Archive Bulanan: Januari 2009

Mati Muda Tidak Apa-apa

Mengapa harus berumur panjang

Mengapa harus menumpuk dosa

Mengapa harus menunda tercapainya cita-cita

Mati muda tidak apa-apa

Mati muda demi kemanusiaan

Mati muda demi perjuangan

Mati muda demi keadilan

Mati bukan berhenti

Mati adalah baru mulai

Menjalani hidup yang lebih abadi

Mati muda memang …tidak apa-apa

Antrian Lagi, Sia-sia Lagi: Cara Mudah Mengatasinya

Mau lancar?

Antri dong…tulisan besar yang hampir tiap hari saya baca. Tulisan itu berada di tempat yang sangat strategis kota Bandung. Yaitu perempatan Sukajadi – Karang Setra, dekat Setiabudi. Saya sendiri merasa sulit memahami makna tulisan tersebut.

“Apa hebatnya dengan antri?”

Siang tadi saya berencana akan mengantri di dua bank besar Indonesia untuk menjadi nasabah. Tetapi saya membatalkan niat karena antrian di bank besar pertama memakan waktu yang sangat-sangat lama. Saya dapat memahami itu.

Berangkat dari kantor APIQ sekitar 10.30 wib. Ditemani seorang wanita cantik yang sekaligus bos saya di APIQ. Kira-kira 5 menit kemudian sudah tiba di Bank Mandiri Setiabudi, Bandung. Hmmm…penuh perjuangan untuk memperoleh ruang parkir di Bank Mandiri itu. Akhirnya berhasil dapat tempat parkir di bawah terik matahari.

Masuk kantor Bank Mandiri disapa ramah oleh satpam. Diberikan nomor antrian 64. Saya lihat di layar, baru nomor 36 yang sedang dilayani customer service. Sambil nunggu dalam antrian saya ngobrol dengan bos saya yang cantik itu. Lima menit berlalu…10 menit berlalu…kok tetap no 36 yang sedang dilayani? Setelah itu baru berganti nomor antrian 37. Kapan nomor 64 milik saya akan dilayani? Pasti masih lama!

Akhirnya kami putuskan untuk meninggalkan Bank Mandiri. Masih ada tugas lagi yang cukup memakan waktu: cuci mobil. Kami mampir ke tempat cuci mobil yang ada di jalan setiabudi juga. Untung tidak banyak antrian. Mobil kami langsung dapat layanan: dicuci. Toh…proses cuci mobil juga lumayan lama. Sambil menunggu kami cari makan siang. Terasa nikmat banget makan siang waktu itu. Entah karena makanannya yang enak atau karena yang menemani saya adalah orang spesial.

Kira-kira satu jam kemudian, cuci mobil beres, sudah makan siang lagi, kami kembali ke Bank Mandiri. Tiba ke kantor Bank Mandiri kira-kira menjelang pukul 13. Saya lihat di layar, nomor antrian 60 sedang dilayani oleh customer service. Tepat sekali, tidak lama kemudian nomor urut saya 64 akan segera mendapat giliran dilayani.

Tidak ada yang salah dalam proses mengantri di atas. Bagaimana menurut Anda?

Di tempat lain juga terjadi banyak antrian kan? Jadi, apa yang terjadi di Bank Mandiri setiabudi adalah wajar-wajar saja.

Tetapi saya punya pengalaman tentang antrian yang tidak wajar.

Mobil sudah waktunya service berkala. Antrian untuk service mobil tentu saja bisa lebih panjang dariĀ  customer service sebuah bank. Bagaimana Toyota Astra Auto 2000 mengatasi antrian ini?

Di Auto 2000 Pasteur, banyak tulisan: Hindari Antri! Booking waktu service Anda.

Siang itu saya telepon Auto 2000 Pasteur, sekitar pukul 12.30 wib. Dapatkah saya dibookingkan service pukul 15.00 wib? Petugas Auto 2000 kemudian mencek jadwal – mungkin. Lalu memberi informasi kepada saya 15.00 sudah fullbook. Saya tidak dapat dilayani di waktu itu. Lalu petugas menawarkan, bagaimana jika pukul 14.00 wib?

Saya masih punya beberapa pekerjaan. Waktu tempuh tempat saya ke Pasteur sangat mepet bila harus tiba sebelum 14.00 wib. Setelah saya timbang-timbang, saya putuskan saya ambil booking jam 14.00 wib. Segera saya bereskan beberapa pekerjaan saya yang tersisa. Lalu ngebut menuju Auto 2000 Pasteur. Tiba di Pasteur sekitar pukul 13.30 wib langsung dilayani oleh petugas Auto 2000.

Tidak perlu mengantri sama sekali.

Luaar….biasa!

Salut untuk Toyota Astra Auto 2000.

Saya pikir, sebaiknya kita juga belajar hal-hal yang baik dari pihak lain. Perbankan juga bagus bila mau belajar dari industri otomotif. Polisi lalulintas juga bagus bila belajar dari pengalaman semacam ini.

Bagaimana dengan Anda?

Salam hangat…

(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Cara Jenius Berpikir Gaya Einstein

Kira-kira 5 tahun yang lalu saya menemukan buku yang menjawab rasa penasaran saya. Saya tidak ingat pasti apa persisnya judul buku itu. Entah siapa yang meminjam buku itu dari perpustakaan saya dan belum dikembalikan, saya kurang jelas juga. Tetapi saya masih ingat inti dari buku itu.

Buku itu membahas bagaimana berpikir seperti Enstein berpikir. Nah… inilah yang saya cari-cari. Bukan hanya membaca buku itu tetapi saya sudah mencoba menerapkan ajaran buku itu. Hasilnya memang mengagumkan. Saya bahkan sudah berbagi pengalaman dengan banyak teman. Tentu saja, di APIQ, kami banyak menerapkan cara berpikir jenius gaya Einstein ini.

Berikut ini adalah empat langkah berpikir jenius gaya Einstein:

1. Mengenali dan memilih masalah dengan tepat.

2. Mengenali beragam pola.

3. Melanggar aturan.

4. Merumuskan solusi yang paling tepat.

Tampaknya, langkah nomor 3, melanggar aturan, adalah langkah yang paling kontroversial.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…

(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Menghitung Luas Segitiga

Anda hafal rumus untuk menghitung luas segitiga?

Semoga ingat.

L = 1/2 x a x t

L = Luas segitiga

a = alas segitiga

t = tinggi segitiga

Tetapi rumus di atas cukup merepotkan bagi pemula. Bagaimana agar lebih mudah?

Kami di APIQ memperkenalkan konsep luas segitiga adalah kelanjutan dari luas persegi panjang. Siswa APIQ akan melihat sebuah segitiga adalah setengah dari persegi panjang. Sehingga rumus luas segitiga menjadi:

L = 1/2 x p x l

Karena siswa APIQ sudah akrab dengan istilah panjang x lebar maka luas segitiga di atas menjadi sesuatu yang masuk akal dan mudah mereka pahami.

Tentu saja, setelah para siswa mahir, kita perlu kenalkan rumus setengah alas kali tinggi. Bahkan kita juga perlu memperkenalkan konsep trigonomotri untuk menghitung luas segitiga seperti L = 1/2 ab SinC.

Bagaimana menurut Anda?