Archive Bulanan: Agustus 2009

Berkarya 2000 Jam Setahun

Untuk menjadi seorang master dalam bidang tertentu kita perlu menekuninya setidaknya selama 10.000 jam. Sebuah angka yang fantastis. Berapa hari atau berapa tahunkah 10.000 jam itu?

Kira-kira setara dengan ketekunan selama 5 tahun.

Anggap 1 hari bekerja 8 jam, 5 hari dalam 1 minggu, dan 50 minggu dalam 1 tahun maka:

8 x 5 x 50 = 2.000 jam dalam 1 tahun.

Angka 2.000 jam setahun ini juga membantu untuk menghitung berapa gaji kita untuk tiap jamnya.

Misal, seseorang memiliki target pendapatan 100 juta per tahun, berapa pendapatan dia per jam?

100 juta/ 2.000 jam = 50.000 per jam.

Apa konsekuensinya?

Pertama, orang tersebut harus menilai bahwa waktu 1 jam setara dengan 50 ribu rupiah. Kehilangan waktu 1 jam karena antri atau lainnya setara dengan hilang uang 50 ribu.

Kedua, pertimbangan delegasi. Bila ada orang lain dapat mengerjakan tugas tersebut dengan tarif 25 ribu per jam maka sebaiknya delegasikan tugas tersebut. Angka 25 ribu per jam juga merupakan angka yang cukup tinggi di Indonesia. Setara 200 ribu per hari, 1 juta per minggu, 4 juta per bulan.

Ketiga, delegasi yang rapi menjadi peluang untuk berbagi. Semakin banyak orang yang mendapat pekerjaan karena delegasi.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Pertama

Tujuannya adalah untuk menjadi takwa.

Meraih surga. Kebun yang sejuk. Mengalir sungai yang bening. Menjadi dambaan orang-orang yang kekeringan.

Di bulan suci dibukakan pintu-pintu surga. Setan-setan terbelenggu.

Tetapi perang dengan hawa nafsu adalah jihad besar.

1. Mengingat nikmat untuk bersyukur.
2. Melaksanakan perintahNya.
3. Memanfaatkan karuniaNya.
4. Memelihara karuniaNya.

Mengabdi kepada sesama, berbuat baik. Dimulai dari keluarga.
Tujuanya untuk meningkatkan takwa.

Fokus Matematika Kreatif Maka Tumbuh

Setelah bertahun-tahun sekolah, bertahun-tahun menjadi guru, akhirnya saya kenal baik dengan matematika. Begitulah matematika: banyak rumus-rumus pasti.

Teori matematika telah berkembang pesat dan matang. Saya sebagai guru matematika, hanya butuh waktu untuk mempelajarinya. Secara bertahap ilmu matematika saya mulai berkembang.

Paman APIQ menantang saya,
“Mengapa tidak kamu ubah fokusmu?”
“Maksudnya?” saya balik tanya.
“Selama ini kamu fokus mempelajari matematika. Bagaimana jika fokus itu kamu ganti dengan meng-inovasi matematika kreatif?”

Tantangan yang bagus!
Semakin saya fokus maka inovasi matematika kreatif semakin berkembang.

Matematika itu tidak mirip dengan prasasti kuno peninggalan masa lalu. Tetapi matematika itu mirip dengan HP: selalu ada inovasi terbaru, khususnya dari matematika kreatif APIQ.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Menyongsong Bulan Suci

Bulan suci mengalir
Dari batin menerobos badan lahir

Selamat berRamadhan
Maaf lahir batin
angger&kel besar APIQ

Berlatih Aritmetika di Bulan Suci

Awal bulan suci ini
Mari berlatih aritmetika lagi
Konsep yang paling dasar
Hanya menambah dan mengurangi

Mengurangi aktivitas jasmani
Menambah aktivitas ruhani

Selamat menjalani bulan suci

Manfaat Matematika dalam Kehidupan Sehari-hari: Kesalahan Soal UN/UASBN SD

Tentu saja saya setuju bahwa matematika bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Saya yakin Anda juga setuju. Paman APIQ juga setuju itu.

Tetapi Paman APIQ mengingatkan bahwa tidak semua matematika itu bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Mungkin saja matematika tidak memiliki sisi praktis dalam kehidupan sehari-hari. Matematika mungkin saja hanya bersifat teoritis saja. Manfaat matematika kadang dapat kita rasakan baru setelah puluhan tahun kemudian.

Saya pernah terkejut ketika membaca kurikulum matematika SD di negeri Indonesia tercinta. Mengapa? Hampir dalam setiap pokok bahasan selalu ada penekanan ” dalam kehidupan sehari-sehari”.

Matematika tidak selalu praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Meski demikian matematika sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari – bahkan kehidupan masa depan.

Soal UN/UASBN SD lebih mengejutkan saya lagi. Mungkin karena ingin menunjukkan matematika “dalam kehidupan sehari-hari” maka dalan UASBN SD 2009 terdapat soal cerita tentang FPB (faktor persekutuan terbesar).

Kira-kira soal UASBN tersebut adalah…

Pak Hadi membagikan 96 kg beras dan 64 bungkus minyak goreng ke para penduduk sampai habis. Bila setiap penduduk menerima bagian sama rata maka berapa penduduk paling banyak yang dapat menerima bantuan dari Pak Hadi?

Pertama, memahami masalah seperti di atas adalah cukup rumit. Meski seperti persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari tapi, kita tahu, bahwa jarang sekali kita menghadapi persoalan seperti di atas.

Kedua, mungkin saja maksud pembuat soal adalah mengarah ke konsep FPB. Tetapi kita juga tahu bahwa FPB (dan KPK)adalah konsep dalam himpunan bilangan bulat positif. Sedangkan 96 kg beras dapat kita bagi-bagi menjadi bilangan pecahan semisal 1/2 kg.

Ketiga, mari kita selesaikan soal di atas dengan menganggap berlakunya konsep FPB.

FPB dari
96 dan 64 adalah 32 (Selesai; karena 32 dapat membagi 96 dan 64)

Jadi jawaban akhir adalah 32 orang atau 32 penduduk sebagai penerima bantuan.

Siswa yang kreatif dapat saja memiliki ide yang lain.
“Mengapa hanya 32 orang? Kita dapat membaginya untuk 100 orang. Masing-masin memperoleh 96/100 bagian dan 64/100 bagian.”

Argumen siswa tersebut masuk akal. Tetapi soal UASBN adalah pilihan ganda. Dalam pilihan jawaban tidak terdapat pilihan 100. Bahkan kita juga dapat membaginya untuk 1000 orang. Bukankah begitu?

Saya setuju soal di atas sebagai latihan soal tetapi bukan soal ujian semacam UASBN.

Bila kita hendak membuat soal matematika tentang FPB maka kita perlu memastikan bahwa kita sedang membicarakan bilangan bulat positif. Paman APIQ selalu menekankan konteks dan batasan-batasan dalam berlatih matematika. Meski pun Paman APIQ sering menyatakannya secara tersirat.

Paman APIQ menyarankan agar mengganti contoh soal di atas dengan sesuatu yang dihitung secara bulat. Contoh komputer, handphone, kalkulator, dan lain-lain.

Jadi contoh soal di atas dapat sedikit kita modifikasi…

Pak Hadi membagikan 96 komputer dan 64 kalkulator kepada penduduk…

Komputer dan kalkulator sudah dengan jelas memastikan berhitung bilangan bulat positif.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Langkah

Meski matahari pagi begitu indah
Suasana hati yang akan memilih
Tergugah atau terserah

Langkah-langkah kecil konsisten
Mengajak untuk meraih mendaki
Menyusuri diri sejati
Mencapai impian tertinggi

Mau Badminton Tapi…

Malam akan berangkat badminton.
Tapi kewajiban lain masih menumpuk.

Jadi?

Lho bukankah badminton juga kewajiban utama?
Hehehe…
Pinter juga cari alasan ya?

Jadi, selamat menikmati hidup sehat, jiwa raga!

Training & Seminar APIQ Oktober 2009

APIQ berkomitmen untuk terus berbagi ilmu demi kemajuan bersama. Mari bergabung dengan berbagai macam forum seminar dan training APIQ.

03 Oktober 2009: Seminar Inovasi Pembelajaran Matematika Kreatif APIQ di Mojokerto, Jawa Timur.

04 Oktober 2009: Seminar Inovasi Pembelajaran Matematika Kreatif APIQ di Malang, Jawa Timur.

10 Oktober 2009: Silaturahmi Keluarga Besar APIQ di Bandung.

17 Oktober 2009: Training Instruktur APIQ Quantum di Jakarta

24 Oktober 2009: Seminar Inovasi Pembelajaran Matematika Kreatif APIQ di Batam.

Mari bersatu, bersama-sama, mencerdaskan kehidupan bangsa…!

*info lebih lengkap sialakan hubungi quantumyes@yahoo.com

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Permainan Matematika Asyik: Bilangan Prima, FPB dan KPK

Masih terngiang di benak saya bahwa anak-anak dan guru sering mengalami kesulitan dalam mengajarkan FPB dan KPK. Bahkan yang lebih mendasar lagi yaitu konsep bilangan prima.

Tentu Paman APIQ memberi saran yang menarik,
“Bagaimana jika kita buatkan mainan dan permainan untuk bilangan prima, FPB, dan KPK?”

Geo langsung memberi usul,
“Pakai saja mino milenium!”

“Betul…! Mino milenium memang dapat kita mainkan untuk bilangan prima, FPB dan KPK.”

Geo mengajak Al, dan Meti bermain mino milenium.

1. Berikan sejumlah mino, misal 8 mino.
2. Susun menjadi segi empat.
3. Dapatkah kamu menyusun segi empat yang lain lagi dan lagi?

“Aku bisa…” teriak Al dan Meti.
“Jadi, 8 bukan bilangan prima.”

Coba lagi…
1. Berikan sejumlah mino, misal 7 mino.
2. Susun menjadi segi empat.
3. Dapatkah kamu menyusun segi empat yang lain lagi dan lagi?

“Tidak bisa…” jawab Al dan Meti.
“Jadi, 7 adalah bilangan prima.”

Mereka asyik bermain-main dengan mino milenium untuk menentukan bilangan prima. Permainan pun berlanjut untuk menentukan FPB dan KPK.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)