Dikabarkan Bill Gates muda memenangkan adu kekuatan siapa paling tahan lama tinggal di ruang komputer. Beberapa anak muda, pecinta komputer, sepakat beradu tahan lama siapa paling kuat terus-menerus menatap komputer. Mereka tidak boleh keluar ruang komputer kecuali hanya untuk ke toilet sebentar.
Bill Gates adalah juaranya. Setelah teman-temannya mulai berguguran terus-menerus menatap komputer tinggallah Bill Gates seorang diri. Kabarnya juga, Bill Gates muda mampu bertahan sampai tiga hari menatap komputer.
Kualitas diri Gates yang mampu memaksa dirinya untuk melakukan sesuatu yang diinginkan, pantang menyerah, adalah modal utama untuk menjadi kreatif dan inovatif. Seperti kita tahu, akhirnya, Bill Gates berhasil memimpin perusahaan besar yang paling kreatif dan inovatif di jagad ini: Microsoft.
Steve Jobs adalah pemuda yang juga pecinta komputer. Jobs selain bekerja sendiri juga mempekerjakan programmer-programmer lain.
Suatu ketika, Jobs mendapat laporan hasil terbaik dari tim programmernya. Mereka menyalakan komputer lalu komputer mulai berproses…
“Inilah komputer terbaik di dunia!” kata programmer.
“Mengapa tidak kamu buat lebih cepat?” tanya Jobs.
“Ini adalah komputer paling cepat. Tidak ada komputer yang lebih cepat dari ini.”
“Coba kamu buat lebih cepat beberapa detik!”
“Tidak bisa. Karena ini sudah yang paling cepat,” programmer defensif.
“Kita tidak menjual 1 unit komputer. Kita menjudal 1 juta unit komputer,” Jobs menjelaskan.
“Bila kita berhasil menghemat proses 1 detik dikalikan 1 juta komputer maka kita menghemat waktu 1 juta detik. Bayangkan 1 juta detik!”
“Jadi kamu harus membuat komputer ini lebih cepat,” Jobs memaksa.
“Siap…!” jawab programmer.
Beberapa hari kemudian, tim programmer berhasil mendesain komputer yang lebih cepat. Jobs memiliki kualitas diri untuk memaksa diri dan timnya meraih suatu tujuan. Kekuatan memaksa diri ini adalah bekal utama untuk menjadi kreatif dan inovatif.
Seperti kita tahu, Jobs berhasil memimpin perusahaan paling inovatif di dunia, Apple. Sampai sekarang pun, Jobs tetap sering memaksa para programmer dan desainernya untuk merancang sesuatu yang tampak mustahil.
Kisah lama juga mengajari kita tentang kekuatan untuk memaksa diri. Daud muda (David) adalah pemuda yang dapat memaksa diri untuk selalu berpuasa selang-seling setiap hari. Hari ini berpuasa, besok tidak. Besoknya lagi berpuasa, lalu tidak, dan seterusnya. Meski Daud hanya bocah kecil mampu mengalahkan raja raksasa Jalut (Goliath).
Muhammad sang Nabi sejak muda memaksa diri untuk senatiasa merenung berefleksi setiap malam di gua Hira. Ketika pemuda lain berfoya-foya bergembira di malam hari, Muhammad justru terus berpikir dan berpikir. Seperti kita tahu Muhammad memperoleh pecerahan wahyu pada waktu yang tepat. Muhammad berhasil membangun peradaban yang tercerahkan.
Kekuatan memaksa diri (dan lingkungan) adalah kualitas dasar bagi kita untuk menjadi kreatif dan inovatif. Seorang yang mampu disiplin menjaga diri, memaksa diri maka ia berpotensi untuk meraih sukses dengan kreatif dan inovatif.
Sedangkan seorang pemuda yang mudah terbawa arus, ikut-ikutan sana-sani, tidak mampu memaksa diri maka sulit untuk menjadi kreatif dan inovatif.
Bertahun-tahun saya menunggu kesiapan teknologi internet di Indonesia. Bulan Februari 2008 saya menilai bahwa internet di Indonesia sudah siap. Saya putuskan (memaksa diri) untuk menulis di internet.
Menulis di internet bukan hal yang mudah. Meski menulis di internet, pekerjaan saya yang lain tetap berjalan seperti biasa. Maka saya memutuskan untuk menulis blog di internet setiap dini hari jam 3 sebelum subuh. Dini hari tentu saja saya belum terlalu sibuk.
Saya juga menetapkan target konsisten. Saya akan menulis setiap hari minimal selama 6 bulan. Setelah 6 bulan, saya akan evaluasi hasilnya.
Pernah suatu ketika saya harus pergi ke Jakarta. Berangkat dari Bandung jam 03.30. Ketika mobil jemputan sampai ke rumah saya, saya meminta untuk menunggu sejenak karena saya sedang menyelesaikan tulisan di blog internet.
Saya dengan sengaja memaksa diri untuk menulis setiap hari selama 6 bulan berturut-turut. Saya dengan sekuat tenaga melakukannya.
Hasilnya?
1. Saya memiliki tulisan yang secara kuantitas sangat besar. Saya yakin dari kuantitas ini pasti muncul kualitas.
2. Saya memperoleh jaringan melalui internet yang berkembang pesat. Hampir dari seluruh pelosok nusantara banyak teman-teman memberi respon positif. Dari belahan dunia sana, Amerika, Eropa, dan Australia teman-teman lama terus memberi support saya. Belakangan ini bahkan teman-teman baru juga bergabung dari manca negara.
3. Buku APIQ 1 saya selesaikan berkat dukungan teman-teman dari internet.
4. Bisnis franchise matematika kreatif APIQ tumbuh pesat melalui internet.
5. Dan masih banyak manfaat lain. Termasuk dukungan google yang menempatkan blog APIQ di urutan halaman pertama dengan beragam kata kunci.
Kekuatan memaksa diri adalah awal dari karya kreatif dan inovatif kita.
Tentu kekuatan memaksa ini harus kita gunakan untuk kepentingan positif. Bila kekuatan memaksa digunakan untuk kepentingan negatif maka sangat berbahaya.
Dari sudut pandang spiritual, kekuatan memaksa ini juga bersumber dari Tuhan Yang Maha Memaksa – untuk kebaikan. Tuhan memaksa tumbuhan untuk tumbuh, memaksa hewan untuk berkembang biak. Semua demi kebaikan bersama dan atas kebaikan Tuhan juga.
Jadi kekuatan memaksa diri yang ada dalam diri kita bukan hal sepele. Kekuatan itu adalah manifestasi dari kekuatan Tuhan Yang Maha Memaksa. Mari kita tumbuhkan dan manfaatkan kekuatan memaksa untuk kebajikan spiritual.
Bagaimana menurut Anda?
Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)