Kreatif Menebak Pikiran Orang

Setiap anak terlahir kreatif bahkan jenius. Ciri kreatif seorang anak adalah dia berpikir dengan cara yang berbeda dengan orang lain. Tetapi nasib kreativitas anak tidak akan bertahan lama. Sejak ia masuk sekolah, sedikit demi sedikit kreativitas ini terkikis nyaris habis. Seorang anak harus berpikir secara seragam sama persis yang dipikirkan oleh gurunya. Jika tidak sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya, ia berhak memperoleh hukuman.

 ”Apa pendapatmu jika pohon-pohon di hutan ditebangi?” pertanyaan tertulis dari guru.

”Hutan akan rusak dan mengakibatkan tanah longsor,” jawab seorang siswa di buku tulisnya.

Salah. Itulah penilaian gurunya. Jawaban yang benar adalah mengakibatkan banjir,munurut gurunya. 

”Apa tanda-tanda akan turun hujan?” pertanyaan dari guru.

”Langit gelap dan banyak petir,” jawab siswa.

Salah. Jawaban yang benar adalah mendung. Bukan yang lainnya. 

Saya diskusi dengan anak itu yang usianya belum genap 8 tahun. Menurut saya anak itu kreatif. Dia bisa bercerita banyak tentang ilmu alam. Dia suka baca buku serial dari time life. Dia secara kritis menilai berbagai macam isi buku. Dia juga menunjukkan beberapa puisi karyanya yang orisinal. 

Ketika saya tanya tentang pelajaran, ia menjadi agak tegang. Dia menjawab dengan ragu-ragu. Dia takut jawabannya akan salah. Dia takut kalau-kalau saya menyalahkan jawabannya. Tampaknya pelajaran menjadi sesuatu berisiko tinggi baginya. Saya alihkan pertanyaan ke arah buku yang suka ia baca,”Berapa lama umur seekor binatang sampai ia akhirnya mati?”Dia menjawab denga penuh semangat. Semut dan beberapa jenis serangga berumur sampai 30 hari. Nyamuk hanya 3 hari. Kucing berumur sampai 12 tahun. Gajah sampai 50 tahun atau lebih dan seterusnya dan seterusnya….Dia menjelaskan umur binatang-binatang itu lengkap dengan cara hidup binatang tersebut. Saya kagum. Anak ini memang kreatif.

Tetapi anak ini mandeg kreativitasnya bila di kelas sekolah. Karena gurunya hanya menghakimi sebuah jawaban tunggal tanpa pilihan. Saya berpikir keras bagaimana caranya agar anak ini tetap kreatif baik di luar atau di dalam kelas. Saya ingin dapat membantu membangun rasa percaya dirinya di dalam kelas. Saya katakan padanya bahwa dia anak yang pandai. Dia banyak memahami tentang ilmu alam. Tapi mengapa di sekolah sering disalahkan jawabannya? 

Saya jelaskan kepadanya bahwa di sekolah dia hanya perlu sekedar main tebak-tebakan. Saya tanya apakah ia suka main tebak-tebakan. Pasti. Dia memang suka. ”Jika tebakanmu benar, apakah kamu bergembira?” tanya saya.”Ya senanglah…” katanya.”Jika tebakanmu salah, apakah kamu kecewa?””Tidak. Tinggal menebak lagi kan…?”  Lalu saya mulai mejelaskan permainan tebak-tebakan yang selalu berlangsung di sekolahnya. ”Apa yang ada dalam pikiran gurumu bukanlah satu-satunya jawaban yang benar. Saya lihat kamu memberi jawaban yang juga benar. Tetapi jawaban kamu berbeda dengan jawaban gurumu. Gurumu berpikir jawabanmu salah. Padahal jawabanmu benar. Hanya berbeda. Jadi permainannya adalah menebak apa jawaban yang sedang dipikirkan oleh gurumu. Bukan masalah benar atau salah jawabanmu. Tetapi masalah cocok atau tidak dengan pikiran gurumu.” 

Anak itu tampak berpikir. Perlahan-lahan ia mulai menyimpulkan bahwa sekolah itu tidak perlu terlalu tegang. Semacam tebak-tebakan pikiran, saya tegaskan. Sejak saat itu, dia mulai menyukai sekolah kembali – sekedar untuk tebak-tebakan. 

Dalam beberapa kesempatan training saya minta beberapa peserta memilih tiga angka secara acak. Biasanya saya minta 3 orang atau 5 orang untuk memilih 3 angka yang paling mereka sukai secara acak. Lalu saya tebak jumlah dari seluruh angka yang mereka pilih ditambah berbagai angka acak yang lain. Hasilnya adalah angka acak yang dipilih oleh salah satu peserta dengan ditambah atau dikurangi 2. Ah…mana mungkin? Kemudian kita melakukan pengecekan bersama. Apakah benar tebakan yang saya berikan. Setelah dicek, memang benar. Biasanya peserta meminta untuk diulangi dengan angka acak yang berbeda. Lalu saya tebak jawabannya. Benar lagi. Kami bergembira saja bermain tebak-tebakan ini. 

Tebak-tebakan memang mengasyikkan. Einstein mengatakan bahwa imajinasi lebih penting dari pengetahuan. Tampaknya karena Enstein sering menggunakan imajinasinya untuk menebak berbagai macam ilmu pengetahuan, ia berkesimpulan imajinasi lebih penting. Tebakan Einstein yang fenomenal adalah tentang efek fotolistrik. Saat itu para pakar matematika tidak mampu memecahkan dilema fotolistrik. Berbagai rumus fisika dan matematika tidak menyelesaikan dilema. 

Einstein yang masih berumur 20-an menebak bahwa dilema fotolistrik itu dapat diselesaikan dengan pendekatan Max Planck. Einstein menebak bahwa foton (cahaya) memancar dalam bentuk paket-paket foton. Bukan dalam bentuk kontinyu. Dengan demikian perlu paling tidak energi yang setara dengan satu paket foton agar menghasilkan pancaran foton. Satu paket foton paling kecil ini dikenal sebagai satu quanta – atau lebih umum dikenal quantum. Max Planck, ahli fisika paling hebat saat itu, tidak setuju dengan tebakan Einstein. Ia tidak rela kalau rumusnya dipakai Einstein dengan begitu saja. Bahkan Einstein tampaknya tidak memahami rumus Planck dengan baik. Memang Einstein menebak rumus Planck dapat ia gunakan dengan cara berbeda. 

Waktu yang membuktikan siapa yang benar. Einstein berhasil meraih penghargaan nobel fisika atas tebakannya yang ternyata lebih benar. Penentang Eisntein pun akhirnya meraih pegnhargaan nobel karena ketika ingin membuktikan kesalahan tebakan Einstein mereka malah membuktikan kebenaran teori Einstein. Teori fotolistrik Enstein ini menjadi cikal bakal lahirnya fisika quantum. 

Belajar matematika, wajar saja bila dilakukan sambil tebak-tebakan. Di APIQ, saya banyak mencoba menyusun berbagai macam pembelajaran matematika sebagai tebak-tebakan. Menghitung kuadrat dan akarnya biasanya menjadi fovorit tebak-tebakan. Setelah menguasai kuadrat, siswa APIQ saya ajak masuk ke kubik dan akar pangkat tiga. Ketika saya sampaikan dalam bentuk tebak-tebakan, siswa sangat menyukai akar pangkat tiga. Dan masih banyak lagi permainan dalam tebak-tebakan matematika APIQ. Salah satu permainan idola saya adalah super marble. 

Mari kita nikmati hidup dengan menebak-nebak. Semoga tebakan kita membuahkan hasil yang istemewa seperti Einstein. Semoga sukses!  

(agus Nggermanto; pendiri APIQ) 

APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum.

About these ads

2 responses to “Kreatif Menebak Pikiran Orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s