Dampak Aritmetika Jari, Sempoa, atau Jarimatika

Saya selalu berusaha untuk berpikir positif dalam segala hal. Tetapi saya harus siap menghadapi suatu risiko dengan lambat. Kadang sangat terlambat. Tampaknya saya harus lebih waspada dan siaga. Berpikiran positif tetap penting, saya yakin itu.

Misalnya dalam menyikapi pengajaran aritmetika (aritmatika) dasar. Saya biasanya mengijinkan orang tua untuk mengajari anaknya apa saja asalkan anaknya fun, gembira, semangat tentangnya. Di belakang hari, masalah bisa muncul sewaktu-waktu.

“Mas, sebaiknya apakah anak saya, saya daftarkan ke sempoa?”

“Jika anaknya memang menyukainya silakan mendaftar. Bila tidak ya jangan. Menurut saya sih, sebaiknya jangan mendaftarkan anak Ibu ke sempoa. Tetapi terserah Ibu dan anaknya.”

Di belakang hari, ketika anak yang kursus sempoa itu mendapat masalah. Saya yang harus ikut membantu. Butuh perjuangan ekstra keras untuk membantunya. Mengapa?

Karena sempoa mengganti logika/nalar aritmetika (aritmatika) dasar menjadi sebuah proses mekanis menggerak-gerakkan biji sempoa. Akhirnya nalar aritmetika anak itu tidak berkembang. Meski anak itu pernah juara lomba sempoa – bisa berhitung penjumlahan dengan sangat cepat sampai ribuan – tetapi tidak menjamin adanya perkembangan nalar aritmetika.

Ketika ia menemui soal 8 + 3 = ….

dan ia lupa proses yang diperlukan untuk menggerakkan biji sempoa, mandeglah dia. Kita coba alternatif menghitung pakai jari pun tetap susah.

Bagaimana dengan Jarimatika?

Saya berharap banyak Jarimatika jauh lebih baik dari sempoa. Tetapi jika prinsip Jarimatika adalah menggantikan biji-biji sempoa dengan jari maka tidak akan banyak perbedaan dengan sempoa.

Kami di APIQ mengenalkan sempoa tangan – kami menamainya sebagai sempoa tangan sebelum mengenal istilah Jarimatika – kepada anak-anak yang sudah matang nalar aritmetikanya. Bagi mereka, sempoa tangan – atau jarimatika – menjadi sebuah alternatif alat hitung yang menarik. Sempoa tangan ini tidak pernah menggantika posisi nalar aritmetika. Apalagi nalar matematika. Seperti kita ketahui, matematika jauh lebih luas dari sekedar aritmetika.

Bahkan perhitungan pakai jari biasa pun, dapat memperlambat proses nalar aritmetika anak-anak.

“Berapa 4 + 3 ?”

4 di kepala, 3 di tangan. Habis 4? …5…6…7.

Sepertinya tidak ada yang salah kan?

Tapi saya menemukan banyak anak bermasalah dengan cara mengajar seperti itu. Bahkan ketika anak sudah mulai besar, sampai kelas 4 SD, masih tergantung dengan tangannya. Anak itu sudah lancar menghitung perkalian dan beragam penjumlahan. Tetapi bila ia bertemu hitungan 6 + 8, ia akan masih tergantung dengan jarinya.

Tugas saya lagi, tim APIQ maksud saya, untuk membantunya. Dengan pendekatan khusus dapat membantu anak itu untuk lebih mendaya-gunakan kekuatan imajinasi.

Apa solusi terbaik?

1. Gunakan lidi. Seperti kita waktu masih kecil dulu berhitung memanfaatkan lidi. Sejauh ini saya tidak menemukan efek negatif dari lidi. Mungkin, lidi kurang menarik karena monoton. Cobalah mewarnai lidi dengan warna-warna yang cemerlang. Saya yakin akan lebih menggugah minat anak.

2. Gunakan kelereng. Kelereng jauh lebih menarik.

3. Gunakan Onde Milenium. Tentu sangat menarik. Segaimana siswa-siswa APIQ memanfaatkannya. Bukan hanya untuk nalar aritmetika. Tetapi Onde Milenium juga mengajak anak-anak untuk kreatif.

4. Gunakan Dadu Milenium. Ini juga menakjubkan. Siswa-siswa APIQ mengidolakannya. Belajar konsep aritmetika dengan fun dan kreatif.

5. Dan lain-lain.

Salam hangat…

(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Lebih lanjut tentang logika aritmetika dan aritmetika jari silakan baca tulisan saya yang berjudul: Hebatnya Jarimatika.

About these ads

22 responses to “Dampak Aritmetika Jari, Sempoa, atau Jarimatika

  1. salam

    waduh saya dari sejak berumur di ajar matematika
    tapi masih belleuit juga pak ………
    moga-moga anak saya bisa mengikuti apa yang menjadi kemajuan dunia Modern ini

    selamt hari raya idul fitri
    minal aidin walfa idzin
    mohon maaf lahir bathin

  2. maf saya mau brkomentar lbih lanjut.
    dalam proses pembelajaran anak saya sempat bingung saat mengajarkan penjumlahan dan pengurangan di atas 10. Smpat terpikir menggunakan lidi atau sejenisnya.
    Tetapi terpikir lagi oleh saya seandainya ujian di sekolah kan tidak boleh menggunakan lidi bagaimana dia akan menghitung. akhirnya saya cari jalan lain untuk dia memecahkan masalah itu. thx.

  3. setuju,
    pada awalnya anak berlatih dengan alat bantu.

    kemudian hari anak perlu berlatih memanfaatkan imajinasinya tanpa alat bantu.

    APIQ memfasilitasi kedua proses di atas.

    Terima kasih UUT,
    di Solo kami belum buka cabang APIQ.
    Bila ada yang berminat, kami siap support sepenuhnya.

  4. Ping-balik: Hebatnya Jarimatika: Mengembangkan Logika Aritmetika/Matematika « APIQ: Matematika Kreatif Aritmetika Quantum·

  5. Ping-balik: Geomatika: Geometri dalam Matematika « APIQ: Matematika Kreatif Aritmetika Quantum·

  6. Ping-balik: Onde Milenium APIQ Dimensi 2 « APIQ: Matematika Kreatif Aritmetika Quantum·

  7. Saya sangat setuju dengan pendapat bapak, ini didapat dari pengalaman pribadi saya sendiri ketika mengajari anak mengenai penjumlahan dan pengurangan dengan menggunakan jari. Anak mulai timbul kesulitan ketika penambahan dan pengurangan tersebut diluar nalar jarinya, misal seperti 7 + 5 atau 12 – 5 dia jadi kesulitan untuk penalarannya. Jadi metoda pengajaran dengan jari sedikit demi sedikit saya usahakan dikurangi tetapi diganti dengan gabungan berbagai cara pembayangan logika matematikanya saja. Lumayan sedikit ada kemajuan walaupun tidak banyak tetapi setidaknya saya berharap si anak tidak tergantung dengan jarinya saja…atau mungkin bapak punya saran untuk anak saya tersebut (sekarang masih duduk dikelas 3 SD). Terima kasih.

  8. Mas angger(biar lebih akrab saja) saya tertarik dengan keberadaan APIQ . Saya juga ingin buka lembaga kursus matematika dengan ilmu jarimatika mandiri. Saya sudah cobakan ke anak saya yang masih berusia 6 th. Sekarang masih dalam tahapan persiapan semuanya. Sepertinya saya juga harus ngintip APIQ untuk sekedar sharing. Gimana? semoga ini bisa membuka jalan silaturahmi. Thank U if U take me attention

  9. saya tidak setuju dengan pendapat metode aritmatika akan membuat anak terbatas dalam pengembangan aritmatika nya. saya lebih berpendapat bahwa stiap bidang ilmu yang di gali dengan sungguh2 dan tidak stengah2. maka akan menciptakan hasil yang luar biasa.

  10. Salam Bu Ima,

    di tulungagung ada perwakilan APIQ.
    Di Blitar belum ada.
    Tapi kalau ada yang minat buka APIQ di Blitar kami siap mendukung sepenuhnya.

    Terima kasih…

  11. Akan sy cb baca n pahami ttg onde milenium. Anak sy ikut les jarimatika, dan hslnya memuaskan. Walau ????? masuk ranking 10 besar, yg t’penting dia paham benar soal cerita dlm matematika. Trima ksh ????? ????? berbagi….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s