Namamu, Namaku, Apalah Artinya?

”Mana Angger?”
”Katanya disiplin. Diundang jam 9, kok belum datang sampai sekarang?”

Kakak-kakak kelasku itu mengecek daftar hadir. Mereka mencari nama Angger. Tetapi tidak tertulis di daftar hadir. Saya sendiri duduk di dekat mereka menunggu kapan acara dimulai.

Seorang kakak kelas yang lain datang menghampiri mereka.
”Ada apa?”
”Angger yang kamu ceritakan hebat itu, sampai sekarang belum datang.”
”Lha itu anaknya sudah duduk di dalam.”
”Ha…? Tapi di daftar hadir ia belum terdaftar.”
“Ya memang tidak ada di daftar hadir yang namanya Angger. Nama dia adalah Agus Nggermanto!”

Pertemuan itu adalah dalam rangka pembentukan pengurus baru koperasi sekolah. Diam-diam beberapa kakak kelas telah mempromosikan Angger sebagai calon pengurus baru. Memang saat itu saya terpilih menjadi pengurus baru koperasi sekolah. Ini adalah pengalaman saya awal-awal bersentuhan langsung dengan korupsi. Memang sulit mendefinisikan korupsi – blurr. Apalagi memberantasnya, pasti sulit. Butuh perjuangan ekstra.

Tidak banyak orang yang memanggil nama saya Angger. Mula-mula hanya Bapak saya – almarhum – yang memanggil saya dengan Ngger – tanpa awalan A. Sedangkan orang lain biasa memanggil saya Gus atau Agus.

Ketika SMP, mulai banyak teman-teman yang memanggil saya dengan Ngger atau Angger. Di kelas 2 SMP, ada sekitar lima orang yang memiliki nama depan Agus. Bu Sri, guru Bahasa Indonesia saya yang tercinta, suka memanggil siswa sesuai urutan absen.

“Agus Bud…?”
“Hadir Bu!”
“Agus Kar…?”
“Hadir Bu!”
“Agus Ngger…?”
“Hadir Bu!”

Akhirnya teman-teman sekelas mulai memanggil saya dengan Angger. Karena jika mereka memanggil dengan nama Agus, akan ada lima Agus yang menghampiri. Awalnya hanya teman sekelas. Tetapi nama beken Angger jauh lebih cepat terkenal dari pada nama formal Agus Nggermanto. Meski pun saya selalu memperkenalkan diri sebagai Agus tetapi satu SMP itu lebih mengenal saya sebagai Angger. Sebuah nama panggilan yang mengingatkan saya kepada ayah tercinta. Salam dan doa untuk ayah…

Jauh sebelum Agym (KH Abdullah Gymnastyar) tersandung dilema poligami, ia mengenal saya sebagai Ibnu. Bahkan masa itu sebelum Agym terkenal di Indonesia. Agym masih belum sering muncul di layar televisi. Saya sering aktif di DT (pesantrennya Agym) dengan membuat berbagai macam tulisan, artikel, makalah, modul pelatihan, dan lain-lain. Dalam setiap tulisan saya memperkenalkan diri sebagai Ibnu Abdul Fattah. Sebuah nama pena yang berbeda dengan nama asli saya. Tetapi artinya sama.

Ibnu Abdul Fattah artinya adalah anaknya Abdul Fattah. Memang saya adalah anaknya Abdul Fattah. Demi menghormati atas jasa-jasa ayahku, saya memakai nama ayah sebagai nama penaku. Tetapi Agym memanggilku dengan nama Ibnu Abdul Fattah juga di pertemuan langsung tatap muka. Seluruh pesantren akhirnya lebih mengenalku dengan nama Ibnu dibanding nama lain.

Di DT jangan menanyakan nama Agus Nggermanto. Mereka tidak akan mengenalnya. Tetapi tanyakan tentang Mas Ibnu atau Mas Ibnu Quantum Abdul Fattah, akan banyak santri yang mengenalnya. Khususnya santri-santri senior.

Masih karena rasa cinta saya kepada ayah, saya memberi nama anak lelaki saya dengan nama Abdul Fattah. Anak saya, Abdul Fattah, sering mengingatkan saya kepada almarhum kakeknya. Dan dia sangat bangga dengan nama Abdul Fattah.

Akhir-akhir ini, beberapa orang tua siswa lebih mengenal saya sebagai Mas APIQ atau Pak APIQ. Nama baru lagi bagi saya. Ditambah lagi, dalam dunia blogging banyak yang menyapa saya juga dengan sapaan Mas APIQ atau Pak APIQ. Saya pikir sebuah nama yang apik juga ya…?

Saya sendiri memilih nama metode pembelajaran matematika kreatif yang saya tekuni dengan nama APIQ. Nama APIQ mengandung banyak makna, banyak sejarah, dan banyak pengharapan. APIQ dalam bahasa Sunda bermakna sebagai sesuatu yang rapi, tertata, ter-manage. Dalam bahasa Jawa, APIQ bermakna bagus, hebat, menjadi idaman. Dalam bahasa Inggris APIQ bermakna sebagai sebuah puncak – a peek.

APIQ sendiri berasal dari singkatan Aritmetika Plus Inteligensi Quantum. Yang masing-masing kata penyusun di atas memiliki makna tersendiri.

Bagaimana dengan nama Anda?
Bagaimana pendapat Anda?

Salam hangat…

(aNgger: agus Nggermanto; Pendiri APIQ)

About these ads

5 responses to “Namamu, Namaku, Apalah Artinya?

  1. Nick/Id saya di blog/ym lebih dikenal dengan gajah_kurus. Beberapa teman pernah bertanya, “Kenapa id nya gajah_kurus, tidak gajah gemuk?” :-D Ah ini mah sekedar id/nick, yang dibuat sekira tahun 2000-an. Waktu itu sempat bingung buat id untuk email di yahoo. Awalnya mau pake nama asli, tapi sudah banyak yang pake. Padahal saya ingin nick/id yang benar-benar belum ada satu pun yang pake. Coba dengan id gajah ternyata sudah ada yang pake juga, ya sudah ditambahin kurus, jadinya gajah_kurus sampai hari ini. :-D

  2. Kalau ada anak, namanya sama dari 1 orang Ibu, misalnya Angger tapi ada empat.

    Ibu akan senang ketika perlu datang semuanya, dia tinggal manggil satu nama ‘Angger’.

    Gimana kalau perlu salah satunya saja, tidak sulit juga. Panggil saja nama Bapak mereka masing-masing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s