Archive Bulanan: Agustus 2009

Bermain Berhitung Kuadrat Meningkatkan Kreativitas Matematika

Meti kecil sangat menyukai permainan berhitung matematika. Bersama Paman APIQ, Meti terus berpetualang dengan matematika kreatif.

Petualangan matematika kreatif hampir selalu diawali dengan berhitung kuadrat dengan satuan 5. Meti sangat menyukai dan bahkan ketagihan dengan berhitung kuadrat ini.

5^2 = 25
15^2 = 225
25^2 = 625
35^2 = ….?

“Aku tahu…” kata Meti.
“Berapa ayo…” tanya Paman APIQ.
“Belakangnya pasti 25.”
“Betul. Depannya?”
“12. Jadi, 1225″
“Betul. Kamu memang hebat!”

“Coba yang ini…” kata Paman APIQ.

65^2 = ….
75^2 = ….
95^2 = ….

Meti dengan riang gembira. Menemukan jawaban contoh soal di atas. (9025, 5625, 4225).

Beberapa bulan berlalu…

Meti memunculkan beberapa soal lagi tentang hitung kuadrat.

105^2 = ….
115^2 = ….
125^2 = ….

Bahkan Meti melanjutkan dengan…

245^2 = ….
255^2 = ….
345^2 = ….
355^2 = ….

Meti menyelesaikan soal-soal di atas hanya dengan bermain terbak-tebakan saja. Tanpa alat bantu, tanpa alat tulis.

Paman APIQ bertanya,
“Bagaimana cara kamu menghitungnya?”

Misal
245^2 = ….

Belakangnya sudah pasti 25.
Depannya 24×25 = 600.

Jadi,
245^2 = 60025 (Selesai).

Meti memang kreatif!

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Peluang Bisnis Franchise: Sukses 97% atau Gagal 62%

Saya terhenyak dengan pernyataan Departemen Perdagangan Amerika. Departemen bergengsi itu menyatakan bahwa tingkat sukses bisnis franchise mencapai 97%. Sedangkan bisnis konvensional tingkat suksesnya adalah 38%.

Beberapa orang menawarkan pilihan:
Pilih sukses 97% dengan sistem franchise atau
pilih gagal 62% dengan sistem konvensional.

Bagi saya sendiri angka sukses bisnis franchise 97% itu terlalu tinggi. Tetapi tidak apa-apa. Justru hal tersebut memotivasi saya untuk lebih tekun mengembangkan bisnis franchise Indonesia: kursus matematika kreatif APIQ.

Pengalaman pribadi saya mengelola bisnis franchise APIQ, memang sangat kecil peluang untuk gagal. Karena setiap ada permasalahan, hampir selalu sudah ada solusinya dari APIQ Pusat, sebagai franchisor. Sehingga APIQ Cabang tinggal mempelajarinya dan mengadaptasinya sesuai kondisi di lapangan masing-maing.

Catatan saya, bagaimana pun franchise tetaplah sebuah bisnis. Kita membutuhkan SDM dengan jiwa pebisnis sejati: optimis, pantang menyerah, open mind, dan lain-lain. Meski dukungan franchisor sangat bagus tetapi bila franchisee tidak siap maka tidak akan diperoleh hasil optimal.

Jadi kerja sama antara franchisee dan franchisor menjadi sangat penting. Saling mendukung, saling bersinergi.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Permainan Matematika Untuk Bayi Sampai Usia Berapa?

Beberapa orang tua kagum dengan kreatif dan inovatifnya permainan APIQ.

“Permainan seperti ini bisa dipakai anak sampai usia berapa?” tanya Pak Yanto.
“Permainan dadu milenium ini dapat dimainkan anak mulai balita sampai…” Paman APIQ tidak melanjutkan.
“Sampai kelas 6 SD ya…” Pak Yanto menyahut duluan.

Lalu,
“Tidak. Bisa untuk anak SMP juga kan? Ini kan dapat kita gunakan untuk memahami konsep volume,” kata Pak Yanto.

“Bukan, bukan…Ternyata bisa juga kita pakai untuk memahami konsep trigonometri. Jadi anak SMA juga dapat memainkannya,” Pak Yanto berpendapat lagi.

“Kalau Pak Yanto suka tidak dengan permainan ini?” Paman APIQ bertanya.
“Suka. O iya… bisa juga untuk orang dewasa dong!?” Pak Yanto menyimpulkan.

Dadu milenium, kubus milenium, mino milenium adalah sebagian tool permainan APIQ yang sangat mengasyikkan. Dengan bermain-main kita menguasai konsep matematika dengan baik.

“Sedang bikin apa kamu, Geo?” tanya Paman APIQ.
“Bagus juga ni Paman. 4 kubus kuning, 4 kubus merah, dan 4 kubus hijau membentuk suatu segitiga,” sahut Geo santai.
“Jadi segitiga apa itu namanya?”
“Segitiga yang panjang sisinya 4 semuanya.”
“Namanya adalah segitiga sama…”
“Sama sisi! Aku sudah tahu Paman.”

“Coba kamu amati, berapa besar masing-masing sudut segitiga sama sisi itu,” perintah Paman APIQ.
“1/3″
“Betul. 1/3 apa?”
“1/3 nya segitiga”
“Satu segitiga memang sudutnya berapa?”
“Berapa ya, Paman ya?”
“E….ditanya malah balik bertanya!”
“Hehehe….siapa dulu gurunya!?”

“Sudut dalam segitiga besarnya adalah sama dengan besar sudut… garis lurus. Ya kan Paman?” Geo sambil bertanya.
“Besar sudut garis lurus adalah … keliling 1/2 lingkaran dibanding jari-jari,” Geo melanjutkan.
“Jadi…” Paman APIQ ingin tahu jawaban akhirnya.
“Jadi…adalah 22/7 atau lebih kerennya sama dengan pi = π”

“Bagus…karena itu segitiga sama sisi memiliki sudut yang besarnya masing-masing adalah…”
“π/3″
“Betul.”

“Orang jaman dahulu menyebut juga besar sudut π = 180 derajat. Karena itu π/3 juga bisa kita sebut sebagai…”
“60 derajat,” Geo menyela.

“Sekarang kamu buat garis lurus yang membagi sudut 60 derajat itu menjadi dua bagian sama besar,” perintah Paman APIQ.
“Siap Bos!” sahut Geo.

“Jadi apa sekarang?”
“Jadi dua segitiga siku-siku Bos!” jawab Geo.
“Berapa besar sudut yang kecil itu?”
“30 derajat Bos!” jawab Geo.
“He…kok tahu kamu?”
“Ya iyalah Bos, 60/2 = 30 derajat.”

“Sekarang perhatikan yang sudutnya 30 derajat.”
“Siap.”
“Berapa panjang sisi depannya?”
“2 Bos.”
“Kok tahu?”
“Tadi segitiga sama sisi. Panjang sisi = 4. Lalu dibagi 2, kan jadi 2?”
“Lalu, berapa pajang sisi miring?”
“4 Bos.”
“Kok tahu kamu?”
“Ini kan sisi segitiga sama sisi yang tadi. Dari tadi juga tetap 4.”
“Bandingkan!”
“Maksudnya Bos?”

“Bandingkan sisi depan/miring, gitu!”
“2/4 Bos.”
“Berapa itu 2/4 ?”
“Setengah Bos atau 1/2,” Meti tiba-tiba menyahut.
“Hehehe…kalian memang anak pintar!”

“Sekarang kalian buat lagi segitiga sama sisi dengan masing-masing sisi panjangnya 6.”
“Sudah selesai Bos,” Al meyodorkon segitiga sama sisi dengan panjang sisi = 6.
“Baik. Buatlah segitiga dengan sudut 30 derajat seperti tadi lalu bandingkan sisi depan/miring.”
“3/6,” jawab Geo cepat.
“1/2,” Meti menimpali.
“Hehehe….” Al cengengesan.

“Buatlah segitiga sama sisi dengan panjang sisi 8. Lalu buat sudut 30 derajat. Berapa sisi depan/miring?”
“4/8,” jawab Geo.
“1/2,” sahut Meti.
“Hua…hahaha…aku tahu…” Al tertawa keras.

“Apa yang kamu tahu Al?” Paman APIQ bertanya.
“Jawabannya pasti 1/2 kan? Ha…ha…ha….” Al tertawa bangga.

Mereka terus bermain bergembira. Paman APIQ kemudian memperkenalkan kepada mereka tentang konsep trigonometri. Mereka langsung paham makna trigonometri sinus, sin 30 derajat. Meski mereka anak-anak SD, bahkan masih berusia 6 tahun, sudah dapat memahami konsep trigonometri yang biasanya baru dipahami pada tingkat SMA atau SMP.

Semua berlangsung dengan riang gembira. Itulah APIQ dan…Paman APIQ.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pediri APIQ)

Bocah Usia 7 Tahun Mampu Menyelesaikan Matematika SMA

Anak-anak memang ajaib. Mereka memiliki dunianya sendiri. Mereka memiliki masanya sendiri. Mereka memiliki cita-citanya sendiri.

Ketika membaca berita di detik.com saya sangat kagum. Bocah Inggris berusia 7 tahun berhasil menyelesaikan soal matematika untuk tingkat SMA atau SMP. Tampaknya anak tersebut mengerjakan soal matematika itu dengan fun juga.

Berita ini bagi saya sangat membantu. Jadi, APIQ tidak sendirian. Beberapa siswa APIQ, usia 6 atau 7 tahun, juga mampu mengerjakan soal-soal tingkat SMA. Siswa-siswa APIQ ini belajar dan bermain matematika kreatif dengan asyik, riang, gembira.

Ternyata ada yang mirip-mirip APIQ di belahan Eropa sana.

Mari kita hadirkan matematika yang asyik, ramah, dan menyenangkan untuk anak-anak kita.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat….
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Sukses, 92% Bisnis Franchise di Indonesia

Saya terus mencari-cari info berapa tingkat kesuksesan bisnis franchise. Awalnya saya sangat senang mendapat info bahwa sukses bisnis franchise mencapai 80%.

Informasi lebih baru menyatakan tingkat kesuksesan bisnis franchise mencapai 90%. Info terakhir yang saya peroleh, tingkat sukses bisnis franchise mencapai 92%. Angka yang sangat tinggi. Angka sukses sampai 92% itu justru terjadi di bisnis franchise Indonesia.

Bagi saya dan APIQ, ini adalah kabar baik. Info di atas menguatkan tekad APIQ untuk terus mengembangkan bisnis franchise kursus matematika kreatif asli karya terbaik anak bangsa Indonesia.

Pertumbuhan franchise impor di Indonesia mecapai 12%. Sedangkan pertumbuhan franchise lokal indonesia hanya 10%. APIQ sebagai produk nasional Indonesia berharap dapat ikut menaikkan pertumbuhan bisnis franchise Indonesia.

Bahkan APIQ juga memiliki visi dan misi, kelak akan meng-export bisnis franchise APIQ.

Mohon dukungan dan kerja sama seluruh warga Indonesia.

Mari kita bangun negeri tercinta Indonesia!

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Banyak Anak Banyak Rejeki, Masihkah Relevan Kini?

Apakah Anda setuju dengan pernyataan yang sangat terkenal:

Banyak anak banyak rejeki?

Saya setuju tetapi tidak setuju.

Apa maksudnya?

Paman APIQ terlihat senyum-senyum saja ketika mendengar saya sedang ngobrol dengan seorang sopir.

“Punya anak berapa Pak?” tanya saya ke pak sopir.
“Alhamdulilah 2 anak Pak,” jawab Pak Sopir.
“Bagus itu.”
“Bener Pak. Dua anak saja biaya sekolah dan lain-lainya sangat berat. Cukup dua saja lah…”
“Memang begitu Pak. Biaya hidup saat ini semakin mahal saja. Tetapi dua anak, menurut saya jumlah yang pas banget. Atau mau nambah lagi?”
“Ah, ya tidaklah!”

Paman APIQ malah cekikikan…

Memangnya ada apa?

“Kamu itu lho…menasehati orang punya anak cukup 2 saja. Kamu sendiri punya anak berapa?” tanya Paman APIQ.
“Itu dua hal yang berbeda,” saya membela diri.
“Hahaha… apanya yang berbeda?”
“Untuk Pak Sopir tadi, memang yang terbaik memiliki 2 anak saja. Sedangkan untuk saya boleh berbeda dong…!”
“Memang anak kamu berapa?”
“Saat ini…baru 5 anak.”
“Ha…ha…ha….” Paman APIQ semakin terbahak-bahak.

Jadi, itulah…saya setuju dengan banyak anak banyak rejeki. Sekaligus saya juga tidak setuju.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Ketujuh

Amalan ibadah puasa.

Ibadah puasa adalah untukKu.

Sholat memiliki mukjizat secara fisik – mencerdaskan.
Wudhu membuat tenang.

Memperkuat akidah.
Sholat adalah doa.

Setetes Air

Terpisah dari samudera
Rindu menyatu dengan samudera

Oh…samudera, terimalah aku kembali

Hai setetes air, sejukkanlah bumi
Tumbuhkan semesta
Datanglah kembali padaku

Oh… apa dayaku hanya setetes air
Meski begitu engkau adalah wakilku
Setetes air mengandung samudera

Bimbinglah aku …
Bersimpuh, bersujud, hanya untukmu

Mendapat Lapar dan Dahaga: Terlalu Semangat Kuliah 3 Jam

Sangat disayangkan bila ada orang yang puasa (shaum) hanya mendapat lapar dan dahaga saja.

Saya hari ini mendapat lapar dan dahaga. Karena terlalu semangat, kuliah selama 3 jam tanpa terasa berlalu. Saya memberikan kuliah dengan energi penuh 100%. Bahkan kadang-kadang 110%.

Baru tersadar ketika usai kuliah. Kok terasa haus? Kok terasa lapar? Ternyata bulan puasa.

Saya terbawa semangat karena mahasiswanya juga bersemangat dalam kuliah 3 jam tersebut. Tampaknya semangat itu mudah menular.

Kuliah yang diikut oleh mahasiswa tingkat akhir SBM ITB tersebut cukup meriah. Bayangkan ada 50 mahasiswa lebih dalam satu kelas. Apalagi minggu depan dan seterusnya…tampaknya akan bertambah jumlah mahasiswa.

Kuliah “Creativity & Innovation” ini juga terbuka bagi mahasiswa ITB selain dari SBM. Bahkan tadi saya lihat juga ada mahasiswa dari Eropa. Ia usul agar pengantar kuliahnya dalam bahasa Inggris. Padahal saya sudah bersusah payah menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia materi demi materi.

Bagaimana pun semuanya sangat menyenangkan.

Belajar mengajar di bulan suci semoga banyak memberi manfaat. Semoga kita dapat lebih banyak beramal shaleh di bulan suci ini.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Pembuktian Rumus atau Penggunaan Rumus Matematika?

Paman APIQ dengan ringan bertanya,

“Lebih penting mana, mengajarkan pembuktian rumus atau penggunaan rumus matematika?”

Bila kita menggunakan logika matematika, maka tentu suatu rumus harus dibuktikan dulu kebenarannya baru dapat digunakan.

Tetapi dalam pembelajaran ke siswa, siapa di antara siswa kita yang menyukai pembuktian rumus?

Misal, rumus segitiga Pythagoras

a^2 + b^2 = c^2,

apakah kita telah memiliki bukti kebenarannya?
Apakah kita mengajarkan ke siswa-siswa cara membuktikan rumus Pythagoras tersebut?

Atau ambil contoh lain, tentang besar jumlah sudut-sudut dalam suatu segitiga selalu = 180 derajat.

Apakah kita memiliki bukti kebenarannya?
Apakah kita mengajarkan ke siswa cara membuktikannya?

Atau ambil contoh lagi yang lebih dasar, tentang FPB dan KPK.
Dulu, kita belajar dengan menggunakan pohon faktor. Setelah selesai membuat pohon faktor maka

FPB adalah perkalian dari seluruh irisan faktor-faktor prima.
KPK adalah perkalian dari seluruh gabungan faktor-faktor prima.

Apakah kita memiliki buktinya?
Apakah kita mengajarkan pembuktiannya?

Saat ini banyak sekolah yang mengajarkan FPB dan KPK dengan pendekatan “sisir” atau “antena”.
Setelah selesai membuat sisirnya maka:

FPB adalah perkalian dari seluruh irisan faktor prima.
KPK adalah perkalian dari seluruh faktor prima.

Apakah kita memiliki bukti kebenarannya?

Jadi lebih penting mana, pembuktian atau penggunaan rumus matematika?