lain menyukai tantangan-tantangan deret aritmetika seperti itu.

Kali ini, Paman APIQ akan mengajak kita untuk bermain-main dengan rumus Un deret aritmetika, suku ke-n.

Deret aritmetika merupakan deret yang beda antara suku berdekatan selalu sama = b. Misal b = 3 dan suku ke-1 = 2 maka kita memiliki deret aritmetika:

2, 5, 8, 11, 14, ….

Berapakah nilai suku ke-10?
Suku ke-1 = U1 = 2
U2 = 2 + 3 = 5
U3 = 2 + (3+3) = 8
U10 = 2 + (3×9) = 29

Berapakah suku ke-101?

U101 = 2 + (100×3) = 302.

Sehingga secara umum, rumus suku ke-n adalah

Un = U1 + (n-1)b

Untuk contoh di atas,

Un = 2 + (n-1).3
= 2 + 3n – 3
= 3n – 1

Contoh, berapakah suku ke-200?

U200 = 3.200 – 1 = 599 (selesai)

Berapakah U300, U500, U900 =?

Analisis sebaliknya juga dapat kita lakukan. Bila diketahui Un maka kita dapat langsung tahu b dan U1. Misal,

Un = 3n – 1; tentukan b dan U1.

b = 3 (tampak jelas dari 3n)
U1 = 3.1 – 1 = 2 (selesai).

Un = 20n – 3; tentukan b dan U1.

b = 20
U1 = 20 – 3 = 17

Un = 35n + 9; tentukan b dan U1.

b = 35
U1 = 44

Umumnya U1 juga disebut sebagai a = U1.

Bagaimana menurut Anda?
Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Matematika Diskrit untuk Anak-anak

Dalam sejarahnya, matematika diskrit baru muncul di abad 19 dan 20. Sehingga kita dapat mengelompokkan matematika diskrit sebagai matematika modern.

Paman APIQ mengajukan pertanyaan,
“apakah perlu anak-anak belajar matematika diskrit?”

Ilmu komputer dan teknologi informasi sangat banyak memanfaatkan matematika diskrit. Jadi, matematika diskrit adalah matematika tingkat tinggi.

Tetapi kenyataannya, seorang anak atau bayi mengenal bilangan atau angka yang pertama justru bilangan diskrit. Anak kita mengenal hitungan 1, 2, 3, dan seterusnya adalah sistem hitung diskrit. Mereka tidak merisaukan bahwa antara bilangan 1 dan 2 ada bilangan irasional akar 2 , yang tidak diskrit.

Pemahaman akan matematika diskrit membantu Paman APIQ menyajikan matematika menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Misalnya, Paman APIQ mengembangkan cara berhitung cepat dan mudah menarik akar kuadrat, akar kubik, rumus Pythagoras, FPB KPK, dan lain-lain.

Paman APIQ juga dapat bermain-main dengan matematika diskrit. Misal ada seorang anak yang sangat senang dengan Algeometi. Anak itu membuat tulisan

ALGEOMETIALGEOMETIALGEOMETI… dan seterusnya.

Huruf urutan pertama adalah A, kedua L, ketiga G.

Huruf apakah yang terletak pada urutan ke
a. 30
b. 50
c. 875
e. 2009
f. 5756389

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Matematika Membuat Anak Anda Kaya

Tentu Paman APIQ setuju dengan pernyataan bahwa matematika membuat anak Anda kaya.

Kaya ilmu, kaya pemahaman, kaya pengertian. Itulah beberapa bonus yang kita peroleh dari belajar matematika.

Manfaat belajar matematika ternyata jauh lebih hebat dari itu.

Belajar matematika membuat anak Anda kaya raya dalam arti harfiah.

Kaya uang, kaya harta, kaya karir. Bagaimana dapat seperti itu?

Tak sengaja saya keluar log dari account yahoo saya. Lalu ada artikel dari yahoo – sumber Forbes – tentang bakat paling menentukan para bilyuner dunia.

Saya penasaran. Saya klik dan baca artikel dari Forbes tersebut. Setiap orang kaya raya atau bilyuner memiliki kesamaan nomor satu: orang tua mereka selalu mahir matematika.

Bukan hanya diri mereka yang mahir matematika tetapi orang tua mereka juga sudah mahir matematika.

Profesi utama orang tua mereka adalah insinyur, akuntan, dan pemilik bisnis. Wah…jenis profesi ini lebih menggelitik saya!

Insinyur? Ya, memang itu profesi saya.
Akuntan? Ya, itu keahlian ibu anak-anak saya.
Pemilik bisnis? Mereka berkolaborasi mendirikan bisnis.

Paman APIQ lebih condong memandang matematika dari sisi spiritual. Maksudnya, dalam kaca mata Paman APIQ, belajar matematika melatih mental anak dan mematangkan spiritual.

Tetapi bila belajar matematika juga membuat anak Anda menjadi kaya raya, mengapa tidak?

Apakah visi misi APIQ perlu kita tambah lagi ya?

“Belajar matematika menjadikan anak Anda kaya raya.”

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)
*Silakan membaca sumber tulisan asli.

APIQ Media: Semakin Kuat Ide Kreatif

Telah lama APIQ memiliki fokus untuk mendesain dan memproduksi beragam tool, alat mainan, alat peraga edukatif matematika kreatif.

Dalam kesempatan diskusi di Bandung kemarin, teman-teman anggota keluarga besar APIQ menguatkan kembali untuk membentuk lini khusus, dapat saja berupa anak perusahaan, untuk memproduksi media tool matematika kreatif.

Nama apa yang kira-kira cocok untuk lini khusus atau anak perusahaan khusus tersebut?

1. APIQ Media
2. aMedia
3. AplusMedia
4. Mathmedia
5. Matemedia
6. …. …. ….

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat….
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Pembuktian Rumus Menghitung FPB dan KPK Paling Mudah

Pembuktian rumus atau penggunaan rumus?

Paman APIQ telah melontarkan isu tersebut beberapa waktu lalu. Dengan menggunakan otak kanan, Paman APIQ menyarankan agar kita memanfaatkan pembuktian rumus dan pengunaannya secara variatif.

Bagi siswa pada umumnya, lebih penting dapat memanfaatkan rumus secara kreatif. Sementara beberapa siswa khusus perlu mendalami pembuktian rumus.

Bagaimana untuk guru?

Paman APIQ menyarankan agar para guru sebaiknya dapat mahir dua-duanya: pembuktia rumus dan pemanfaatan rumus.

Berikut ini adalah pembuktian rumus untuk menghitung FPB yang paling mudah. Sedangkan pembuktian menghitung KPK paling mudah sudah saya tuliskan beberapa waktu yang lalu.

FPB: Faktor Persekutuan terBesar
KPK: Kelipatan Persekutuan terKecil

Untuk himpunan bilangan asli, tunjukkan bahwa bila

m – n = s

dan s membagi habis n

maka

s = FPB.

Pertama, mari kita batasi agar lebih mudah.
m > n
m =< 2n

Kita dapat menyatakan:
m = p x FPB
n = q x FPB

m – n = s
pxFPB – qxFPB = s
(p-q) FPB = s

n/s =
= (qxFPB)/((p-q)FPB)
= q/(p-q)

(p-q) FPB = s

Semua bilangan di atas adalah bilangan asli.

Jika s adalah FPB maka dapat membagi habis m – n. (Terbukti. Implikasi dari s adalah FPB).

Kini kita tinggal membuktikan implikasi arah sebaliknya.

Jika s dapat membagi habis m-n maka s adalah FPB.

m – n = s
(p-q).FPB = s

Semua bilangan di atas adalah bilangan asli.
Karena m =< 2n maka p-q = 1
Jadi s = FPB. (Terbukti).

n/s =
= (qxFPB)/((p-q)FPB)
= q/(p-q)

Karena s dapat membagi habis n maka n/s adalah bilangan bulat maka p – q = 1.

Jika p – q = 1 maka

s = (p – q) FPB
s = FPB

Dengan demikian terbukti bahwa

jika m – n = s dan s dapat membagi habis n maka s = PFB.

Contoh:

42 – 35 = 7

Karena 7 dapat membagi habis 35 maka 7 adalah FPB.

50 – 48 = 2

Karena 2 dapat membagi habis 48 maka 2 adalah FPB.

Bagaimana jika s tidak dapat membagi habis n?

Seperti

35 – 25 = 10

Tentu kita dapat melakukan pengurangan berulang,

25 – 10 = 15
15 – 10 = 5

5 dapat membagi habis 10 maka

5 adalah FPB antara 10 dan 15,
5 adalah FPB antara 10 dan 25,
5 adalah FPB antara 25 dan 35.

Dengan mendefinisikan pengurangan berulang sebagai pembagian maka proses perhitungan FPB menjadi lebih cepat lagi.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Lebih Mudah Lagi FPB dan KPK dengan Pengurangan

“Paman APIQ, teman-teman di sekolah minta agar diajari cara menghitung FPB dan KPK yang paling mudah,” kata Meti.
“Wah bagus sekali! Teman-temanmu minta diajari matematika?”
“Betul, Paman APIQ!” jawab Meti.

Paman APIQ sangat senang bila ada siswa yang minta belajar matematika. Siswa yang meminta belajar bukan disuruh untuk belajar. Itu adalah 2 hal yang sangat berbeda.

Seperti hari-hari yang lalu, Paman APIQ memang selalu berinovasi dan berkreasi. Kali ini Paman APIQ akan memperkenalkan cara menentukan FPB dan KPK yang sangat mudah, menggunakan pengurangan.

Contoh:

Tentukan FPB
33 dan 30

Jawab:

33 -: 30 = 3 (Selesai).

“Hanya begitu?” Geo heran.
“Paman APIQ pasti bercanda nih…” Al juga kurang percaya.

Tentukan FPB dari
56 dan 49

Jawab:
56 -: 49 = 7 (Selesai).

“Benar-benar hebat!” sahut Meti.
“Mengapa Paman APIQ menggunakan tanda -: bukan – seperti biasa?”

Itulah intinya…

-: artinya adalah dikurangi atau dibagi dan sisanya adalah ….

42 -: 35 = 7 (Selesai FPB)
42 -: 36 = 6 (Selesai FPB)

33 -: 27 = 6 (Belum selesai)
27 -: 6 = 3 (Selesai. FPB 33 dan 27 adalah = 3)

“Kapan kita sudah tahu selesai atau belum?” tanya Meti.
“Ketika SISA dapat membagi habis PEMBAGI maka selesai,” jawab Paman APIQ.

Contoh:

Tentukan FPB dan KPK dari
64 dan 40

Jawab:
64 -: 40 = 24
40 -: 24 = 16
24 -: 16 = 8 (Selesai. FPB adalah = 8. )

KPK?
64 = 8 x (8)
40 = 8 x (5)
KPK = 8 x (8×5) = 320 (Selesai)

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Semakin Mahir Berlatih FPB dan KPK

Semakin banyak berlatih maka semakin mahir. Yuk… berlatih FPB dan KPK bersama Paman APIQ.

Tentukan FPB dan KPK dari,

1. 8 dan 12
2. 9 dan 12
3. 10 dan 15
4. 12 dan 16
5. 21 dan 28

6. 30 dan 36
7. 28 dan 35
8. 44 dan 55
9. 60 dan 72
10. 84 dan 98

Selamat berlatih…sukses selalu!

Definisi Matematika Menghitung 0!

Beberapa hari lalu saya menerima email yang isinya singkat dan menarik,

“Mas, tolong bagaimana cara membuktikan bahwa 0! = 1 ?”

Untungya, saya sudah pernah sedikit membahas definisi 0! (0 faktorial) tersebut. Sehingga saya tinggal memberikan link saja.

Paman APIQ berpikir lebih jauh lagi. Definisi itu penting. Bagaimana kita menyikapi definisi lebih penting lagi.

Dalam matematika kita mengenal beberapa istilah penting seperti definisi, aksioma, dan teorema.

Paman APIQ menyarankan agar kita dapat membedakan hal penting di atas dan memanfaatkannya dengan tepat. Meski sayangnya banyak guru dan penulis buku yang tidak memanfaatkan hal di atas dengan baik.

Misal dalam buku SD, sering muncul soal:

4 x 2 = ……………………………….. = …….

Baik, hasil akhir dari soal di atas adalah 8.
Tetapi prosesnya?

4 x 2 = 4 + 4 = 8 atau
4 x 2 = 2 + 2 + 2 + 2 = 8 ?

Proses perhitungannya adalah masalah definisi. Paman APIQ menyarankan agar kita membenarkan dua proses perhitungan di atas.

Mari kembali kepada definisi, aksioma, dan teorema.

Definisi adalah pernyataan yang memperjelas suatu hal. Definisi mirip dengan makna atau arti. Definisi juga berperan membatasi suatu makna. Dalam matematika – modern – definisi terus berkembang sesuai kebutuhan.

Karena itu, definisi perlu kita pahami bukan harus kita buktikan. Definisi suatu hal juga boleh tidak tunggal. Masing-masing dapat mendefinisikan sesuatu agar lebih berguna.

0! = 1 adalah definisi.

Maka kita perlu memahaminya.

Ada banyak definisi tentang faktorial. Salah satunya, untuk n bilangan asli,

n! = n (n-1)! ; n >=1 dan
n! = 1 ; n = 0

Mari kita ikuti definisi ini.
1! = 1.(0!) = 1
2! = 2.(1!) = 2
3! = 3.(2!) = 6
4! = 4.(3!) = 4.6 = 24
dan seterusnya…

Dengan definisi 0! = 1 hal ini konsisten dengan perhitungan-perhitungan selanjutnya. Seandainya seseorang mendefinisikan 0! = 0 maka tidak akan konsisten dengan perhitungan di atas. Dan orang tersebut perlu menunjukkan apa manfaat dari definisi 0! = 0.

Sedangkan definisi 0! = 1 jelas bermanfaat untuk menghitung permutasi atau kombinasi misalnya.

Permutasi 5 dari 5 adalah,

5!/(5-5)! = 5!/0! = 5!/1 = 5.4.3.2 = 120.

Jadi, definisi perlu kita pahami. Perlu kita ketahui maksud dan gunanya. Tidak perlu kita buktikan – dan sebaiknya tidak usah dijadikan soal latihan matematika. Kita juga perlu menerima beragam definisi yang berbeda-beda.

Apakah aksioma itu?

Aksioma adalah pernyataan yang dianggap sudah jelas atau terbukti dengan sendirinya. Aksioma sudah dianggap benar. Misalnya setiap persegi memiliki 2 pasang sisi yang sejajar. Kerangka kubus memiliki 12 rusuk dan seterusnya.

Apakah aksioma perlu dibuktikan?

Ya. Perlu dibuktikan. Tetapi pembuktiannya sangat mudah. Tampak jelas di depan mata. Jadi tidak perlu dipermasalahka lagi.

Tidak. Tidak perlu dibuktikan. Toh sudah jelas!

Ada juga aksioma yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya tetapi penting. Aksioma tersebut kita sebut dengan postulat.

Postulat yang sangat terkenal adalah postulat Einstein yang menyatakan kecepatan maksimum adalah kecepatan cahaya = c.

Dalam logika matematika, kita juga mengenal premis sebagai pernyataan yang dianggap sudah jelas benar (atau salahnya).

Terakhir, apakah teorema itu?

Teorema adalah suatu pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya.

Teorema yang sangat terkenal adalah teorema Pythagoras untuk segitiga siku-siku.

a^2 + b^2 = c^2

Apakah perlu dibuktikan kebenaran dari suatu teorema?

Ya. Perlu. Bahkan pembuktian teorema dapat menjadi latihan yang sangat menarik dan bermanfaat.

Siswa-siswa APIQ dapat membuktikan kebenaran teorema Pythagoras dengan permainan-permainan matematika kreatif seperti mino milenium atau kubus milenium.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)